Harga Emas Dunia Merosot 2,7 Persen Akibat Penguatan Dolar AS

ILUSTRASI, Emas Batangan (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 25 Juni 2026 | 12:53:55 WIB

NEW YORK - Harga emas internasional merosot ke posisi terendah dalam lebih dari tujuh bulan pada sesi perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat.

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi penyebab utama yang menekan logam mulia tersebut.

Harga emas spot ditutup melemah 2,7% ke level US$ 3.999,21 per ons troi setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup anjlok 3,2% ke level US$ 4.0016,45 per ons troi.

Mengutip dari Reuters, penurunan harga emas terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS yang menyebabkan komoditas logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Di saat yang sama, pelaku pasar semakin yakin bahwa The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Perkiraan tersebut semakin kuat setelah bank sentral AS memberikan sinyal hawkish dalam rapat kebijakan moneter terbaru. Kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat konflik Iran juga memicu spekulasi adanya pengetatan kebijakan moneter berikutnya.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, analis logam independen Tai Wong mengatakan, “Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September. Kombinasi sikap hawkish The Fed, lonjakan dolar AS ke level tertinggi dalam 13 bulan, dan menurunnya ekspektasi inflasi memberikan tekanan besar terhadap logam mulia,”.

Meskipun demikian, ia menilai potensi penurunan harga emas yang lebih dalam masih cukup terbatas.

Lewat analisisnya, terdapat level penahan yang kuat di bawah US$ 3.900 per ons troi dan aksi pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara terpantau masih terus berlangsung.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Emas kemungkinan akan memasuki fase konsolidasi yang cukup panjang karena minat investor terhadap aset ini mulai berkurang,” ujarnya.

Berdasarkan historisnya, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen yang memiliki bunga.

Sejak memecahkan rekor tertinggi di angka US$ 5.594,82 per ons troi pada akhir Januari 2026, harga emas saat ini telah terkoreksi hingga lebih dari US$ 1.600 per ons troi.

Menanggapi tren tersebut, analis ING menurunkan proyeksi harga emas untuk paruh kedua tahun ini.

ING kini memperkirakan rata-rata harga emas berada di kisaran US$ 4.300 per ons troi pada kuartal III-2026 dan US$ 4.600 per ons troi pada kuartal IV-2026.

Nilai tersebut terbilang lebih rendah jika dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang masing-masing berada di angka US$ 4.850 per ons troi dan US$ 5.000 per ons troi.

Para pelaku pasar saat ini sedang menantikan perilisan data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan keluar Kamis (25/6/2026). Data inflasi yang menjadi acuan utama The Fed ini dinilai dapat menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga ke depan.

Analis Senior FXTM Lukman Otunuga menyebutkan, adanya sinyal hawkish tambahan dari otoritas The Fed atau data ekonomi yang mendukung kenaikan suku bunga berpotensi memperpanjang tekanan pada harga emas.

Tidak hanya emas, komoditas logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan yang dalam. Harga perak spot ambrol 6,75% menjadi US$ 57,43 per ons dan sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. 

Platinum merosot 4,21% menuju US$ 1.585,2 per ons, sementara palladium jatuh 5,07% ke posisi US$ 1.171,95 per ons.

Standard Chartered menilai bahwa perak tergolong masih rentan terhadap gejolak jangka pendek akibat keluarnya aliran dana dari produk investasi berbasis exchange-traded products (ETP). 

Meskipun demikian, kondisi pasokan yang masih terbatas diproyeksikan bisa mendorong pemulihan harga dalam beberapa bulan mendatang.

Reporter: Gemilang Ramadhan