Ford-Xiaomi Tegaskan Tak Ada Rencana Patungan Produksi Mobil Listrik AS
JAKARTA – Rumor mengenai rencana besar di industri kendaraan listrik kembali mengemuka. Kali ini, sorotan tertuju pada dua nama besar dari dua dunia berbeda: Ford sebagai raksasa otomotif Amerika Serikat dan Xiaomi yang dikenal sebagai perusahaan teknologi asal Tiongkok. Keduanya disebut-sebut tengah menjajaki usaha patungan untuk memproduksi kendaraan listrik di Amerika Serikat.
Namun, kabar tersebut langsung dibantah oleh kedua perusahaan. Penegasan ini sekaligus menutup spekulasi yang sempat menarik perhatian publik, mengingat isu kolaborasi produsen mobil Tiongkok dengan perusahaan AS menjadi topik sensitif di tengah pembatasan regulasi yang sedang berlangsung di pasar Amerika.
Bantahan Resmi: Xiaomi Sebut Laporan “Salah”
Klaim mengenai adanya negosiasi usaha patungan ini dilaporkan memantik perhatian karena dianggap membuka peluang kerja sama lintas negara yang tidak biasa. Apalagi, hubungan dagang dan kebijakan industri otomotif antara AS dan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir berada dalam tekanan yang cukup kuat.
Dilaporkan Carnewschina pada Minggu waktu setempat, Xiaomi menyatakan bahwa laporan tentang negosiasi dengan Ford mengenai usaha patungan adalah salah karena perusahaan tersebut belum melakukan diskusi semacam itu.
Xiaomi juga menegaskan bahwa saat ini mereka tidak menjual produk atau jasa di Amerika Serikat. Pernyataan ini menjadi poin penting karena memperjelas posisi perusahaan yang memang belum masuk langsung ke pasar AS, setidaknya untuk lini produk maupun layanan resminya.
Ford Ikut Menepis: “Sepenuhnya Tidak Benar”
Tak hanya Xiaomi, Ford pun memberikan respons serupa. Perusahaan otomotif yang bermarkas di Amerika Serikat itu menyatakan bahwa informasi mengenai usaha patungan dengan Xiaomi tidak berdasar.
Ford mengeluarkan tanggapan serupa, menggambarkan laporan tersebut sebagai sepenuhnya tidak benar dan tanpa dasar faktual.
Bantahan ini mempertegas bahwa hingga saat ini tidak ada kesepakatan atau bahkan proses negosiasi yang berjalan sebagaimana rumor yang beredar. Pernyataan tegas dari Ford juga menandakan bahwa isu tersebut bukan sekadar disalahpahami, melainkan benar-benar dianggap keliru oleh perusahaan.
Financial Times Sebut Ada Diskusi Awal, Tapi Tak Terkonfirmasi
Sebelumnya, Financial Times melaporkan bahwa empat orang yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa Ford telah mengadakan diskusi awal dengan Xiaomi tentang potensi kerja sama yang dapat mengarah pada produksi kendaraan listrik di Amerika Serikat.
Dalam laporan yang sama, disebutkan pula bahwa Ford telah berkomunikasi dengan BYD dan produsen mobil Tiongkok lainnya mengenai potensi kerja sama di pasar AS. Meski demikian, klaim-klaim tersebut tidak dikonfirmasi oleh kedua perusahaan terkait.
Dengan adanya bantahan terbuka dari Ford dan Xiaomi, laporan tersebut kini diposisikan sebagai informasi yang belum terbukti dan tidak memiliki penguatan dari pihak resmi.
Minat Ford pada EV Tiongkok Pernah Terungkap ke Publik
Meski rumor patungan ini dibantah, ketertarikan Ford terhadap perkembangan kendaraan listrik Tiongkok bukanlah hal baru. Pernyataan publik dari para eksekutif Ford sebelumnya memang pernah menyoroti kekuatan teknologi kendaraan listrik dari Tiongkok.
CEO Ford, Jim Farley secara terbuka memuji kendaraan listrik Tiongkok dan mengimpor Xiaomi SU7 untuk penggunaan pribadi.
Ia juga memperingatkan bahwa pesaing Tiongkok menimbulkan ancaman signifikan bagi produsen mobil Barat dan mengatakan bahwa perusahaan Tiongkok kemungkinan akan memasuki pasar AS.
Fakta ini menjadi salah satu alasan mengapa rumor kerja sama Ford dan Xiaomi terasa “masuk akal” bagi sebagian pengamat. Namun, kekaguman atau ketertarikan pada produk tidak otomatis berarti adanya rencana usaha patungan, apalagi dalam konteks produksi di Amerika Serikat.
Regulasi AS Makin Ketat terhadap Produk Otomotif Tiongkok
Dalam lanskap kebijakan yang lebih luas, Amerika Serikat memang tengah memperketat akses produk dan teknologi otomotif asal Tiongkok. Pemerintah AS telah mengenakan tarif pada kendaraan impor Tiongkok dan mempertahankan pembatasan pada perangkat lunak dan perangkat keras Tiongkok yang digunakan dalam kendaraan terhubung.
Para anggota parlemen AS juga telah menyatakan keprihatinan tentang kerja sama antara produsen mobil AS dan perusahaan teknologi Tiongkok. Di sisi lain, Ford diketahui telah menandatangani perjanjian lisensi dengan CATL untuk menggunakan teknologi baterai dalam produksi AS.
Situasi ini menggambarkan dilema industri: di satu sisi, teknologi kendaraan listrik Tiongkok dianggap maju dan kompetitif, tetapi di sisi lain ada hambatan kebijakan yang membuat kolaborasi langsung menjadi penuh risiko dan kontroversi.
Sementara itu, Xiaomi sendiri baru memasuki sektor otomotif pada 2024 lewat peluncuran kendaraan listrik pertamanya. Perusahaan tersebut berekspansi dari bisnis elektronik konsumen inti ke pasar mobil penumpang.
Produsen mobil Tiongkok, termasuk BYD, juga terus memperluas penjualan di Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Latin, termasuk lewat peningkatan produksi lokal di berbagai wilayah.
Pada akhirnya, penolakan dari Xiaomi dan Ford menegaskan bahwa saat ini tidak ada negosiasi usaha patungan yang sedang berlangsung antara kedua perusahaan untuk produksi kendaraan listrik di Amerika Serikat.