Breaking

BYAN Tertekan Usai Force Majeure, Asing Jual Rp111,7 Miliar

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 15 September 2026
BYAN Tertekan Usai Force Majeure, Asing Jual Rp111,7 Miliar
Ilustrasi Saham PT Bayan Resources (BYAN) kembali melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (15/9/2026) pagi. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Saham PT Bayan Resources (BYAN) kembali melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (15/9/2026) pagi.

Penurunan saham BYAN terjadi setelah perusahaan yang dikendalikan Low Tuck Kwong tersebut melaporkan force majeure atau keadaan kahar yang berkaitan dengan RKAB batu bara.

Berdasarkan perdagangan di lantai bursa pada pukul 09.13 WIB, saham BYAN turun 5,41% ke level Rp10.500 per saham. Saham tersebut bahkan sempat menyentuh posisi terendah di Rp10.200 per saham sesaat setelah perdagangan dibuka.

Dalam 10 menit pertama perdagangan, saham BYAN mencatat nilai transaksi sekitar Rp3 miliar dengan volume perdagangan mencapai 2,84 ribu lot saham.

Sementara itu, investor asing membukukan net sell sekitar Rp111,7 miliar pada saham BYAN selama satu bulan terakhir di pasar reguler.

Tekanan jual tersebut berlangsung bersamaan dengan kabar mengenai pembicaraan pengambilalihan perusahaan yang tengah berlangsung dengan bos Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.

Aksi jual asing juga diikuti oleh distribusi dalam jumlah besar dari sejumlah pialang institusi lokal.

PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG), broker yang berafiliasi dengan Garibaldi ‘Boy’ Thohir, menjual 28 ribu lot saham BYAN dengan nilai Rp40 miliar pada harga rata-rata Rp14.722 selama satu bulan terakhir.

Kemudian, Maybank Sekuritas (ZP) dan CGS International (YU) masing-masing melepas 22,2 ribu lot dan 19,9 ribu lot saham. Nilai divestasi ZP mencapai sekitar Rp33 miliar, sedangkan YU sekitar Rp30,5 miliar.

DBS Vickers Sekuritas (DP) turut menjual 6,7 ribu lot saham BYAN dengan nilai Rp10,7 miliar pada harga rata-rata Rp15.510.

Setelah serangkaian aksi jual tersebut, kapitalisasi pasar BYAN tercatat tersisa Rp350,83 triliun. Jumlah saham beredar BYAN mencapai sekitar 33,33 miliar lembar dengan free float sebesar 21,29%.

Kepemilikan terbesar BYAN berada di tangan Low Tuck Kwong dengan porsi sekitar 40,25%. Sementara itu, sebanyak 22% saham lainnya dikuasai putrinya, Elaine Low.

Sebelumnya, BYAN mengungkapkan bahwa tiga anak usahanya mengalami kondisi kahar atau force majeure yang berdampak terhadap pemenuhan kewajiban pasokan batu bara kepada pelanggan.

Ketiga anak usaha tersebut adalah PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP). Ketiganya menyampaikan pemberitahuan mengenai kondisi kahar kepada para pelanggan pada 11 September 2026.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/9/2026), manajemen BYAN menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 belum diterbitkan bagi ketiga anak usaha tersebut.

Perseroan menyatakan pengajuan perubahan RKAB telah dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Situasi tersebut saat ini berdampak terhadap kemampuan perseroan bersama anak-anak usahanya dalam memenuhi kewajiban kepada pelanggan.

“Namun dengan dilakukannya pemberitahuan keadaan/kejadian yang bersifat memaksa (Keadaan Kahar/Force Majeure) ini, diharapkan dapat meminimalisir risiko dan/atau konsekuensi bagi Perseroan dan anak-anak perusahaannya,” tulis manajemen, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi kahar tersebut terjadi di tengah pembicaraan antara pengendali BYAN Low Tuck Kwong dan bos Jhonlin Group Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam terkait rencana pengambilalihan mayoritas saham perusahaan tambang batu bara tersebut.

Haji Isam dikabarkan menawarkan sekitar US$3 miliar secara tunai untuk membeli 62% saham Bayan Resources yang berbasis di Jakarta.

Sejumlah sumber menyebut sebagian pembayaran kemungkinan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus. Apabila transaksi terealisasi pada harga tersebut, nilai kesepakatan akan mencerminkan diskon sekitar 80% terhadap level harga pasar saat ini.

Saham mayoritas milik keluarga tersebut berpotensi dijual dengan diskon besar karena jumlah saham beredar atau free float Bayan yang terbatas serta volume perdagangan yang tipis dapat membuat harga saham di pasar tercatat lebih tinggi dibandingkan nilai wajarnya.

Prospek jangka panjang batu bara termal juga menghadapi tekanan karena konsumen mulai beralih menuju sumber energi yang lebih bersih. Di samping itu, pemerintah Indonesia telah menerapkan kuota produksi batu bara yang membatasi aktivitas sejumlah perusahaan tambang domestik.

Pembicaraan terkait transaksi tersebut masih berlangsung dan belum ada kepastian bahwa kesepakatan akan tercapai.

Prabowo sebelumnya memangkas kuota produksi sejumlah produsen batu bara terbesar di Indonesia sebagai bagian dari upaya mendorong kenaikan harga batu bara. Sejumlah perusahaan lain juga dikenai denda besar akibat pelanggaran izin kehutanan.

Bayan menjadi salah satu perusahaan yang paling terdampak oleh pemangkasan kuota tersebut. Sementara itu, sejumlah pesaing, termasuk PT Bumi Resources dan PT Adaro Andalan, sebagian besar terhindar dari pemangkasan produksi dalam jumlah besar.

Low lahir di Singapura dan kemudian pindah ke Indonesia ketika memasuki usia awal 20-an. Ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada 1992 dan mendirikan Bayan Resources pada 2004.

Menurut Bloomberg Billionaires Index, sebagian besar kekayaan Low berasal dari perusahaan tambang batu bara yang tercatat di bursa tersebut. Aset utama lainnya mencakup 78% saham perusahaan energi terbarukan berbasis Singapura, Metis Energy Ltd.

Jika seluruh pihak menyetujui persyaratan transaksi, kesepakatan tersebut berpotensi selesai sebelum akhir tahun. Salah satu sumber menyebut Isam kemungkinan memperoleh pendanaan dari bank-bank milik negara Indonesia.

Bayan Resources juga menjalankan sejumlah pelabuhan di Indonesia. Perusahaan tersebut menjual sekitar 68 juta metrik ton batu bara pada tahun lalu dengan membukukan pendapatan sekitar US$3,4 miliar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua