Wall Street Menguat 0,1 Persen Dipicu Saham AI dan Data Tenaga Kerja

Ilustrasi S&P 500 naik 0,1 persen dan berakhir di 7.610,51 poin (Gambar: NET)
Rabu, 03 Juni 2026 | 13:23:06 WIB

JAKARTA – Pasar saham Wall Street pada perdagangan Selasa (2/6/2026) ditutup mengalami sedikit penguatan di tengah sesi yang fluktuatif. Pergerakan saham-saham ini terjadi saat para pelaku pasar tengah mengamati sinyal yang simpang siur mengenai negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, serta sejumlah kabar terbaru dari sektor kecerdasan buatan (AI).

Indeks acuan S&P 500 mengalami kenaikan sebesar 0,1 persen dan tertahan di posisi 7.610,51 poin, yang menjadi momen pertama kalinya indeks ini finis di atas level 7.600. 

Sementara itu, indeks NASDAQ Composite yang dipenuhi saham-saham sektor teknologi berakhir sedikit di atas zona netral pada level 27.093,90 poin. 

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average yang mengukur saham-saham unggulan melaju 0,5 persen hingga mendarat di level 51.308,46 poin. Ketiga indeks utama tersebut sukses mencetak rekor penutupan tertinggi yang baru.

Kondisi geopolitik antara Washington dan Teheran dilaporkan kian memanas dalam beberapa minggu terakhir akibat insiden saling serang di kawasan Teluk serta aksi militer Israel di Lebanon. Perkembangan ini mengancam ketenangan gencatan senjata yang sempat berjalan sejak awal April lalu.

Ketidakjelasan mengenai kelanjutan dialog damai AS-Iran juga semakin kentara. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada Senin menyebutkan bahwa mereka memperoleh informasi mengenai tim negosiator Teheran yang memutuskan menyetop "dialog dan pertukaran teks" yang dijembatani dengan Washington akibat eskalasi militer di Lebanon serta pelanggaran gencatan senjata di seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon. Tasnim juga mengabarkan bahwa pihak Iran berniat untuk "sepenuhnya memblokir" jalur Selat Hormuz.

Donald Trump pada hari Senin kemudian memberikan penegasan bahwa pembicaraan dengan Iran "berlanjut, dengan kecepatan yang cepat" sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, Kantor Berita Fars Iran pada hari Selasa mewartakan hal yang bertolak belakang. Merujuk pada sumber yang memahami isu tersebut, dilaporkan bahwa saat ini tidak ada komunikasi teks yang berjalan dengan pihak AS. 

Media tersebut mengklaim bahwa proses komunikasi sengaja dijeda selama beberapa hari demi merumuskan nota kesepahaman awal antara kedua negara.

Trump selanjutnya memberikan respons balik terhadap kabar tersebut lewat platform Truth Social: ”laporan berita palsu yang menyatakan bahwa Republik Islam Iran dan AS berhenti berbicara beberapa hari yang lalu adalah salah dan keliru. 

Percakapan antara kami telah berlangsung terus-menerus, termasuk empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu, satu hari yang lalu, dan hari ini” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Ke mana arahnya, kami tidak pernah tahu, tetapi seperti yang saya katakan kepada Iran, 'Sudah waktunya, dengan cara apa pun, bagi Anda untuk membuat kesepakatan.'' Anda telah melakukan ini selama 47 tahun, dan ini tidak dapat dibiarkan berlanjut lebih lama lagi!'" Tambah Trump sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri AS Rubio dalam sesi dengar pendapat di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat memberikan pernyataan bahwa pihaknya masih berada dalam proses pembicaraan.

Selain sentimen Timur Tengah, pergerakan saham di sektor teknologi turut menyita perhatian akibat rentetan dinamika di industri AI. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah langkah Alphabet yang merencanakan penghimpunan modal ekuitas dalam skala besar senilai USD80 miliar. Induk usaha Google ini mengambil langkah tersebut demi menyokong kebutuhan dana infrastruktur AI mereka yang melonjak tajam.

Aksi korporasi ini meliputi penawaran umum yang dijamin senilai USD30 miliar, yang dialokasikan pada saham depositari perwakilan saham preferen konvertibel wajib, saham biasa Kelas A, serta saham modal Kelas C. 

