Saham Chip Tertekan, Nasdaq Melemah 0,43 Persen di Wall Street

Ilustrasi: Saham sektor chip kembali tertekan, menyebabkan Nasdaq melemah di Bursa Wall Street. (Gambar: NET)
Kamis, 25 Juni 2026 | 13:42:10 WIB

NEW YORK – Indeks saham di Wall Street mayoritas berakhir di teritori negatif pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat dipicu oleh berlanjutnya tekanan jual terhadap saham-saham semikonduktor.

Tekanan di sektor chip kembali menyeret Nasdaq ke zona merah sementara pelaku pasar menantikan rilis laporan keuangan produsen memori Micron Technology yang dinilai menjadi penentu arah pasar teknologi dalam jangka pendek sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Nasdaq Composite melorot 0,43 persen ke level 25.476,64, sedangkan S&P 500 melemah 0,1 persen menjadi 7.358,22. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average masih sanggup menanjak 182,06 poin atau 0,35 persen ke posisi 51.848,9.

Aksi jual di sektor semikonduktor yang kembali berlanjut setelah koreksi tajam pada hari sebelumnya menjadi pemicu utama sentimen negatif ini. 

Saham Micron Technology ditutup merosot 0,3 persen dan Sandisk melemah 2,5 persen setelah sempat anjlok sekitar 13 persen pada Selasa. 

Tekanan juga membayangi VanEck Semiconductor ETF (SMH) yang menjadi cerminan kinerja saham-saham chip global. ETF tersebut masih tertekan pasca anjlok sekitar 7 persen sehari sebelumnya, walaupun hanya turun tipis pada perdagangan Rabu. 

Para pelaku pasar saat ini sedang menanti laporan keuangan Micron yang akan dirilis pasca penutupan perdagangan. Konsensus analis yang dikumpulkan FactSet memproyeksikan perusahaan bakal mencetak laba US$ 20,83 per saham dengan pendapatan menyentuh US$ 35,75 miliar.

Penurunan di sektor teknologi kali ini dinilai sebagai bentuk konsolidasi setelah reli panjang yang mengerek valuasi saham-saham teknologi ke posisi yang tinggi. 

Chief Investment Officer RGA Investments, Rick Gardner, menyebutkan bahwa pelemahan di sektor teknologi merupakan bentuk koreksi yang sehat setelah lonjakan yang sangat agresif sepanjang tahun ini. “Investor mulai menyadari bahwa ekspektasi laba perusahaan teknologi sangat tinggi. Koreksi ini lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi menjelang musim laporan keuangan yang dimulai kembali pada Juli,” ujar Gardner sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Saham Micron sendiri masih mencatatkan kenaikan yang signifikan di sepanjang tahun 2026 dan sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada awal pekan ini, walaupun mengalami koreksi dalam beberapa sesi belakangan.

Selain sentimen dari sektor teknologi, pergerakan pasar juga terimbas oleh kejatuhan harga minyak dunia. Harga minyak Brent merosot 4,33 persen menjadi US$ 73,74 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tergelincir 3,92 persen ke level US$ 70,34 per barel. 

Merosotnya harga minyak ikut menyeret turun saham-saham energi seperti Exxon Mobil, Chevron, ConocoPhillips, dan SLB yang masing-masing melemah lebih dari 2 persen, sementara Energy Select Sector SPDR ETF (XLE) terkoreksi lebih dari 1 persen.

Penurunan harga energi ini pada gilirannya ikut mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun terpangkas hingga ke bawah 4,5 persen, yang mengindikasikan naiknya minat investor terhadap aset aman di tengah gejolak pasar.

Reporter: Gemilang Ramadhan