Suku Bunga The Fed Naik, Ini Dampaknya ke Tabungan, KPR, dan Saham
JAKARTA - Kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) menjadi perhatian pelaku ekonomi dan investor global karena berpotensi memengaruhi pasar keuangan, nilai tukar, serta biaya pinjaman.
The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026) waktu AS. Jika terealisasi, keputusan tersebut akan menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam lebih dari tiga tahun.
Kontrak berjangka suku bunga federal (federal funds futures) menunjukkan peluang sebesar 90 persen bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh bersama Federal Open Market Committee (FOMC) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Bagi masyarakat Indonesia, perubahan suku bunga The Fed tidak secara langsung membuat bunga tabungan, deposito, maupun kredit perbankan naik pada saat yang sama.
Namun, kebijakan tersebut dapat memengaruhi kondisi pasar keuangan global yang kemudian berdampak terhadap Indonesia melalui nilai tukar rupiah, arus modal, imbal hasil surat utang, hingga arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Kenaikan suku bunga The Fed pada dasarnya membuat aset yang menggunakan denominasi dollar AS menjadi lebih menarik. Kondisi ini dapat mendorong investor global mengalihkan sebagian dana ke aset AS, terutama ketika imbal hasil yang ditawarkan mengalami peningkatan.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat berpengaruh terhadap arus modal dan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia juga biasanya memperhitungkan sejumlah faktor global, termasuk kebijakan The Fed, ketika menentukan arah kebijakan moneternya.
Apabila suku bunga global bertahan pada level tinggi, ruang bagi penurunan suku bunga domestik dapat menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, jika BI perlu mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik, tingkat bunga pada instrumen perbankan juga berpotensi ikut terdampak.
Bagi nasabah, situasi tersebut dapat menjadi kabar baik bagi pemilik deposito apabila perbankan menaikkan bunga simpanan untuk mempertahankan dana nasabah.
Meski demikian, kenaikan bunga deposito tidak otomatis terjadi. Besaran penyesuaiannya akan bergantung pada kondisi likuiditas perbankan dan kebijakan setiap bank.
Dampak perubahan suku bunga global juga dapat dirasakan melalui bunga kredit.
Kenaikan suku bunga global berpotensi meningkatkan biaya pendanaan sekaligus memengaruhi kondisi likuiditas di pasar keuangan. Jika biaya dana perbankan ikut meningkat, bunga kredit baru maupun kredit dengan skema mengambang (floating) berpotensi mengalami kenaikan.
Kondisi ini penting diperhatikan masyarakat yang memiliki KPR, kredit kendaraan, kredit multiguna, maupun pinjaman usaha.
Namun, kenaikan suku bunga The Fed tidak berarti bunga KPR di Indonesia otomatis naik pada hari yang sama. Setiap bank memiliki struktur biaya dana, kebijakan kredit, serta mekanisme penetapan bunga yang berbeda.
Bagi debitor yang menggunakan bunga mengambang, perubahan suku bunga perlu menjadi perhatian karena cicilan dapat meningkat apabila bank melakukan penyesuaian tingkat bunga.
Di sisi investasi, pasar saham termasuk aset yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.
Ketika The Fed menaikkan suku bunga, investor dapat kembali menghitung valuasi berbagai aset karena instrumen berpendapatan tetap di AS menjadi lebih menarik dari sisi imbal hasil.
Kondisi tersebut dapat mengubah aliran dana global sekaligus meningkatkan volatilitas pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kevin Gordon, Kepala Riset dan Strategi Makro di Schwab, mengatakan terdapat pepatah lama di Wall Street, yakni “Jangan melawan The Fed”, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Gordon, siklus kenaikan suku bunga The Fed kerap disertai gejolak di pasar keuangan.
Berdasarkan catatan sejarah, rata-rata kerugian maksimum indeks S&P 500 mencapai lebih dari 10 persen dalam periode 12 bulan setelah dimulainya siklus suku bunga yang lebih tinggi.
“Secara umum, kami menilai latar belakang ekonomi masih relatif menguntungkan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga. Jadi, meskipun ini merupakan siklus kenaikan suku bunga dan mereka menaikkannya lebih dari sekali, kami menilai perekonomian kemungkinan masih mampu bertahan,” kata Gordon seperti dikutip dari Yahoo Finance, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bagi investor Indonesia, pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi kebijakan The Fed. Kinerja laba emiten, kondisi perekonomian domestik, nilai tukar rupiah, harga komoditas, kebijakan pemerintah, serta sentimen investor juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Karena itu, investor tidak hanya perlu melihat satu kali kenaikan suku bunga The Fed dalam mengambil keputusan investasi.
Dalam kondisi suku bunga global yang berpotensi lebih tinggi, masyarakat juga perlu memperhatikan kembali komposisi aset dan utangnya.
Bagi pemilik dana tunai, membandingkan bunga deposito atau produk simpanan dengan imbal hasil yang ditawarkan perbankan dapat menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan dana yang belum digunakan.
Sementara bagi masyarakat yang memiliki utang, terutama pinjaman dengan bunga mengambang atau bunga relatif tinggi, kemampuan membayar perlu dihitung kembali apabila terjadi kenaikan bunga.
Investor juga perlu mencermati perkembangan ekonomi dan kinerja perusahaan, bukan hanya pergerakan tingkat suku bunga.
Ketika pasar menjadi lebih volatil, saham dengan fundamental kuat dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang.
Pada akhirnya, kenaikan suku bunga The Fed tidak otomatis membuat masyarakat Indonesia langsung membayar bunga kredit lebih tinggi ataupun mendapatkan bunga deposito yang lebih besar.
Dampaknya akan bergantung pada bagaimana kebijakan The Fed memengaruhi pasar keuangan global, nilai tukar rupiah, kebijakan Bank Indonesia, serta kondisi likuiditas dan strategi masing-masing bank di Indonesia.