IHSG Berpotensi Melemah ke 5.884, Ini Rekomendasi Saham Hari Ini

Ilustrasi IHSG Melemah (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 04 Juni 2026 | 12:32:21 WIB

JAKARTA – Lajur Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih rentan mengalami penurunan pada sesi transaksi Kamis (4/6/2026), pasca ambles 4,12 persen menuju posisi 5.941,066 pada perdagangan Rabu.

Pengamat pasar modal dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memaparkan bahwa para pelaku pasar cenderung bersikap defensif seiring dengan meningkatnya tekanan dari sentimen luar negeri yang mengintervensi pasar modal dalam negeri.

Fluktuasi kurs rupiah terhadap dollar AS turut menjadi perhatian utama para pemodal, di samping adanya evaluasi serta proyeksi terbaru dari sejumlah institusi global mengenai prospek perekonomian domestik. Dengan dinamika tersebut, IHSG diestimasikan bergerak pada area batasan support 5.884 hingga resistance di level 5.967.

“Untuk besok Kamis kami perkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan support di 5884 and resist 5967 dengan sentimen di mana investor masih akan mencermati pergerakan nilai tukar Rupiah dan juga outlook dari lembaga asing terhadap Indonesia,” ujar Herditya, Rabu malam (3/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menyikapi situasi ini, Herditya menyodorkan sejumlah instrumen saham yang dapat dipantau oleh para pelaku pasar ritel untuk agenda perdagangan Kamis ini, antara lain; Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang diproyeksikan menguji target harga pada kisaran Rp 8.500 sampai Rp 9.125.

Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga direkomendasikan dengan estimasi pergerakan harga pada rentang Rp 4.220 hingga Rp 4.320. Kemudian, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) diprediksi akan berfluktuasi di kisaran Rp 1.340 sampai Rp 1.430.

Di samping itu, analis dari sekuritas lain juga merilis beberapa saham potensial yang layak dicermati oleh investor ritel pada hari Kamis ini dengan perincian sebagai berikut;

Analis Teknikal Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menyarankan untuk memantau saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Emiten INDF dinilai masih berpeluang melanjutkan tren penurunan hingga menyentuh area proyeksi Fibonacci 161,8 persen dari wave a, sebagai kalkulasi target wave c yang menandai selesainya fase wave (b) secara menyeluruh.

Kendati demikian, proyeksi ini tetap dinilai logis dengan syarat harga saham INDF mampu bertahan di atas level Rp 6.000 per lembar saham.

Berdasarkan indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD), tren penurunan (bearish) terlihat masih dominan yang mengindikasikan bahwa laju tekanan jual dari pasar belum sepenuhnya mereda.

Pada transaksi Rabu, saham INDF terpantau terkoreksi 4,94 persen dari hari sebelumnya dan bertengger di level Rp 6.250 per saham.

Berkaca pada kondisi teknikal tersebut, ia menyarankan opsi buy on weakness dengan menetapkan area support pada Rp 6.000 dan target resistance di level Rp 6.750 per saham.

Sementara itu, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menjagokan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Saham INCO terpantau masih terjebak dalam jalur penurunan karena pergerakannya secara konsisten berada di bawah garis MA10.

Saat ini, pergerakan saham tersebut diprediksi akan menguji level support psikologis pada rentang Rp 4.100 sampai Rp 4.030 per saham, di mana indikator Relative Strength Index (RSI) terpantau mulai mendekati zona jenuh jual (oversold).

Karakteristik teknikal ini menjadikan saham INCO cukup prospektif untuk dipantau lewat strategi buy on weakness. Jika momentum pembalikan arah (technical rebound) terjadi, nilai sahamnya berpeluang merangkak naik menuju level resistance di harga Rp 4.700 per saham.

Namun, para pemodal disarankan untuk tetap menerapkan disiplin pembatasan risiko andai harga saham merosot melewati level support Rp 4.000 per lembar.

Pada sesi perdagangan Rabu (3/6/2026), saham INCO ditutup merosot 8,67 persen dari posisi penutupan hari sebelumnya menuju level Rp 4.320 per saham. Audi menyodorkan opsi tindakan buy on weakness dengan batas support di Rp 4.000 dan target resistance di Rp 4.700 per saham.

Di lain pihak, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menitikberatkan perhatian pada saham PT Petrosea Tbk (PTRO). Kendati grafik Stochastics %K-%D beserta RSI masih memancarkan indikasi positif, pergerakan saham PTRO untuk saat ini dinilai masih terjebak dalam periode konsolidasi turun (bearish consolidation).

Lebih lanjut, indikator MA20 dan MA60 juga masih memperlihatkan arah yang melandai ke bawah, mencerminkan sinyal bahwa tren pelemahan harga saham belum sepenuhnya berakhir.

Ditinjau dari aspek volume transaksi harian, perputaran saham PTRO terdeteksi mengalami penurunan yang menggambarkan belum optimalnya ketertarikan pasar untuk melakukan akumulasi beli.

Pada penutupan bursa hari Rabu (3/6/2026), saham PTRO ditutup anjlok 14,37 persen jika dibandingkan dengan posisi hari sebelumnya ke level Rp 4.110 per lembar saham. Terhadap emiten ini, Nafan menyarankan sikap hold dengan mematok level support di Rp 3.170 dan target perkiraan resistance di Rp 5.450 per saham.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Reporter: Gemilang Ramadhan