Harga Minyak Mentah Tembus US$ 100 per Barel Akibat Konflik Timur Tengah
JAKARTA – Harga minyak mentah Brent berhasil menembus angka US$ 100 per barel pada Rabu (9/9/2026), yang menjadi capaian pertama sejak 24 Juli 2026. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak global.
Berdasarkan laporan Reuters, patokan harga minyak Brent mengalami kenaikan sebesar US$ 2,15 atau 2,2% hingga menyentuh US$ 100,07 per barel pada Rabu sore. Di sisi lain, jenis minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) turut merangkak naik US$ 1,70 atau 1,83% ke tingkat US$ 94,73 per barel.
Secara keseluruhan, minyak Brent sudah melambung hingga 25% jika dihitung sejak awal Agustus 2026. Perkembangan harga tersebut berjalan seiring dengan memudarnya asa untuk menyepakati penyelesaian permanen atas ketegangan antara AS dan Iran yang telah bergulir selama enam bulan.
Eskalasi di kawasan Timur Tengah kian memanas sesudah kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran melancarkan gempuran ke sejumlah fasilitas energi milik Arab Saudi pekan ini. Insiden tersebut memicu kebakaran di area kilang serta memperbesar kecemasan publik akan meluasnya skala peperangan.
Aksi gempuran Houthi ini juga menyimpan potensi membendung lalu lintas distribusi minyak mentah yang melintasi jalur Laut Merah. Padahal, rute perairan tersebut memegang peranan krusial sebagai jalur alternatif bagi Selat Hormuz.
Pergerakan kapal pengangkut minyak di Selat Hormuz sendiri mengalami hambatan drastis semenjak konflik Iran meletus pada 28 Februari 2026. Kawasan selat ini dikenal luas sebagai salah satu urat nadi utama dalam lalu lintas perdagangan minyak dunia.
Sebelum bentrokan kembali berkobar pada 30 Agustus 2026, volume minyak yang melintas di Selat Hormuz berkisar antara 8 juta sampai 9 juta barel minyak per hari (bph). Angka tersebut tercatat dua kali lipat lebih banyak ketimbang volume lalu lintas pada pekan sebelumnya.
"arus minyak melalui Selat Hormuz belakangan turun menjadi kurang dari 2 juta bph," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Situasi pengetatan pasokan ini mendorong serangkaian bank global untuk mendongkrak estimasi harga minyak mentah mereka dalam rentang waktu beberapa hari terakhir. Lembaga keuangan kelas atas seperti Goldman Sachs, Bank of America, hingga HSBC tercatat telah resmi memperbarui proyeksi harga minyak mereka ke level yang lebih tinggi.