Breaking

Rebalancing VanEck, Saham Produsen Emas Indonesia Tertekan

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 10 September 2026
Rebalancing VanEck, Saham Produsen Emas Indonesia Tertekan
Ilustrasi Sejumlah saham produsen emas tertekan menjelang rebalancing indeks GDX dan GDXJ pada 12 September 2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Sejumlah saham produsen emas yang menjadi bagian dari Global Gold Miners Index (GDX) dan Global Junior Gold Miners Index (GDXJ) mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (10/9), menjelang pelaksanaan rebalancing kedua indeks tersebut.

Market Vectors Indeks Solutions, selaku penyedia indeks yang menjadi acuan bagi ETF yang dikelola VanEck, telah mengumumkan bahwa rebalancing GDX dan GDXJ akan berlangsung pada 12 September 2026.

Meski demikian, penentuan saham yang keluar maupun masuk ke dalam indeks tersebut menggunakan acuan harga pada penutupan perdagangan akhir Agustus kemarin.

Sejumlah saham asal Indonesia saat ini telah menjadi bagian dari indeks GDX dan GDXJ. Empat saham di antaranya tercatat sebagai konstituen dalam tinjauan Maret 2026.

Dalam indeks GDX, saham Indonesia yang telah menjadi konstituen terdiri dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Sementara itu, saham yang tercatat dalam indeks GDXJ meliputi PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), dan BRMS.

Berdasarkan riset Stockbit Sekuritas Digital, Market Vectors diperkirakan akan melakukan perubahan terhadap susunan saham asal Indonesia yang terdapat dalam indeks GDX dan GDXJ.

Salah satu perubahan yang diproyeksikan adalah masuknya saham EMAS ke dalam GDX setelah sebelumnya berada di kelompok GDXJ. Sementara itu, saham AMMN dan BRMS diperkirakan masih akan bertahan sebagai konstituen GDX.

Untuk GDXJ, tidak terdapat saham baru yang diprediksi akan masuk. Saham EMAS, BRMS, dan ARCI diperkirakan tetap menjadi konstituen. Namun, PSAB berpotensi dikeluarkan dari indeks tersebut.

Meski demikian, analis Stockbit Sekuritas menegaskan bahwa proyeksi tersebut masih dapat berubah, terutama apabila terdapat perubahan kebijakan mengenai float factor yang digunakan dalam penghitungan indeks GDX dan GDXJ.

Sebagai informasi, aset kelolaan ETF VanEck yang menggunakan GDX dan GDXJ sebagai indeks acuan saat ini mencapai US$39,48 miliar atau sekitar Rp690 triliun dengan asumsi kurs Rp17.500/US$. Perubahan pada kedua indeks tersebut diperkirakan dapat memengaruhi arus modal asing ke masing-masing saham berdasarkan bobotnya.

Saham AMMN turun 1,02% hingga pukul 15.15 WIB pada perdagangan hari ini. Sementara saham ARCI terkoreksi 1,12%, BRMS turun 1,42%, PSAB melemah 0,85%, sedangkan EMAS tidak mengalami perubahan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua