Pakar Jerman Nilai Eropa Tertinggal Jauh dari China Soal Baterai

Pakar Jerman Nilai Eropa Tertinggal Jauh dari China Soal Baterai
Senin, 02 Februari 2026 | 08:10:47 WIB

JAKARTA – Dominasi China dalam industri kendaraan listrik bukan lagi sekadar soal penjualan mobil, tetapi sudah merambah ke jantung teknologi paling krusial: baterai. Dari sudut pandang inilah pakar otomotif Jerman, Ferdinand Dudenhöffer, menilai bahwa Eropa kini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan bahkan tertinggal sangat jauh.

Dalam penilaiannya, Dudenhöffer menyebut Eropa tertinggal setidaknya 20 tahun dari China dalam hal teknologi baterai. Ketertinggalan itu bukan asumsi semata, melainkan terlihat jelas dari realitas pasokan baterai kendaraan listrik di benua biru yang sangat bergantung pada perusahaan China.

Pasalnya, lebih dari 70 persen baterai kendaraan listrik Eropa pada 2025 dipasok oleh perusahaan China. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa industri otomotif Eropa, yang selama ini dikenal kuat dalam mesin dan rekayasa kendaraan, kini menghadapi tantangan serius saat dunia bergerak ke era elektrifikasi.

Eropa Terpukul: Ketergantungan Pasokan Baterai dari China

Disitat dari laman Carnewschina yang mengutip sebuah wawancara dengan surat kabar Tiongkok Global Times, Dudenhöffer memberikan penilaian tentang posisi Eropa dalam persaingan global kendaraan listrik.

Komentarnya muncul ketika produsen mobil China melaporkan penjualan terobosan di Eropa, dengan volume bulanan melebihi 100.000 unit untuk pertama kalinya pada Desember 2025, dan meraih pangsa pasar 9,5 persen.

Lonjakan penjualan tersebut sekaligus mempertegas bahwa produsen mobil China bukan lagi pemain “tamu” di pasar Eropa. Mereka mulai menjadi kompetitor serius yang bukan hanya menawarkan produk murah, tetapi juga membawa teknologi yang lebih efisien dan cepat dikembangkan.

Dudenhöffer menilai bahwa salah satu faktor utama yang membuat produsen China mampu menembus pasar Eropa adalah keunggulan biaya yang sangat besar, terutama di komponen inti kendaraan listrik: baterai.

Adapun keunggulan biaya yang dimiliki oleh produsen Tiongkok sangat besar, dengan biaya produksi baterai sekitar 30 persen lebih rendah, daripada pesaingnya di Eropa dan siklus pengembangan yang dipersingkat hingga 50 persen.

Keunggulan ini menjadi pukulan bagi industri otomotif Eropa, karena bukan hanya kalah harga, tetapi juga kalah kecepatan inovasi. Dalam era EV, siapa yang lebih cepat melahirkan teknologi baru akan memimpin pasar.

Produsen Baterai Eropa Tersendat: Northvolt hingga ACC Terhambat

Di sisi lain, Eropa sendiri belum mampu membangun fondasi industri baterai yang solid. Bahkan, perusahaan-perusahaan yang sempat digadang-gadang sebagai tulang punggung baterai Eropa justru mengalami kendala serius.

Sementara itu, produsen baterai Eropa berjuang untuk mendapatkan daya tarik, dengan Northvolt dari Swedia menghadapi kebangkrutan karena kekurangan teknis dan keterlambatan pengiriman, sementara ACC dari Prancis telah menunda rencana perluasan pabrik.

Hambatan ini memperbesar jurang persaingan. Saat perusahaan Eropa menghadapi persoalan teknis dan keterlambatan produksi, raksasa China justru memperluas kapasitas, mempercepat inovasi, dan memperkuat rantai pasok global.

Akibatnya, ketergantungan Eropa terhadap China semakin sulit diputus. Apalagi, baterai bukan komponen yang bisa diganti secara instan—ia membutuhkan teknologi, infrastruktur pabrik, dan rantai pasok bahan baku yang panjang.

Raksasa China Perluas Jejak di Eropa: Dari Pemasok Jadi Produsen

China tidak hanya berhenti sebagai pemasok komponen baterai. Perusahaan-perusahaan besar asal Negeri Tirai Bambu kini mulai aktif membangun basis manufaktur langsung di Eropa.

Pasalnya, raksasa baterai asal China seperti CATL dan Gotion High-Tech telah melangkah lebih jauh, yang tidak hanya memasok komponen, tetapi juga aktif membangun kehadiran manufaktur di Eropa.

Hal tersebut menandai ekspansi China dalam pasar otomotif di Eropa kian meluas.

Contohnya sudah terlihat jelas. Salah satu langkah besar adalah usaha patungan yang dilakukan CATL bersama produsen otomotif Jerman.

Sebagai contoh usaha patungan CATL dengan BMW yang telah memulai produksi di Jerman.

Selain itu, kerja sama lintas negara juga terjadi pada pengembangan teknologi baterai murah yang kini menjadi primadona untuk menekan harga EV.

Kemudian kemitraan BYD dengan Stellantis untuk mengembangkan baterai lithium besi fosfat berbiaya rendah telah memasuki produksi massal.

Dengan semakin banyaknya pabrik dan kerja sama produksi di Eropa, posisi China makin strategis: bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga ikut menentukan arah industri EV di benua tersebut.

Bukan Hanya Baterai: Pengemudian Otomatis hingga Kokpit Pintar

Menurut Dudenhöffer, ketertinggalan Eropa dari China tidak berhenti di teknologi baterai saja. Ada bidang lain yang kini menjadi kunci daya saing kendaraan modern, yakni teknologi pintar.

Kesenjangan Eropa dengan China bukan hanya di baterai, melainkan teknologi penting lainnya.

“Perusahaan-perusahaan Tiongkok di bidang seperti pengemudian otomatis dan kokpit pintar, seperti QCraft, Horizon Robotics, Xiaomi, dan Huawei, memimpin tren ini dan bukannya didominasi oleh produsen Eropa dan Amerika,” ujar Dudenhöffer.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa persaingan EV masa depan tidak hanya soal jarak tempuh, tetapi juga soal kecerdasan kendaraan: kemampuan mengemudi otomatis, sistem hiburan, konektivitas, hingga pengalaman digital di dalam kabin.

Data juga menguatkan posisi dominan China.

Data Badan Energi Internasional menunjukkan bahwa China saat ini mengendalikan 75 persen kapasitas produksi baterai global, dengan kepemimpinan khusus dalam teknologi baterai litium besi fosfat.

Peringatan untuk Eropa: Jika Bertahan dengan Cara Lama, Bisa Kalah Total

Dudenhöffer menegaskan, jika produsen mobil Eropa terus bergantung pada rantai pasokan lokal yang tidak efisien, maka mereka akan kehilangan momentum transisi besar-besaran menuju kendaraan listrik.

Dudenhöffer juga menyampaikan jika produsen mobil Eropa terus bergantung pada rantai pasokan lokal yang tidak efisien, maka akan sepenuhnya kehilangan transisi.

Ia juga mengingatkan kemitraan yang sedang berlangsung antara perusahaan Tiongkok dan Eropa dapat mengubah Eropa dari “pusat konsumsi baterai” menjadi tempat uji coba teknologi Sino-Jerman.

Dengan kata lain, Eropa masih punya peluang untuk mengejar ketertinggalan—namun hanya jika bersedia belajar, beradaptasi, dan membangun strategi industri yang lebih efisien. Jika tidak, dominasi China dalam teknologi kendaraan listrik bisa menjadi kenyataan permanen di pasar global.

Reporter: Gemilang Ramadhan