Selain itu, terdapat penawaran di pasar terbuka senilai USD40 miliar yang dijadwalkan meluncur pada triwulan ketiga tahun 2026. Perusahaan raksasa Berkshire Hathaway juga telah menyepakati pemberian suntikan dana sebesar USD10 miliar lewat skema penempatan terbatas.

Michael O’Rourke, selaku Kepala Strategi Pasar di Jones Trading, menilai bahwa langkah penggalangan dana berskala besar oleh Google ini memicu tekanan bagi korporasi-korporasi penyedia layanan hyperscaler lain, mengingat pasar memproyeksikan mereka harus mengambil langkah serupa.

“Pernyataan Jensen Huang bahwa ia memperkirakan Marvell Technology akan menjadi perusahaan bernilai triliun dolar suatu hari nanti telah membuat sahamnya naik hampir 30 persen. Saham perusahaan memori melemah setelah SK Hynix mengatakan berencana untuk menggandakan kapasitas produksi memorinya selama lima tahun ke depan," kata O’Rourke kepada, Rabu (3/6/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kabar dari Alphabet ini mencuat hanya berselang sehari setelah momen krusial di industri AI, yaitu saat Anthropic mengajukan draf pernyataan pendaftaran secara tertutup untuk rencana melantai di bursa. Perusahaan rintisan pembuat Claude ini sukses mendahului rival utamanya, OpenAI selaku pengembang ChatGPT, dalam perlombaan menuju status perusahaan publik.

Di sektor pasar lainnya, saham Marvell Technology melesat melampaui 32 persen setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, melontarkan pandangan bahwa emiten semikonduktor tersebut berpotensi menjadi "perusahaan triliun dolar" berikutnya. Pada penutupan sesi terakhir, nilai kapitalisasi pasar Marvell tercatat berada sedikit di bawah angka USD192 miar.

Huang pun mengklaim bahwa Nvidia memiliki ketersediaan pasokan yang memadai untuk memenuhi lonjakan masif terhadap unit pemrosesan pusat (CPU) serta unit pemrosesan grafis (GPU) yang dipicu oleh tren AI. Di sisi lain, saham Nvidia terkoreksi sebesar 0,7 persen.

Sementara itu, Hewlett Packard Enterprise melaporkan performa triwulan kedua yang sukses memecahkan rekor sekaligus mempercepat realisasi target finansial jangka panjang mereka hingga dua tahun lebih awal. 

Hal ini didorong oleh ekspansi pusat data AI yang memicu permintaan terhadap produk server serta jaringan mereka. Dampaknya, saham perusahaan ini meroket hingga di atas 19 persen.

Beralih ke rilis data ekonomi, atensi pasar tertuju pada laporan Ringkasan Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) edisi April. Mengacu pada data Biro Statistik 

Tenaga Kerja, jumlah lowongan pekerjaan pada bulan April menyentuh 7,618 juta. Angka ini melampaui estimasi konsensus yang berada di angka 6,860 juta serta angka revisi naik pada bulan Maret sebesar 6,887 juta, sekaligus menjadi capaian tertinggi sejak Mei 2024.

Indikator tersebut memperlihatkan kekuatan pasar tenaga kerja di AS, yang mempertegas pola pertumbuhan dari laporan ketenagakerjaan bulan Maret dan April yang rilis sebelumnya.

Hal ini diprediksi bakal menjaga fokus bank sentral Federal Reserve (The Fed) pada aspek inflasi dalam tugas mandat gandanya. Para pelaku pasar masih menanti rilis laporan data pekerjaan bulan Mei pada hari Jumat nanti.

"Laporan lowongan pekerjaan ini bernada hawkish untuk prospek suku bunga Fed, tetapi sinyalnya cukup lemah setelah mempertimbangkan detail laporan tersebut," kata kepala ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank, Bill Adams sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Untuk saat ini, pasar keuangan lebih fokus pada Selat Hormuz sebagai pendorong prospek suku bunga. Jika konflik Iran bergeser ke belakang, kendala pasokan tenaga kerja kemungkinan akan mengambil alih peran sentral dalam perhitungan pasar," tambah Adams sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan