Breaking

Bursa Asia Melemah, Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 08 September 2026
Bursa Asia Melemah, Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi
Ilustrasi Mayoritas saham Asia melemah akibat penguatan yen dan ketegangan AS-Iran. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Mayoritas saham Asia diperdagangkan melemah pada Selasa setelah penguatan tajam yen Jepang menekan pasar ekuitas. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan AS-Iran mendorong harga minyak lebih tinggi sehingga kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi dan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pelemahan tersebut terjadi setelah reli kuat yang dipimpin sektor teknologi di Korea Selatan dan Jepang pada perdagangan Senin.

Pergerakan pasar Asia mengikuti sesi perdagangan yang beragam di Wall Street. Nasdaq 100 naik 0,2% seiring penguatan saham-saham semikonduktor, sementara saham AS secara lebih luas masih berada di bawah tekanan. Dalam perdagangan Asia, Nasdaq 100 Futures naik 0,3%, sedangkan S&P 500 Futures turun 0,2%.

Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat terus memengaruhi prospek kebijakan Federal Reserve. Pasar memperkirakan sekitar 60% probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 16 September.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,788%, sementara laporan inflasi yang akan dirilis pada Jumat menjadi salah satu katalis utama bagi pergerakan pasar pekan ini.

Harga minyak melanjutkan penguatan untuk hari ketiga ketika investor memantau perkembangan kesepakatan Iran dengan Oman terkait pengiriman melalui Selat Hormuz. Minyak mentah Brent naik sekitar 0,5% menjadi $97,46 per barel setelah Iran mengancam melakukan pembalasan atas serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Teluk.

Nikkei 225 turun 1,7%, sementara KOSPI Korea Selatan melemah 0,6% dan Hang Seng Hong Kong turun 0,5%. CSI 300 China turun 0,4%, sedangkan Shanghai Composite naik 0,2%.

S&P/ASX 200 Australia turun 1%, Straits Times Singapura melemah 0,6%, dan Nifty 50 India turun 0,5%. Sementara itu, Jakarta Composite Indonesia naik 1,1%.

Yen menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar Asia setelah mata uang tersebut menguat ke level terkuat sejak Februari. Yen menguat hingga 152,89 per dolar ketika investor melepas posisi carry trade dan ekspektasi meningkat bahwa Bank of Japan dapat memperketat kebijakan lebih cepat dari perkiraan.

Penguatan yen memberikan tekanan khusus terhadap perusahaan eksportir Jepang. Nilai pendapatan luar negeri menjadi lebih rendah ketika dikonversikan kembali ke yen, sehingga saham-saham yang berorientasi ekspor menjadi kurang menarik bagi investor. Nikkei kemudian kehilangan kembali kenaikannya setelah mencatat reli tajam pada Senin.

Tekanan terhadap aset berisiko juga meningkat seiring memburuknya ketegangan di Teluk Persia. Minyak mentah Brent naik ke sekitar $98,34 per barel, level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, setelah Iran mengancam melakukan pembalasan lebih lanjut dan ketegangan terkait infrastruktur energi regional semakin meningkat.

Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko kembalinya inflasi dan berpotensi membuat bank-bank sentral lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.

KOSPI Korea Selatan kehilangan penguatan awal setelah indeks tersebut melonjak lebih dari 4% pada Senin. Penguatan sebelumnya didorong saham-saham semikonduktor di tengah optimisme baru terhadap momentum pendapatan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.

Samsung Electronics dan SK Hynix sebelumnya memimpin kenaikan. Namun, pasar yang lebih luas kemudian tertekan akibat kenaikan harga minyak dan penguatan yen yang membebani selera risiko investor.

Yonhap melaporkan KOSPI sempat naik hampir 2% dalam perdagangan pagi Selasa sebelum akhirnya melepaskan penguatan tersebut.

Kondisi ekonomi kawasan Asia masih menunjukkan perkembangan yang beragam. Data revisi Jepang menunjukkan ekonomi tumbuh pada tingkat tahunan 1,4% pada kuartal kedua, meskipun lajunya masih berada di bawah ekspektasi para ekonom.

Upah riil Jepang naik 2,4% pada Juli, menjadi kenaikan terkuat sejak Mei 2021. Kondisi tersebut semakin memperkuat argumen bagi Bank of Japan untuk memperketat kebijakan.

China menjadi salah satu pasar yang mencatat perkembangan positif. Ekspor pada Agustus melonjak 25% secara tahun ke tahun, didukung permintaan terhadap produk berteknologi tinggi dan produk terkait AI. Shanghai Composite juga masih bergerak sedikit lebih tinggi meskipun sejumlah pasar lain di kawasan Asia melemah.

S&P/ASX 200 Australia turun 1% setelah lemahnya sentimen konsumen menambah kekhawatiran mengenai kondisi rumah tangga. Nifty 50 India dan BSE Sensex juga tetap berada di zona pelemahan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua