Breaking

Morgan Stanley Tambah Kepemilikan GOTO hingga 7,59 Persen

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 08 September 2026
Morgan Stanley Tambah Kepemilikan GOTO hingga 7,59 Persen
Ilustrasi Morgan Stanley menambah kepemilikan saham GOTO menjadi 7,59 persen pada September 2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Morgan Stanley & Co International Plc kembali membeli saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) setelah saham perusahaan tersebut dikeluarkan dari indeks MSCI bulan ini.

Morgan Stanley membeli sekitar 21,67 miliar saham GOTO dalam perdagangan 2 September 2026. Saham tersebut dibeli pada harga pelaksanaan Rp25 per saham.

Dengan transaksi tersebut, Morgan Stanley mengeluarkan dana sekitar Rp541,98 miliar untuk menambah kepemilikannya di GOTO pada awal September 2026.

Pembelian dilakukan dalam tiga tahap. Pada transaksi pertama, Morgan Stanley membeli 12,57 miliar saham biasa GOTO. Kemudian, transaksi kedua dan ketiga masing-masing melibatkan 119,95 juta saham biasa dan 9,22 miliar saham biasa.

Setelah transaksi tersebut, Morgan Stanley menguasai 87,48 miliar saham GOTO atau setara 7,59% dari saham beredar perusahaan teknologi tersebut.

Aksi pembelian saham GOTO sebelumnya juga dilakukan Morgan Stanley pada akhir Agustus 2026, sebelum rebalancing MSCI berlaku.

Kala itu, Morgan Stanley membeli sekitar 3,8 miliar saham GOTO pada harga Rp23 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp87,3 miliar.

Sebelumnya, JP Morgan masih memberikan rekomendasi overweight untuk saham GOTO.

Dalam riset yang disusun pada akhir Agustus lalu, tim analis JP Morgan menilai harga GOTO yang stagnan di level Rp50 per saham sejak 5 Mei 2026 masih tergolong undervalued.

JP Morgan juga menyoroti potensi pergerakan saham GOTO yang volatil setelah adanya rencana BEI untuk menghapus aturan saham gocap atau harga dasar Rp50 per saham.

Namun, rencana tersebut dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi GOTO karena tekanan jual dari passive funds berpotensi berkurang.

“Langkah tersebut akan memungkinkan ETF yang melacak indeks untuk melepas atau menyelesaikan posisi mereka, sehingga menghilangkan tekanan dari passive flows,” dikutip dari riset JP Morgan, Kamis (27/8/2026).

Riset tersebut disusun oleh tim analis yang terdiri dari Ranjan Sharma, Steven Suntoso, Sigrid Qiu, Alex Yao dan Benny Kurniawan.

“Pelaksanaan program buyback dan kejelasan yang lebih baik terkait regulasi merupakan katalis positif utama yang perlu diperhatikan dalam 6-12 bulan ke depan,” dikutip dari riset yang sama.

GOTO mencatat laba bersih mencapai Rp607 miliar dengan pendapatan bersih Rp10,99 triliun sepanjang semester I-2026.

Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari jasa pengiriman sebesar Rp3,2 triliun (+16,5%). Berikutnya, imbalan jasa mencapai Rp3,15 triliun (+14,9%) dan pendapatan pinjaman sebesar Rp2,71 triliun (+65%).

Pendapatan lainnya berasal dari e-commerce service fee PT Tokopedia sebesar Rp551 miliar (+32,3%) serta pendapatan iklan Rp254 miliar (+8%).

Sementara itu, pendapatan lain-lain tercatat Rp1,13 triliun atau meningkat 46,5% dibandingkan periode semester I tahun sebelumnya.

Dikeluarkannya GOTO dari sejumlah indeks MSCI menjadi tekanan terbaru bagi perusahaan setelah bertahun-tahun menghadapi kerugian besar akibat persaingan dengan perusahaan bermodal kuat seperti Grab Holdings Ltd.

Sejumlah restrukturisasi dan pergantian kepemimpinan membantu GOTO membukukan laba kuartalan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Namun, tekanan terhadap laba semakin meningkat akibat kenaikan harga minyak yang dipicu perang di Timur Tengah.

GOTO yang didukung Alibaba Group Holding Ltd. sebelumnya menjadi salah satu perusahaan dengan nilai terbesar di Indonesia. Kapitalisasi pasarnya sempat mencapai US$32 miliar tidak lama setelah saham perusahaan tercatat di Indonesia pada April 2022.

Namun, optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan GOTO kemudian menurun. Kekhawatiran mengenai jalur perusahaan menuju profitabilitas dan disiplin keuangan turut meredam minat investor.

Berbagai upaya untuk meningkatkan aktivitas perdagangan sekaligus mencegah GOTO dikeluarkan dari indeks, termasuk dorongan MSCI agar bursa Indonesia menghapus batas bawah harga saham atau price floor, sejauh ini belum membuahkan hasil, menurut orang-orang yang mengetahui persoalan tersebut. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan kerahasiaan.

Hans Patuwo, yang menjabat sebagai CEO GOTO sejak akhir tahun lalu setelah sejumlah pemegang saham besar mendorong pergantian pimpinan sebelumnya, telah berkomitmen untuk membalikkan kondisi perusahaan.

GOTO juga mempertimbangkan reverse stock split sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan harga saham. Langkah tersebut menyusul pengumuman rencana buyback saham hingga Rp3,5 triliun (US$196 juta) serta rencana pembatalan saham treasuri.

“Kami ingin memastikan kondisi makroekonomi sudah tepat sehingga ketika kami menggunakan dana tersebut, dampak yang dihasilkan sesuai dengan yang kami harapkan.”

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua