Shein melantai di Bursa Hong Kong, valuasi Rp424 triliun
INSIDERINDONESIA.COM — Mereka menetapkan harga saham perdana di level HK$48,56 dan mengumpulkan dana segar HK$13,6 miliar atau setara 1,7 miliar dolar AS. Pada perdagangan pertama, harga saham sempat merosot hingga 10 persen sebelum akhirnya ditutup di posisi HK$48,50.
Perusahaan yang berkantor pusat di Singapura sejak 2021 ini kini melayani lebih dari 273 juta pelanggan aktif. Dalam satu tahun hingga Maret 2026, tercatat lebih dari satu miliar pesanan masuk dari sekitar 160 negara.
Perjalanan panjang menuju bursa
Upaya Shein melantai di bursa Amerika Serikat gagal setelah mendapat resistensi dari anggota Kongres. Mereka menyoal dugaan kerja paksa di rantai pasok pabrik China. Perusahaan membantah dengan menyatakan menerapkan kebijakan toleransi nol terhadap praktik kerja paksa.
Kekhawatiran serupa juga menghadang ketika Shein menjajaki pencatatan di London. Wacana ini kembali buntu. Pemerintah China akhirnya menyetujui pencatatan di Hong Kong pada Juli 2025 lalu.
Direktur Keuangan Shein, Leigh Gui, dalam seremoni pembukaan perdagangan mengatakan model bisnis perusahaan yang menjual pesanan kecil dengan pembayaran cepat kini menjangkau pasar global. "Biarkan konsumen global menikmati suara mode," ujarnya usai memukul gong tanda perdagangan dimulai.
Tekanan dari regulasi dan persaingan
Shein saat ini menghadapi biaya operasional yang meningkat dan pengawasan regulasi yang lebih ketat. Analis Saxo, Charu Chanana, menilai koreksi harga saham menjadi sinyal bahwa harga murah Shein semakin sulit dipertahankan. Hal ini berpotensi mendorong kenaikan harga produk di masa mendatang.
Kinerja keuangan perusahaan juga tertekan. Pada Juli tahun lalu, Shein melaporkan kerugian kuartalan 99 juta dolar AS setelah Amerika Serikat menghapus aturan pembebasan bea masuk untuk paket kecil. Kebijakan yang dikenal sebagai aturan de minimis itu sebelumnya memungkinkan paket di bawah 800 dolar AS masuk tanpa bea, dan menjadi pendorong utama pertumbuhan Shein bersama pesaingnya, Temu.
Uni Eropa juga memberlakukan pajak 3 euro untuk barang impor bernilai rendah. Analis fesyen GlobalData, Louise Deglise-Favre, menilai investor kini lebih skeptis terhadap model bisnis fesyen cepat. "Investor telah belajar untuk bersikap skeptis," katanya, seraya menambahkan kekhawatiran keberlanjutan dan etika menambah kompleksitas penawaran saham Shein.
Dengan pencatatan ini, Hong Kong mencatatkan penjualan saham baru terbesar sepanjang tahun berjalan. Debut Shein menjadi ujian bagi minat investor terhadap industri fesyen cepat yang tengah menghadapi persaingan ketat dari rival seperti Asos dan Boohoo.