Imbas Tensi Geopolitik, Nilai Bitcoin Turun ke Titik Terendah 7 Pekan
JAKARTA – Nilai mata uang kripto Bitcoin (BTC) sempat mengalami tekanan yang cukup mendalam hingga menyentuh titik paling rendah dalam kurun waktu tujuh minggu pada Selasa (2/6/2026).
Kondisi ini terjadi bersamaan dengan melonjaknya ketidakpastian situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta kian meredupnya harapan akan hadirnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan data yang dihimpun dari CoinMarketCap pada pukul 06.15 WIB, nilai kapitalisasi pasar aset kripto secara global mengalami penyusutan sebesar 2,49% hingga menjadi US$ 2,44 triliun.
Di sisi lain, harga Bitcoin (BTC) pada hari ini mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,09% menuju level US$ 71.345 per koin, atau setara dengan kisaran Rp 1,27 miliar dengan mengacu pada kurs Rp 17.862 per dolar AS.
Pergerakan Indeks CoinDesk 20 yang menjadi acuan performa dari 20 aset kripto dengan skala terbesar juga memperlihatkan pelemahan sebesar 2,65%. Komoditas kripto lainnya seperti Ethereum mengalami penurunan 0,44% ke angka US$ 2.001, sedangkan Binance Coin (BNB) mencatatkan koreksi sebesar 2,25% menuju US$ 693.
Selanjutnya, XRP merosot sebesar 2,83% ke level US$ 1,29, dan Solana (SOL) terpangkas 1,32% hingga menjadi US$ 81,35. Kebalikannya, Dogecoin (DOGE) terpantau masih sanggup merangkak naik tipis sebesar 0,25% menuju level US$ 0,10.
Melansir informasi dari CoinTelegraph, Bitcoin sebelumnya sempat tersungkur hingga berada di bawah level US$ 71.000. Angka tersebut menjadi posisi paling rendah sepanjang tujuh pekan terakhir, atau terhitung sejak pertengahan bulan April 2026.
Gelombang tekanan pada pasar kripto kian menebal setelah bermunculan indikasi mengenai potensi kegagalan terwujudnya kesepakatan gencatan senjata berdurasi 60 hari antara AS dan Iran.
Keadaan ini melahirkan kecemasan baru di panggung keuangan global, yang kemudian mendorong para pelaku investasi untuk membatasi eksposur mereka pada jenis aset yang memiliki risiko tinggi.
“Perkembangan situasi ini benar-benar berbalik arah,” tulis The Kobeissi Letter melalui platform X sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Badan riset pasar tersebut memberikan peringatan bahwa baru sembilan hari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan bahwa titik temu kesepakatan dengan Iran bakal segera tercapai. Kendati demikian, situasi terkini menunjukkan Iran dikabarkan menarik diri dari proses diplomasi tersebut, bahkan melayangkan ancaman untuk menutup Selat Hormuz serta Selat Bab el-Mandeb, yang dikenal sebagai dua jalur distribusi energi paling krusial di dunia.
“Ini akan menjadi bulan yang penuh gejolak,” tulis The Kobeissi Letter sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Melonjaknya eskalasi ketegangan geopolitik tersebut ikut memicu harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik mendekati level US$ 95 per barel. Melambungnya harga komoditas energi ini kembali menghidupkan kecemasan terkait inflasi global yang sebenarnya sempat menunjukkan tanda-tanda mereda.
Meski demikian, bursa saham di AS masih relatif memperlihatkan ketahanan. Para pelaku pasar tampaknya menilai bahwa guncangan yang terjadi di Timur Tengah belum berada pada level yang cukup kuat untuk melahirkan aksi lepas saham secara masif di pasar modal.
Dari sudut pandang berbeda, Bitcoin juga terpantau belum mampu memanfaatkan momentum positif yang datang dari rilis data ekonomi AS. Institute for Supply Management (ISM) mempublikasikan bahwa indeks Purchasing Managers' Index (PMI) untuk sektor manufaktur AS merangkak naik menuju angka 54 pada Mei 2026, setelah sebelumnya berada di level 52,7 pada April. Pencapaian ini sekaligus menandai terjadinya ekspansi selama lima bulan berturut-turut sekaligus menjadi level paling tinggi sejak Mei 2022.
Pihak ISM memberikan penjelasan bahwa perolehan PMI manufaktur yang berada di atas angka 47,5 secara umum merefleksikan bahwa roda perekonomian AS masih melaju dalam koridor ekspansi. Kini, para pelaku pasar tengah mencermati beberapa batas teknikal yang diproyeksikan bakal mendikte arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.
Seorang analis dari Cryptic Trades memberikan pandangan bahwa wilayah US$ 71.800 menjadi level krusial yang wajib dijaga demi mempertahankan kelangsungan tren pertumbuhan. “Bitcoin harus bertahan di atas level ini untuk mempertahankan prospek bullish. Jika gagal, struktur tren naik berisiko batal,” tulisnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, pengamat kripto Rekt Capital memberikan sorotan terhadap ketidakmampuan Bitcoin untuk kembali menembus batas rekor paling tinggi tahun 2024 yang berada di kisaran US$ 73.800.
Berdasarkan analisisnya, apabila posisi tersebut tidak dapat direbut kembali dalam waktu dekat, maka peluang terjadinya koreksi harga yang lebih mendalam akan semakin terbuka lebar.
“Jika Bitcoin tidak segera merebut kembali level tertinggi 2024, rangkaian sinyal teknikal saat ini meningkatkan peluang harga kembali menguji area rekor tertinggi 2021,” ujar Rekt Capital sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Seiring berjalannya waktu dengan tensi geopolitik yang meninggi serta tekanan dari sektor energi, dinamika pergerakan Bitcoin untuk jangka pendek diprediksi masih akan sangat tersetir oleh dinamika hubungan bilateral antara AS dan Iran, serta pergeseran ekspektasi para investor terhadap laju inflasi dunia.