IHSG Jumat Diproyeksi Fluktuatif Pasar Cermati Nilai Tukar Rupiah

Ilustrasi fluktuasi pergerakan saham (Gambar: NET)
Jumat, 29 Mei 2026 | 13:13:17 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang untuk bergerak secara fluktuatif dalam rentang yang terbatas pada sesi perdagangan Jumat (29/5/2026). Hal ini dikarenakan para pelaku pasar diduga masih memantau pergerakan nilai tukar rupiah, aliran modal asing, serta situasi geopolitik dunia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hans Kwee, seorang pengamat pasar modal yang juga merupakan Co-Founder Pasardana, memproyeksikan bahwa laju IHSG pada perdagangan Jumat (29/5/2026) bakal cenderung tertahan.

“IHSG diperkirakan bergerak dengan support di kisaran 5.950-6.000 dan resistance di area 6.200-6.286,” ujarnya, Kamis (28/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan penuturan Hans, investor di pasar modal masih akan memperhatikan fluktuasi nilai tukar rupiah, pergerakan dana investor asing, serta kondisi geopolitik internasional sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Alrich Paskalis Tambolang selaku Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa indikator teknikal IHSG sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan, walau ruangnya masih cukup terbatas.

“Stochastic RSI menunjukkan potensi reversal ke arah pivot dan histogram MACD negatif mulai menyempit, sehingga IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.000-6.200,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpendapat bahwa tertekannya nilai tukar rupiah menjadi faktor krusial yang membayangi laju indeks saham domestik dalam kurun waktu dekat.

“Depresiasi rupiah berpotensi menekan IHSG, meskipun sifatnya jangka pendek, dengan pergerakan indeks yang cenderung fluktuatif,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nafan menjabarkan bahwa melemahnya mata uang rupiah dipicu oleh perpaduan sentimen dari luar maupun dalam negeri, seperti keperkasaan mata uang dolar AS, konstelasi geopolitik, hingga siklus pengiriman kembali (repatriasi) dividen oleh pemodal luar negeri sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Jika pelemahan rupiah berlangsung agresif, biasanya diikuti oleh aksi jual bersih investor asing,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan