Kisah Sultan Terkaya Sumatra yang Rumahnya Dirampok Massa
INSIDERINDONESIA.COM — Bayangkan punya 13 mobil limosin dan dua kapal pesiar pribadi di era 1940-an. Itulah keseharian Sultan Mahmud dari Kesultanan Langkat, yang disebut-sebut sebagai penguasa terkaya di Sumatra Timur kala itu. Namun, kemewahan yang dibangun di atas pendapatan minyak bumi ini justru menjadi bumerang ketika gejolak sosial meledak.
Dari Royalti Minyak hingga Hidup Bergelimang Harta
Kekayaan Kesultanan Langkat bukan isapan jempol. Sumber utamanya datang dari penemuan minyak bumi di Telaga Said, Pangkalan Brandan, pada masa pemerintahan Sultan Musa (1840-1893). Kehadiran perusahaan Belanda, Royal Dutch Petroleum, mengubah kawasan itu menjadi salah satu pusat pengolahan minyak terbesar di Sumatra.
Dari sinilah Sultan Langkat mendapat pemasukan tetap sekitar US$3.000 per tahun. Belum lagi tambahan dari perkebunan tembakau dan hasil hutan. Pada 1931, pendapatan pribadi Sultan Mahmud dari royalti minyak saja mencapai 472.094 gulden—jauh di atas Sultan Deli dan Serdang yang hanya sepertiganya.
Uang sebanyak itu dipakai untuk mengadopsi gaya hidup modern ala orang Belanda. Mulai dari cara berpakaian, kebiasaan, sampai selera makan. Istana megah dibangun, kapal tanker dibeli, dan koleksi kendaraan mewah pun bertambah.
Kesenjangan yang Menjadi Bom Waktu
Sementara keluarga kerajaan berpesta pora, mayoritas rakyat hidup dalam kesulitan. Jarak sosial yang menganga ini memicu sentimen anti-bangsawan yang terus membara. Saat Indonesia memasuki masa revolusi pasca-kemerdekaan, kemarahan itu akhirnya meledak.
Revolusi Sosial 1946 menjadi titik nadir kejayaan Langkat. Istana Darussalam, kediaman Sultan Mahmud, digeruduk massa. Bangunan megah itu porak-poranda dan harta benda keluarga kerajaan dijarah habis-habisan. Sejumlah bangsawan bahkan ditangkap dan mengalami kekerasan.
Dua tahun berselang, Sultan Mahmud menghembuskan napas terakhirnya pada 1948. Kejayaan Kesultanan Langkat sebagai salah satu kerajaan terkaya di Nusantara pun perlahan padam.
Pelajaran dari Reruntuhan Istana
Kisah ini jadi pengingat bahwa kemewahan tanpa pemerataan bisa menjadi racun sosial. Ketika simbol kekayaan berbanding terbalik dengan kesejahteraan rakyat, amarah publik bisa meledak kapan saja.
Meski masa itu sudah berlalu, jejak kejayaan Langkat masih bisa dilihat dari sisa-sisa arsitektur istana dan catatan sejarah yang tersimpan. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita membaca ulang masa lalu ini sebagai refleksi: bahwa pembangunan dan kemakmuran hanya bermakna jika dirasakan bersama.