Breaking

Harga Minyak di Atas 100 Dollar AS, Bursa China Melemah

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 10 September 2026
Harga Minyak di Atas 100 Dollar AS, Bursa China Melemah
Ilustrasi Bursa saham China dan Hong Kong bergerak melemah pada perdagangan Kamis (10/9/2026). (sumber foto: NET)

JAKARTA - Bursa saham China dan Hong Kong bergerak melemah pada perdagangan Kamis (10/9/2026), mengikuti tekanan yang terjadi di pasar saham regional.

Investor kembali mengkhawatirkan risiko inflasi setelah harga minyak melonjak di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pada jeda perdagangan, indeks Shanghai Composite turun 0,4%. Sementara indeks saham unggulan CSI300 juga terkoreksi 0,4%.

Penurunan yang lebih besar terjadi pada indeks Shenzhen yang melemah 0,7%. Indeks startup ChiNext Composite turun 0,2%, sedangkan indeks teknologi Shanghai STAR50 terkoreksi 0,4%.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng melemah 1,3%. Sementara indeks saham teknologi Hong Kong mengalami penurunan lebih dalam sebesar 2,1%.

Tekanan terhadap bursa saham Asia terjadi setelah serangkaian serangan terhadap kapal dalam konflik dengan Iran kembali meningkat. Situasi tersebut membuat harga minyak bertahan di atas US$100 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian investor karena berpotensi memperbesar tekanan terhadap inflasi global. Pasar juga menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis akhir pekan ini untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

"Keputusan FOMC September masih menjadi pertarungan ketat karena investor menunggu rilis CPI AS," kata analis OCBC Bank dalam sebuah catatan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ekspektasi mengenai kebijakan The Fed turut memberikan pengaruh terhadap pasar obligasi. Selisih imbal hasil atau yield premium US Treasury bertenor 10 tahun terhadap obligasi pemerintah China dengan tenor yang sama melebar hingga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

Kenaikan selisih tersebut terutama didorong oleh lonjakan yield obligasi AS di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak dapat kembali memicu inflasi.

Di sisi lain, sentimen terhadap prospek bisnis perusahaan Amerika Serikat di China mulai menunjukkan perbaikan.

Survei yang diterbitkan Kamis menunjukkan perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di China semakin optimistis terhadap prospek bisnis mereka. Kondisi tersebut terjadi setelah tingkat kepercayaan mencapai rekor terendah pada tahun lalu akibat ketegangan politik, persaingan domestik yang ketat, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, startup kecerdasan buatan (AI) China, DeepSeek, dikabarkan telah menunjuk CITIC Securities untuk mempersiapkan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Shanghai Stock Exchange melalui papan teknologi STAR Market.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua