Breaking

BPS Catat NTP Agustus 2026 Naik 1,05 Persen Saat Harga Beras Melambung

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 01 September 2026
BPS Catat NTP Agustus 2026 Naik 1,05 Persen Saat Harga Beras Melambung
Ilustrasi Beras (FOTO : NET)

JAKARTA – Kenaikan harga pada berbagai komoditas pertanian berhasil meningkatkan tingkat kesejahteraan petani selama periode Agustus 2026. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indikator kesejahteraan Nilai Tukar Petani (NTP) menyentuh angka 129,19 atau tumbuh 1,05% jika dibandingkan dengan Juli 2026.

Pertumbuhan NTP ini dipicu oleh kenaikan harga yang diperoleh petani melaju lebih cepat dibanding beban biaya pengeluaran mereka. BPS mengonfirmasi indeks harga yang diterima petani (It) terangkat 1,14%, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) cuma bergeser naik 0,09%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa lonjakan indeks penerimaan petani ini terutama digerakkan oleh beberapa produk pertanian, yang mana gabah tampil sebagai kontributor paling dominan.

"Nilai tukar petani (NTP) pada Agustus tahun 2026 tercatat sebesar 129,19 atau naik 1,05% dibandingkan pada Juli tahun 2026. Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,14%, lebih tinggi kenaikannya dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani yang naik sebesar 0,09%. Komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani secara nasional yaitu gabah, kelapa sawit, karet, dan juga ayam ras pedaging," ungkap Ateng dalam konferensi pers Rilis BPS, Selasa (1/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lonjakan harga gabah di level produsen ini terjadi secara searah dengan merangkaknya harga beras di setiap tingkatan distribusi.

BPS mendata rerata harga beras pada skala penggilingan di Agustus 2026 tumbuh 1,32% secara bulanan (mtm) serta naik 5,52% secara tahunan (yoy).

Berdasarkan klasifikasi mutunya, harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan mengalami kenaikan 1,22% mtm dan 10,07% yoy. Di sisi lain, harga beras kualitas medium tercatat terangkat 1,48% mtm dan 4,03% yoy.

Secara tahunan, lonjakan harga beras premium pada skala penggilingan terpantau lebih tinggi bila dibandingkan dengan beras medium.

"Rata-rata harga beras di penggilingan pada Agustus tahun 2026 secara total naik 1,32% secara month-to-month-nya dan 5,52% secara year-on-year-nya. Kalau kami pilah menurut kualitas beras di penggilingan, maka untuk beras premium naik 1,22% secara month-to-month dan secara year-on-year naik 10,07%. Untuk beras medium secara month-to-month naik 1,48% secara year-on-year naik 4,03%. Jadi secara year-on-year untuk beras premium kenaikannya lebih tinggi dibandingkan dengan beras medium," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Harga Beras Naik hingga Tingkat Eceran

Kenaikan harga bahan pokok ini terus berlanjut setelah meninggalkan fasilitas penggilingan. Pada tingkat grosir, komoditas beras mencatatkan inflasi sebesar 0,80% mtm dan 4,28% yoy, sementara di tingkat eceran terjadi penyesuaian harga naik 0,42% mtm serta 2,77% yoy.

Hal ini menandakan bahwa kenaikan harga beras sepanjang Agustus merata di semua tingkatan alur perdagangan, mulai produsen penggilingan hingga pembeli akhir.

"Inflasi beras di tingkat grosir dan eceran pada bulan Agustus tahun 2026. Di tingkat grosir terjadi inflasi sebesar 0,80% secara month-to-month-nya dan terjadi secara inflasi, terjadi inflasi sebesar 4,28% secara year-on-year-nya. Untuk di tingkat eceran ya, secara month-to-month terjadi inflasi sebesar 0,42% dan secara year-on-year terjadi inflasi di tingkat eceran sebesar 2,77%," beber dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

BPS menekankan bahwa rincian harga beras yang dipaparkan adalah rerata nasional yang mencakup bermacam-macam tingkatan mutu beras di seluruh kawasan Indonesia.

"Harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia," ucap Ateng sebagaimana dilansir dari berita sumber.

NTP Tanaman Pangan Naik 1,62%

Pengaruh kenaikan harga gabah sebagai komoditas utama penggerak penerimaan petani turut terefleksi secara jelas pada subsektor tanaman pangan.

Sesuai rilis data BPS, NTP Tanaman Pangan (NTTP) periode Agustus 2026 menyentuh level 118,04, atau terangkat 1,62% dibanding posisi Juli 2026 yang sebesar 116,16.

Capaian pertumbuhan ini menjadi salah satu penopang kenaikan tertinggi di antara berbagai subsektor pertanian pada bulan Agustus. NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat dilaporkan tumbuh 1,53%, peternakan terangkat 0,96%, dan perikanan naik 0,69%.

Di sisi lain, subsektor hortikultura menjadi satu-satunya yang mencatatkan penurunan NTP, yaitu merosot sebesar 2,84%.

"Maka subsektor yang mengalami penurunan NTP yaitu hortikultura. Subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 2,84% terutama terjadi karena indeks harga yang diterima turun sebesar 2,81% sedangkan indeks harga yang dibayar mengalami kenaikan sebesar 0,03%," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan demikian, penguatan harga gabah berperan sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan pendapatan relatif para petani pada Agustus 2026, bersamaan dengan tren kenaikan harga beras dari tingkat penggilingan hingga konsumen.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua