BMKG Catat 10.232 Gempa Susulan Pascagempa M7,7 NTT, Aktivitas Mulai Meluruh
INSIDERINDONESIA.COM — Data BMKG yang dipantau hingga Senin (31/8/2026) pukul 05.00 WIB menunjukkan gempa susulan terbesar mencapai M6,2, sementara yang terkecil tercatat M1. Persebaran magnitudo ini mencerminkan energi yang masih tersisa di zona sesar aktif di Laut Flores, namun kekuatannya cenderung melemah seiring waktu.
Peluruhan Aktivitas Mulai Terlihat pada Hari Keenam
Grafik peluruhan gempa menunjukkan jumlah kejadian per 24 jam sempat berfluktuasi. Hari pertama tercatat 704 kejadian, meningkat menjadi 746 pada hari kedua, lalu berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima.
Namun, lonjakan terjadi pada hari keenam dengan 802 kejadian. Meski begitu, BMKG menilai pola keseluruhan tetap mengarah pada penurunan aktivitas, walaupun belum signifikan pada fase awal.
Kewaspadaan Tetap Diperlukan Hingga Empat Pekan ke Depan
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa aktivitas susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi. Ia menyebut potensi gempa susulan tetap ada meski frekuensinya mulai meluruh.
"Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan. Jumlah gempa per 24 jam tercatat 704 kejadian pada hari pertama, meningkat menjadi 746 pada hari kedua, kemudian berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima, namun naik lagi menjadi 802 kejadian pada hari keenam," kata Wijayanto.
BMKG mengimbau masyarakat di pesisir Flores dan sekitarnya tetap waspada terhadap potensi guncangan susulan, sekaligus tidak terpancing isu tsunami yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Data pemantauan terus diperbarui secara berkala melalui kanal resmi.