JAKARTA - Musim hujan sering kali membawa tantangan tersendiri bagi daya tahan tubuh. Tak heran jika di saat seperti ini, banyak yang mencari cara untuk menjaga kesehatan tubuh.
Salah satu yang sering menjadi pilihan adalah Tolak Angin, obat herbal yang dikenal dapat membantu memperkuat imunitas tubuh. Namun, tahukah Anda bahwa Tolak Angin dulunya merupakan jamu rebusan tradisional?
Transformasi produk ini dari jamu biasa menjadi obat herbal terstandar (OHT) yang terpercaya memiliki perjalanan panjang yang menarik. Apa yang membuat Tolak Angin bertransformasi hingga menjadi produk yang kita kenal saat ini?
Baca JugaChelsea Bersiap Sambut Vinicius Junior yang Diprediksi Pecahkan Rekor Transfer
Pentingnya Penelitian dalam Pengembangan Tolak Angin
Sebagai perusahaan yang berbasis penelitian, Sido Muncul terus mengutamakan riset dan bukti ilmiah untuk mendukung kualitas produknya. Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, menjelaskan bahwa untuk dapat dipercaya masyarakat, sebuah produk harus memiliki bukti yang sah secara ilmiah. Hal ini yang mendasari Sido Muncul untuk menggandeng berbagai lembaga pendidikan dan penelitian guna menguji produk mereka secara menyeluruh.
"Semua berbasis penelitian," kata Irwan.
Saat itu, ia menjelaskan tentang bagaimana Tolak Angin telah melalui berbagai tahap penelitian yang cukup ketat sebelum akhirnya dinyatakan aman dan efektif.
Uji Toksisitas dan Uji Khasiat pada Tolak Angin
Transformasi Tolak Angin tidak hanya terjadi pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada proses pengujian ilmiah yang harus dilalui. Dua dekade lalu, Tolak Angin masih berupa jamu tradisional dalam bentuk serbuk. Untuk mendapatkan pengakuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk ini harus melalui serangkaian uji toksisitas dan uji khasiat.
Sido Muncul bekerja sama dengan Universitas Sanata Dharma (USD) untuk menguji toksisitas produk dan Universitas Diponegoro (Undip) untuk menguji khasiatnya. Uji toksisitas dilakukan pada hewan coba selama 90 hari, dengan pengamatan yang ketat terhadap gejala klinik, uji darah rutin, dan uji kimia klinik. Menurut Ipang Djunarko, peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, pada uji ini, tidak ditemukan perubahan signifikan pada berat badan atau organ vital hewan coba
. Hal ini menunjukkan bahwa Tolak Angin aman untuk dikonsumsi dalam jangka panjang, selama mengikuti dosis yang dianjurkan.
Phebe Hendra, rekan Ipang yang juga terlibat dalam penelitian, menambahkan bahwa meskipun uji dilakukan pada tikus, hasilnya cukup relevan karena uji 90 hari pada tikus setara dengan 101 bulan pada manusia. Ini memberikan gambaran yang jelas tentang keamanannya jika dikonsumsi dalam waktu lama.
Tolak Angin Menunjukkan Khasiatnya dalam Meningkatkan Imunitas
Setelah melalui uji toksisitas, Tolak Angin juga menjalani uji khasiat untuk memastikan manfaatnya bagi kesehatan manusia. Uji ini dilakukan dalam dua tahap: uji pada hewan coba dan uji klinis pada manusia.
Di Universitas Diponegoro, Neni Susilaningsih, peneliti dari Fakultas Kedokteran, mengungkapkan bahwa hasil uji klinis menunjukkan bahwa pemberian Tolak Angin dapat meningkatkan jumlah limfosit dalam darah serta memperbaiki respons imun tubuh.
"Pada uji khasiat, kami juga mengukur beberapa parameter seperti kadar kreatinin, ureum, fungsi ginjal, hati, hemoglobin, dan leukosit, dan hasilnya tidak ada perbedaan signifikan antara yang diberi Tolak Angin dan yang tidak," kata Neni.
Penelitian ini semakin memperkuat klaim bahwa Tolak Angin tidak hanya aman untuk dikonsumsi, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata untuk kesehatan tubuh, terutama dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Tolak Angin, Dari Jamu Rebusan ke Obat Herbal Terstandar
Dengan hasil uji toksisitas dan uji khasiat yang memadai, Tolak Angin pun berhasil dipromosikan menjadi obat herbal terstandar (OHT). Perubahan status ini bukan hanya soal label, tetapi juga kualitas dan manfaat yang telah teruji dengan baik.
Dengan mengutamakan penelitian ilmiah yang transparan, Tolak Angin kini bisa diterima secara lebih luas oleh masyarakat sebagai produk yang tidak hanya mengandalkan tradisi, tetapi juga bukti ilmiah yang solid.
Sebagai obat herbal terstandar, Tolak Angin kini tak hanya dikenal sebagai jamu tradisional yang biasa ditemui di warung atau toko jamu, tetapi sebagai produk kesehatan yang telah terbukti aman dan efektif untuk menjaga daya tahan tubuh.
Produk ini sudah melalui banyak riset ilmiah dan menjadi pilihan utama banyak orang, khususnya di musim hujan yang rentan membawa berbagai penyakit.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Livin Mandiri Dorong Transformasi Digital Transaksi Nasabah Ritel di Era Modern
- Rabu, 21 Januari 2026
Solusi Finansial Fleksibel Jadi Kunci Dukung Kebutuhan dan Gaya Hidup Modern
- Rabu, 21 Januari 2026
OJK Perkuat Perlindungan Konsumen Sektor Keuangan Agar Transaksi Lebih Aman
- Rabu, 21 Januari 2026
Harga Emas Antam Terus Naik, Saatnya Pertimbangkan Investasi Emas Sekarang
- Rabu, 21 Januari 2026
Chelsea Bersiap Sambut Vinicius Junior yang Diprediksi Pecahkan Rekor Transfer
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
Solusi Finansial Fleksibel Jadi Kunci Dukung Kebutuhan dan Gaya Hidup Modern
- Rabu, 21 Januari 2026
OJK Perkuat Perlindungan Konsumen Sektor Keuangan Agar Transaksi Lebih Aman
- Rabu, 21 Januari 2026
Harga Emas Antam Terus Naik, Saatnya Pertimbangkan Investasi Emas Sekarang
- Rabu, 21 Januari 2026
Chelsea Bersiap Sambut Vinicius Junior yang Diprediksi Pecahkan Rekor Transfer
- Rabu, 21 Januari 2026
Terpopuler
1.
Peran Baru OJK dalam Perlindungan Konsumen di Sektor Keuangan
- 21 Januari 2026
2.
JMA Syariah Targetkan Kenaikan Pendapatan 20% di 2026
- 21 Januari 2026
3.
Harga Emas Perhiasan Terkini 21 Januari 2026, Naik Pesat
- 21 Januari 2026
4.
Harga Emas Antam Pegadaian 21 Januari 2026 Naik Signifikan
- 21 Januari 2026
5.
MSIG Life Targetkan Pasar Kelas Menengah Atas di 2026
- 21 Januari 2026








