Breaking

IHSG Punya Support 6.552, Investor Cermati Yield AS dan Dana Asing

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 07 September 2026
IHSG Punya Support 6.552, Investor Cermati Yield AS dan Dana Asing
Ilustrasi IHSG berada dalam fase bullish momentum dengan support di level 6.552. (sumber foto: NET)

JAKARTA – Tekanan jual investor asing masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Secara year to date (YTD), investor asing telah mencatatkan net sell atau jual bersih sebesar Rp95,80 triliun di pasar saham domestik, sementara pada perdagangan Jumat (4/9/2026), investor asing kembali membukukan net sell Rp317,01 miliar.

Arus dana asing tersebut menjadi salah satu sentimen yang perlu dicermati investor karena masih memberikan tekanan terhadap pasar saham Indonesia. Meski demikian, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kondisi teknikal IHSG masih positif dan indeks berada dalam fase bullish momentum serta membentuk tren kenaikan (uptrend).

“Secara teknikal, meskipun terjadi koreksi wajar, pergerakan IHSG berada dalam fase bullish momentum sembari membentuk fase uptrend,” ujar Nafan, Senin (7/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Artinya, tekanan jual investor asing belum mengubah struktur teknikal IHSG secara keseluruhan. Pada perdagangan Jumat (4/9/2026), IHSG ditutup melemah 31,42 poin atau 0,47% ke level 6.636,48 berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI).

Nafan mengatakan sejumlah indikator teknikal masih menunjukkan sinyal positif. Moving average (MA) 20 dan MA 60 masih berada dalam kondisi bullish crossover, sementara indikator Stochastics K_D dan relative strength index (RSI) juga menunjukkan sinyal positif.

Namun, volume perdagangan mulai menurun. Kondisi ini menjadi catatan karena menunjukkan tenaga penguatan IHSG mulai berkurang. 

“Berdasarkan indikator, MAs20&60 berada dalam kondisi bullish crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meskipun demikian, volume mulai mengalami penurunan,” paparnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nafan memproyeksikan IHSG memiliki level support pada area 6.552 dan 6.453 untuk perdagangan awal pekan, sementara level resistance berada di 6.695 dan 6.780.

Pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi sentimen dari Amerika Serikat (AS). Nafan mengatakan, investor mencermati data ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari ekspektasi pasar, di mana data US nonfarm payrolls periode Agustus bertambah 162.000, jauh di atas konsensus pasar sekitar 56.000.

Data tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pasar khawatir The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga pada September.

Sentimen tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury. Yield Treasury tenor 2 tahun naik 1,04% menjadi 4,379%, mendekati posisi tertinggi dalam sekitar satu tahun.

“Hal ini juga membuat yield Treasury, khususnya yield 2-year naik 1,04 persen menjadi 4,379 persen, mendekati level tertinggi dalam sekitar satu tahun,” pungkas dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kenaikan yield US Treasury berpotensi menekan aset berisiko. Saham di negara berkembang seperti Indonesia turut menghadapi risiko tersebut.

Di tengah tekanan tersebut, Nafan menilai IHSG masih memiliki penopang dari valuasi sejumlah saham yang relatif menarik. Kondisi itu membuka peluang bargain hunting, terutama jika investor asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia setelah melakukan aksi jual dalam jumlah besar.

Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, yakni pergerakan rupiah, yield US Treasury, arus dana asing, serta risiko geopolitik AS-Iran. Faktor-faktor tersebut akan memengaruhi risk appetite investor pada awal pekan.

Pasar juga akan menantikan data cadangan devisa Indonesia periode Agustus. Investor cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi AS, antara lain Producer Price Index (PPI) pada 10 September dan Consumer Price Index (CPI) pada 11 September.

Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed pada pertemuan September. Dengan kondisi tersebut, investor disarankan tetap selektif dalam mengambil posisi.

Strategi yang dapat dilakukan yakni mengakumulasi saham pilihan dengan fundamental solid, terutama saham dengan valuasi relatif murah. Investor juga dapat mencermati saham yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren, dengan manajemen risiko tetap perlu diterapkan secara disiplin.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua