Hands-on Evercade Nexus: Handheld Retro Rp 3,2 Juta yang Jujur Soal Koleksi Fisik
INSIDERINDONESIA.COM — Evercade Nexus bukanlah konsol untuk semua orang. Ia datang di tengah gempuran handheld modern seperti Steam Deck OLED dan ROG Ally yang menawarkan pustaka game AAA, tapi memilih jalur yang lebih sempit: menjadi mesin nostalgia yang serius. Setelah memegang langsung perangkat ini dan berbincang dengan Sean Cleaver, Head of Marketing Blaze Entertainment, saya menemukan bahwa daya tarik utamanya bukan pada spesifikasi, melainkan pada filosofi kepemilikan game itu sendiri.
Desain dan Layar: Fokus pada Kenyamanan Bermain Klasik
Dengan layar IPS 5,89 inci, Nexus menjadi handheld Evercade dengan layar terbesar. Panelnya sangat terang — cukup untuk dimainkan di bawah sinar matahari langsung. Saya mencoba Banjo-Kazooie Double Pack yang sudah termasuk dalam paket penjualan, dan area Spiral Mountain dengan nuansa hijaunya tampak tajam dan kaya warna.
Yang lebih penting adalah D-pad-nya. Ini elemen krusial karena mayoritas game di ekosistem Evercade lahir dari era sebelum analog stick ada. Kabar baiknya, D-pad Nexus terasa presisi dan taktis. Tombol trigger-nya terasa agak lembek, tapi itu satu-satunya keluhan ergonomis yang saya temukan selama sesi hands-on.
Dual Analog Stick: Sebuah Lompatan Besar untuk Evercade
Ini adalah handheld Evercade pertama yang memiliki dual analog stick. Kehadirannya bukan sekadar gimmick — ini membuka akses ke game-game era PlayStation dan Nintendo 64 yang sebelumnya tidak nyaman dimainkan di perangkat Evercade lain. Bodi hitamnya yang matte terasa kokoh dan tidak mencolok, berbanding terbalik dengan desain Super Pocket yang lebih ramah anak.
Perpustakaan Game: Lebih dari Sekadar Nostalgia
Nexus kompatibel dengan lebih dari 70 cartridge Evercade yang sudah beredar, total lebih dari 700 game. Koleksinya mencakup kompilasi dari Atari, Interplay, Namco, hingga paket khusus franchise seperti Tomb Raider, Doom, dan Duke Nukem. Menariknya, Evercade juga merilis game indie modern bergaya retro seperti Full Void dalam bentuk fisik.
Koleksi Fisik di Era Digital: Keunggulan yang Tidak Bisa Ditawar
Di tengah kabar Sony yang berhenti memproduksi disc fisik, Evercade Nexus berdiri sebagai antitesis. Setiap cartridge yang Anda beli berisi game utuh — tanpa unduhan, tanpa lisensi digital yang bisa dicabut. Anda bisa meminjamkannya ke teman, menjualnya, atau menyimpannya sebagai koleksi. Ini adalah nilai jual yang sangat kuat untuk segmen tertentu.
Fitur Modern dan Baterai: Cukup untuk Sesekali Online
Nexus mendukung Wi-Fi 6 dan headphone nirkabel, tapi fungsinya terbatas. Ini bukan konsol online; konektivitasnya hanya untuk pembaruan sistem dan fitur-fitur tambahan. Baterainya diklaim bertahan sekitar lima jam — lebih baik dari Switch 2, tapi masih kalah jauh dari Steam Deck jika berbicara game berat.
Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan
- Trigger lembek: Kurang memuaskan untuk game yang butuh respons cepat.
- Harga premium: USD 199 (sekitar Rp 3,2 juta) tergolong mahal untuk perangkat yang hanya memutar game retro.
- Target pasar sempit: Tidak akan menarik gamer muda yang terbiasa dengan grafis AAA dan layanan online.
- Belum ada info resmi Indonesia: Ketersediaan dan harga lokal masih belum jelas.
Verdict Awal: Spesialis, Bukan Generalis
Evercade Nexus adalah perangkat yang sangat jujur dengan identitasnya. Ia tidak mencoba menjadi konsol serba bisa. Ia dirancang untuk orang yang mendambakan era ketika membeli game berarti membawa pulang kotak, buku manual, dan cartridge yang bisa Anda pegang. Jika Anda termasuk tipe kolektor yang menghargai kepemilikan fisik, Nexus adalah perangkat yang layak Anda tunggu peluncurannya pada Oktober 2026. Jika Anda mencari performa grafis terkini, ini bukan produk untuk Anda.