Megaproyek The Line Arab Saudi Bergeser Jadi Pusat Data AI

Megaproyek The Line Arab Saudi Bergeser Jadi Pusat Data AI
Senin, 02 Februari 2026 | 11:49:14 WIB

JAKARTA - Proyek kota futuristik The Line di Arab Saudi kembali mencuri perhatian dunia, namun kali ini bukan karena desainnya yang ultra-modern, melainkan karena perubahan besar dalam arah pengembangannya. Setelah lama dipromosikan sebagai kota linear supercanggih sepanjang 170 kilometer yang disebut mampu menampung hingga 9 juta orang, The Line kini dinilai lebih realistis bila difungsikan untuk kebutuhan lain yang sedang naik daun: infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Alih-alih menjadi kota tempat tinggal massal, megaproyek ini disebut berpotensi disulap menjadi pusat data raksasa yang mendukung kebutuhan server AI skala besar. Perubahan ini menandai babak baru bagi ambisi Arab Saudi, yang sejak awal menjadikan proyek Neom—termasuk The Line—sebagai simbol transformasi ekonomi pasca-minyak.

Dari Kota Linear untuk 9 Juta Orang, Kini Evaluasi Besar-besaran
Sejak pertama kali diumumkan, The Line terdengar seperti gambaran masa depan dalam film fiksi ilmiah. Dua bangunan raksasa sejajar dengan tinggi ratusan meter, tanpa mobil, tanpa jalan raya, dan seluruh aktivitas warganya ditopang oleh energi terbarukan. Konsep ini diposisikan sebagai wajah baru Arab Saudi dalam melepaskan ketergantungan pada minyak.

Namun, realitas pembangunan di lapangan tidak sesederhana gagasan di atas kertas. Membangun kota futuristik di tengah gurun menghadirkan tantangan besar, mulai dari logistik, teknologi, hingga biaya yang terus membengkak. Selain itu, jadwal pengerjaan juga dilaporkan mengalami kemunduran.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah Arab Saudi disebut melakukan evaluasi ulang terhadap skala dan fungsi The Line. Hasilnya, konsep kota raksasa untuk jutaan penduduk dianggap terlalu ambisius untuk diwujudkan sepenuhnya dalam waktu dekat. Perubahan prioritas nasional ikut mendorong pengkajian ulang agar proyek tetap bisa berjalan tanpa menjadi beban jangka panjang.

Biaya Membengkak dan Jadwal Molor, Konsep Awal Dinilai Terlalu Ambisius

Di dunia nyata, proyek sebesar The Line menuntut pembiayaan yang luar biasa besar. Ketika biaya pembangunan melonjak dan jadwal makin meleset, tekanan untuk menyesuaikan target pun menjadi tak terhindarkan.

Situasi ini membuat ide awal kota linear yang menampung jutaan penduduk mulai dipertanyakan kelayakannya, terutama jika dipaksakan dalam waktu singkat. Pemerintah Saudi disebut menilai bahwa membangun kota futuristik penuh hunian dan ruang publik masif akan membutuhkan waktu lebih panjang serta dana yang jauh lebih besar dari prediksi.

Kondisi ini menjadi titik balik penting: alih-alih mengejar mimpi arsitektur futuristik yang mahal, pemerintah mulai melihat kemungkinan fungsi lain yang lebih “masuk akal” dan tetap strategis bagi kepentingan negara.

Gelombang AI Mengubah Arah: The Line Disebut Cocok Jadi Hub Data

Saat konsep hunian massal dinilai sulit dikejar, muncul peluang baru yang justru lebih sesuai dengan kebutuhan global saat ini: AI. Ledakan penggunaan kecerdasan buatan membuat kebutuhan pusat data meningkat drastis di berbagai negara.

Pusat data AI tidak hanya membutuhkan ruang yang besar untuk menampung server, namun juga membutuhkan:

pasokan listrik yang stabil,

sistem pendinginan super efisien,

serta infrastruktur yang mampu berjalan tanpa henti.

Di sinilah The Line dianggap punya “keunggulan baru”. Alih-alih dipenuhi apartemen, taman kota, dan ruang publik, sebagian area The Line dinilai lebih realistis jika diarahkan sebagai hub pusat data serta infrastruktur pendukung AI.

Dengan kata lain, proyek raksasa ini tetap bisa “hidup” dan punya nilai strategis, meski fungsinya berubah jauh dari mimpi awal.

Dekat Laut Merah, Pendinginan Alami Jadi Keunggulan Infrastruktur AI

Salah satu alasan The Line disebut berpotensi menjadi pusat data AI adalah faktor geografisnya. Lokasi proyek yang dekat Laut Merah membuka peluang pemanfaatan pendinginan alami berbasis air laut.

Ini sangat penting, karena pusat data—terutama untuk kebutuhan AI—menghasilkan panas luar biasa besar. Dalam iklim panas seperti Arab Saudi, pendinginan menjadi komponen utama yang menentukan efisiensi operasional pusat data.

Dengan pendekatan tersebut, The Line bisa menawarkan solusi yang lebih masuk akal secara teknis: server tetap berjalan optimal, energi digunakan lebih efisien, dan biaya pendinginan dapat ditekan. Artinya, proyek yang awalnya dirancang untuk manusia bisa bertransformasi menjadi proyek yang melayani “otak digital” dunia.

Arab Saudi Geser Strategi: Dari Ikon Arsitektur ke Infrastruktur Digital Global

Perubahan arah The Line ini juga mencerminkan pergeseran strategi Arab Saudi yang lebih besar. Ketimbang memaksakan ikon arsitektur futuristik yang mahal, fokus pada pusat data dan AI dinilai lebih relevan dengan persaingan ekonomi global.

Pusat data dan AI kini bukan hanya soal teknologi, melainkan juga:

daya saing ekonomi,

magnet investasi,

serta posisi strategis di era komputasi modern.

Meski begitu, transformasi ini disebut belum sepenuhnya final. Rencana masih bisa berubah seiring evaluasi lanjutan. Namun satu hal menjadi pelajaran penting: bahkan proyek paling ambisius sekalipun harus menyesuaikan diri dengan realitas.

The Line yang dulu dibayangkan sebagai kota masa depan penuh manusia, kini mungkin akan lebih sunyi—namun justru dipenuhi server AI yang bekerja tanpa henti di balik dinding raksasa gurun.

Reporter: Gemilang Ramadhan