Breaking

Harga Emas Turun Hampir 1 Persen Akibat Suku Bunga The Fed

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 17 September 2026
Harga Emas Turun Hampir 1 Persen Akibat Suku Bunga The Fed
Ilustrasi Emas (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga emas berbalik melemah melebihi 1 persen pada Rabu, seusai The Federal Reserve (The Fed) mengerek suku bunga serta membuka ruang bagi kenaikan berikutnya dalam beberapa bulan mendatang.

Kebijakan tersebut memicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus menghimpit daya pikat emas yang tidak menawarkan imbal hasil.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (16/9/2026) berakhir di level US$ 4262,09 per troy ons. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,71 persen.

Penurunan ini melanjutkan tren negatif emas yang terkoreksi selama tiga hari berturut-turut dengan total penurunan 1,96 persen. Catatan harga pada penutupan kemarin juga merupakan yang paling rendah sejak 6 Agustus 2026 atau lebih dari enam pekan.

Kendati demikian, harga emas mulai merangkak naik pada hari ini. Pada Kamis (17/9/2026), harga emas menguat 0,19 persen menjadi US$ 4270,19 per troy ons.

The Fed mendongkrak suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menuju rentang 3,75 persen-4 persen. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa fokus utama bank sentral tetap pada pemeliharaan stabilitas harga mengingat inflasi masih berada di tingkat yang amat tinggi.

"Inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," ujar Warsh sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Proyeksi arah kebijakan teranyar dari The Fed yang tercermin dalam dot plot memperlihatkan adanya potensi kenaikan suku bunga lanjutan.

Gambar pada dot plot mengindikasikan 16 dari 18 pejabat The Fed memproyeksikan minimal masih terdapat satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 bps sampai akhir tahun ini. Bahkan, empat orang di antaranya memprediksi peluang dua kali kenaikan tambahan.

Di sisi lain, dua pejabat memperkirakan The Fed bakal menyetop kebijakan tersebut setelah satu kali kenaikan.

Keputusan dari The Fed ini seketika melonjakkan indeks dolar ke angka 100,252. Ketinggian posisi ini menjadi yang paling puncak sejak 12 Agustus 2026.

Langkah pengerekan suku bunga juga mendorong imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menembus level 5,004 persen, yang merupakan titik tertinggi sejak Juli 2007.

Melambungnya dolar AS pascakeputusan The Fed menyebabkan emas menjadi kian mahal bagi para pembeli di luar AS. Selain itu, kenaikan suku bunga meredupkan pesona emas sebagai instrumen investasi yang tidak menghasilkan imbal hasil.

Kondisi tersebut turut menyeret harga perak ikut terperosok. Berdasarkan data Refinitiv, harga perak pada perdagangan Rabu (16/9/2026) terkunci di angka US$ 62,96 per troy ons setelah merosot 1,08 persen.

Capaian tersebut menjadi titik terendah perak sejak 7 Agustus 2026.

Mespi begitu, harga perak menunjukkan perbaikan pada hari ini. Pada Kamis (17/9/2026) pukul 06.45 WIB, harga perak merambat naik 0,37 persen ke posisi US$ 63,19 per troy ons.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua