Breaking

Proyeksi Harga Emas dan Logam Mulia Sepekan ke Depan

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 14 September 2026
Proyeksi Harga Emas dan Logam Mulia Sepekan ke Depan
Ilustrasi emas dunia dan logam mulia diprediksi turun (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga emas dunia serta logam mulia diperkirakan akan bergerak melemah terbatas pada transaksi sepekan mendatang, yakni di kisaran Rp 2,45 juta—Rp 2,75 juta per gram. Estimasi ini muncul salah satunya dipicu perkiraan naik suku bunga Bank Sentral AS pada September 2026.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pada penutupan akhir pekan lalu, harga emas dunia berada di level 4.348 dolar AS per troy ons. Ibrahim memperkirakan sepekan ke depan jika mengalami koreksi, batas support pertama harga emas dunia berada pada angka 4.245 dolar AS per troy ons, selanjutnya support kedua di angka 4.102 dolar AS per troy ons. Apabila bergerak naik, resisten pertama diperkirakan pada level 4.479 dolar AS per troy ons dan resisten kedua di level 4.650 dolar AS per troy ons.

"Jadi, dalam sepekan ke depan, harga emas dunia kemungkinan ditransaksikan di 4.102—4.650 dolar AS per troy ons. Selisihnya cukup tinggi," kata Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Beriringan dengan hal itu, harga logam mulia akhir pekan ini ditutup pada posisi Rp 2,61 juta per gram. Ibrahim memproyeksikan jika terjadi penurunan, support pertama logam mulia ada di kisaran Rp 2,59 juta per gram dan support kedua Rp 2,45 juta per gram. Sebaliknya jika menguat, resisten pertama berada di angka Rp 2,63 juta per gram serta resisten kedua sebesar Rp 2,75 juta per gram.

"Jadi, logam mulia dalam pekan depan kemungkinan akan ditransaksikan di Rp 2,45—Rp 2,75 juta per gram," ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, indeks dolar AS sepekan mendatang diprediksi bergerak di rentang 90,30—100,20 dan rupiah berpotensi melemah hingga kisaran Rp 17.850-an per dolar AS. Sementara itu, harga minyak WTI crude oil diperkirakan diperdagangkan pada level 91,60—103,50.

Ibrahim menjabarkan terdapat beberapa pendorong yang membuat harga emas dunia maupun logam mulia cenderung mengalami penurunan sepekan ke depan. Hal tersebut meliputi faktor geopolitik, peta politik di AS, hingga dinamika supply dan demand.

Ditinjau dari geopolitik, Ibrahim memaparkan konflik tidak hanya terjadi di Timur Tengah, tetapi juga meluas ke Eropa Timur serta Afrika. Pada kawasan Timur Tengah, AS dan Iran terus saling menyerang hingga menciptakan ketegangan tinggi di daerah tersebut. Ibrahim menilai eskalasi ini merupakan yang paling tinggi sehingga menghambat pelayaran Selat Hormuz yang kini hanya bisa dilalui 7 hingga 10 kapal.

Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa pertempuran akan selesai setelah Pemilu Sela atau sekitar Desember 2026. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa konflik AS dan Iran masih berlangsung lama sehingga memicu kenaikan harga minyak yang cukup tajam.

Selanjutnya di Eropa Timur, pertikaian sporadis terus terjadi antara Rusia dan Ukraina. Ibrahim menyebut pertempuran kedua negara ini berpotensi bertahan 3—4 tahun ke depan karena masalah wilayah Ukraina yang diambil alih Rusia. Ukraina berpeluang terus menggempur area penghasil minyak dan gas alam milik Rusia, sedangkan Rusia tetap menyerang kota-kota besar Ukraina seperti Kyiv secara sporadis.

Pada wilayah Afrika, perselisihan di Selat Bab el-Mandeb masih belum mereda. Gesekan di Selat Bab el-Mandeb melibatkan Houthi Yaman yang berhadapan langsung dengan Pemerintah Yaman sah pendukung koalisi, khususnya Arab Saudi. Kelompok Houthi Yaman terus memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke pesisir Laut Merah yang memperlihatkan dominasi kuat mereka di jalur pelayaran penting tersebut. Situasi ini berpeluang mendorong peningkatan harga minyak mentah.

Dari dinamika politik AS, Ibrahim menjelaskan bahwa September 2026 menjadi periode penuh persiapan ketat menuju Pemilu Sela antara Partai Republik dan Partai Demokrat.

"Pemilu Paruh Waktu dijadwalkan pada November 2026, di mana kendali atas Kongres AS menjadi taruhannya. Trump sendiri mengatakan dalam pidato kontroversialnya bahwa siapapun yang akan memilih Partai Republik dan bisa memenangkan Partai Republik akan mendapatkan cek sebesar 5.000 dolar AS bagi setiap warga dewasa AS yang melakukan pencoblosan. Ini dianggap bagi Partai Demokrat sebagai upaya penyuapan terselubung yang tidak realistis di tengah utang nasional AS yang melampaui 40 triliun dolar AS," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan, lonjakan harga minyak mentah yang melambungkan harga gasoline menjadi melebihi 6 dolar AS per galon (dari 4,8 dolar AS per galon) mengakibatkan harga kebutuhan pokok di AS naik drastis. Fenomena ini bakal menjadi bahan pertimbangan mendalam bagi Bank Sentral AS saat merumuskan arah suku bunga.

Indikator ekonomi AS seperti sentimen konsumen tercatat melemah seiring melesatnya estimasi inflasi tahunan di angka 4,6 persen (yoy). Berdasarkan jajak pendapat ekonom dan data pasar terbaru, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed melonjak dari 70 persen ke 85 persen.

"Kenaikan suku bunga ini akan memengaruhi pelemahan terhadap harga emas dunia, dan ini yang paling ditakutkan oleh logam mulia karena kenaikan suku bunga akan berdampak negatif terhadap harga emas," tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terakhir mengenai supply dan demand, Ibrahim menguraikan bahwa di tengah pertempuran pada September 2026, Bank Sentral China terus menambah cadangan emasnya. Sepanjang Agustus 2026, Bank Sentral China telah memborong 650 ribu troy ons emas atau setara 20,2 ton emas.

Ibrahim memperkirakan pada kuartal III 2026 cadangan emas Bank Sentral secara global bakal naik signifikan karena pertempuran masih berlanjut. Hal itu tampak dari langkah sejumlah negara Eropa yang memindahkan cadangan emas mereka dari AS menuju Inggris.

"Ini yang membuat pergolakan indeks dolar AS kemungkinan menguat, harga minyak WTI akan kembali di atas 100, crude oil di atas 105, dan harga emas kemungkinan akan tertekan, walaupun terbatas, karena pelemahan mata uang rupiah terhadap logam mulia," tutupnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua