Breaking

Saham BWPT Melejit 41,30 Persen dalam Sebulan Terakhir

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 07 September 2026
Saham BWPT Melejit 41,30 Persen dalam Sebulan Terakhir
Ilustrasi Jumlah saham free float BWPT stagnan di angka 7,55 miliar lembar atau 23,98%. (sumber foto: NET)

JAKARTA – Eagle High Plantation (BWPT) mendapat limpahan investor baru. Sepanjang Agustus 2026, emiten besutan Peter Sondakh kedatangan 3.681 investor baru, tepatnya menjadi 36.195 pihak daripada periode bulan Juni 2026 hanya 32.514 pihak.

Sementara itu, jumlah saham free float stagnan di kisaran 7,55 miliar eksemplar alias 23,98%, dan sejumlah saham tercatat di Bursa Efek Indonesia 31,52 miliar lembar. Peter Sondakh sebagai pemilik manfaat akhir.

Pemegang saham BWPT berdasarkan kepemilikan saham di atas 1% per 31 Agustus 2026 yaitu Rajawali Capital International 11,88 miliar helai alias 37,70%, Rajawali Kapital Agro 805,27 juta lembar atau 2,55%, Eagle High Plantations 402,92 juta saham alias 1,28%, Taspen 656,85 juta setara 2,08%, dan PIC Properties 11,66 miliar eksemplar alias 37%.

Akhir pekan lalu, saham BWPT menguat 0,78% setara 1 poin menjadi Rp 130. Lima hari terakhir, saham BWPT melejit 21,50% atau 23 poin dari edisi 31 Agustus 2026 sekitar Rp 107. Kalau ditilik dalam sebulan terakhir, saham BWPT melejit 41,30% setara 38 poin dari 7 Agustus 2026 sekitar Rp 92.

Dalam tempo 52 minggu terakhir, saham BWPT pernah menyentuh level tertinggi Rp 193 dan terendah Rp 60. BWPT dibalut dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 4,10 triliun dan diperkuat dengan price earning rasio sekitar 10,09 kali.

Sepanjang semester I 2026, BWPT mengemas laba bersih Rp 211,19 miliar, melejit 22,87% dari episode sama tahun lalu Rp 171,88 miliar. Pendapatan usaha Rp 3,25 triliun, melonjak signifikan dari periode sama tahun sebelumnya senilai Rp 2,77 triliun. Beban pokok penjualan Rp 2,45 triliun, bengkak dari Rp 1,99 triliun.

Laba kotor terkumpul Rp 799,33 miliar, mengalami lonjakan tipis dari Rp 780,14 miliar. Beban umum dan administrasi Rp 121,08 miliar, bertambah dari Rp 120,3 miliar. Beban penjualan Rp 73,3 miliar, naik dari Rp 68,87 miliar. Total beban usaha Rp 194,38 miliar, bertambah dari Rp 189,17 miliar. Laba usaha Rp 604,95 miliar naik dari Rp 590,97 miliar.

Laba periode berjalan Rp 215,07 miliar, mengalami peningkatan dari posisi sama tahun lalu Rp 185,15 miliar. Jumlah ekuitas Rp 3,04 triliun, mengalami peningkatan dari akhir tahun sebelumnya Rp 2,82 triliun. Total liabilitas Rp 6,9 triliun, mengalami penyusutan dari akhir 2025 senilai Rp 7,35 triliun. Jumlah aset Rp 9,94 triliun, berkurang dari akhir tahun lalu Rp 10,17 triliun.

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto soal investasi Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority (Felda) via FIC Properties Sdn. Bhd. 

(FICP) di BWPT dengan potensi kerugian RM 2,5 miliar atau Rp 10,9 triliun. Anwar telah mengirim surat kepada Prabowo untuk meminta perhatian pemerintah Indonesia terhadap investasi Felda yang kini tengah menghadapi proses hukum di Indonesia.

Pada Desember 2016, Felda melalui anak usaha yaitu FICP membeli saham Eagle High senilai USD 505,4 juta atau sekitar Rp 8,9 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.750 per dolar Amerika Serikat (USD). 

Saat itu, investasi tersebut menuai kritik karena nilai pembelian saham dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan nilai pasar dan harga saham Eagle High. Investasi itu kemudian menjadi persoalan yang berkepanjangan bagi Felda dan kini berkaitan dengan proses hukum di Indonesia.

Anwar mengatakan investasi tersebut berpotensi membuat Felda mengalami kerugian hingga RM 2,5 miliar, sementara pengembalian yang diperkirakan dapat diperoleh hanya sekitar RM 200 juta. Anwar menyebut persoalan itu sebagai contoh buruk pengelolaan investasi Felda pada masa lalu.

Merespons itu, BWPT angkat suara mengenai investasi Felda dan FICP. Berdasar administrasi kepemilikan saham BWPT, FICP tercatat sebagai pemegang saham perseroan bukan Felda. Oleh karena itu, dalam hubungan korporasi dan komunikasi dengan pemegang saham, BWPT berhubungan dengan FICP dalam kapasitas sebagai pemegang saham.

Perseroan menegaskan tidak memiliki hubungan korporasi maupun hubungan kontraktual dengan Felda terkait kepemilikan saham BWPT. Perseroan juga menegaskan tidak memiliki kewajiban maupun eksposur, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap potensi kerugian Felda yang disebut mencapai sekitar RM 2,5 miliar atau lebih dari Rp 10 triliun dengan asumsi kurs Rp 4.300.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua