Tekanan Rupiah Dorong Lonjakan Simpanan Valas Perbankan 17,8 Persen

Ilustrasi: Simpanan valuta asing di perbankan melonjak 17,8% pada Mei 2026 seiring tekanan rupiah. (Gambar: NET)
Kamis, 25 Juni 2026 | 13:42:10 WIB

JAKARTA – Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) di industri perbankan mengalami pertumbuhan yang signifikan pada Mei 2026. Tren positif ini didorong oleh melesatnya penempatan dana simpanan valuta asing (valas) masyarakat bersamaan dengan terjadinya tekanan terhadap nilai tukar mata uang rupiah.

Berdasarkan laporan Bank Indonesia, total DPK yang dihimpun perbankan menyentuh angka Rp 9.698,7 triliun per Mei 2026, atau mencatatkan kenaikan sebesar 10,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Kenaikan DPK yang sangat ekspansif ini dipicu oleh simpanan valas yang melesat hingga 17,8% yoy pada Mei 2026, berakselerasi sangat tinggi jika dibandingkan dengan performa pada April 2026 yang hanya tumbuh 8,6% yoy. 

Di sisi lain, simpanan dalam denominasi mata uang rupiah terpantau bergerak stabil dengan pertumbuhan di level 9,6% yoy.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa lonjakan pada komponen DPK valas dipengaruhi oleh langkah pelaku pasar yang melakukan flight to quality serta upaya perlindungan nilai secara alami (natural hedging) di tengah fluktuasi nilai tukar yang penuh ketidakpastian.

"Depresiasi rupiah yang cukup persisten menekan ekspektasi pasar sehingga memicu pergeseran perilaku. Masyarakat maupun entitas bisnis cenderung menahan kepemilikan valas atau mengonversi rupiah ke dolar AS untuk mengamankan kewajiban impor dan pembayaran utang luar negeri," ujar Myrdal sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut penjelasan Myrdal dari aspek korporasi, peningkatan simpanan valas disokong oleh para pelaku ekspor yang memperoleh keuntungan dari kenaikan harga berbagai komoditas dunia sekaligus tren penguatan mata uang dolar AS.

"Kalau dari sisi korporasi, eksportir saat ini menikmati dampak lonjakan harga komoditas maupun nilai dolar yang semakin tinggi. Jadi wajar kalau tabungan maupun deposito valas mengalami kenaikan," kata Myrdal sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sedangkan dari aspek nasabah perorangan, Myrdal mencermati terdapat peningkatan ketertarikan masyarakat terhadap instrumen keuangan perbankan berdenominasi valas yang menawarkan tingkat keuntungan yang kompetitif.

"Pemilik dana memanfaatkan berbagai produk perbankan berbasis valas seiring tren penguatan dolar dalam beberapa bulan terakhir," ujar Myrdal sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan rilis data Bank Indonesia, instrumen tabungan valas berhasil tumbuh sebesar 29,9% yoy pada Mei 2026, sementara untuk instrumen deposito valas merangkak naik sebesar 27,9% yoy.

Myrdal menambahkan bahwa pertumbuhan DPK valas hingga periode ini masih didominasi oleh kelompok nasabah korporasi yang mencatatkan pertumbuhan 18,6% yoy pada Mei 2026.

"Secara nominal, korporasi menjadi penopang utama pertumbuhan DPK valas, khususnya dari eksportir yang menempatkan devisa hasil ekspor pada instrumen simpanan berjangka valas," kata Myrdal sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia memproyeksikan laju pertumbuhan simpanan valas ini berpeluang mengalami perlambatan pada semester kedua tahun ini apabila tekanan penguatan terhadap dolar AS mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

"Kalau dolar mulai melemah dan The Fed lebih akomodatif, ada kemungkinan porsi simpanan valas akan kembali menurun karena kebutuhan akumulasi dolar berkurang," jelas Myrdal sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lebih lanjut, ia memprediksi pertumbuhan DPK valas untuk keseluruhan industri perbankan akan mendarat di kisaran angka 10,38% pada akhir tahun 2026.

Di tempat terpisah, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, membenarkan adanya kenaikan perolehan DPK valas pada lembaga keuangan yang dipimpinnya, meskipun arah kebijakan perseroan tetap memberikan prioritas pada penghimpunan dana berbentuk rupiah.

"DPK valas memang ada kenaikan sedikit lebih tinggi. Namun, kami tetap fokus pada rupiah karena sejalan dengan pipeline kredit. DPK valas kami mayoritas berasal dari nasabah eksportir dan importir," ujar Lani sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sampai dengan posisi Mei 2026, total perolehan DPK dari CIMB Niaga berada di angka Rp 326,24 triliun atau mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,21% yoy.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) turut mencatatkan pertumbuhan DPK valas sebesar 9,82% yoy hingga Mei 2026, sedangkan perolehan DPK rupiah mereka menguat di level 8,38% yoy.

"DPK valas BRI tumbuh sekitar 9,82%. Namun, porsi DPK valas kami memang tidak terlalu besar karena BRI fokus pada segmen mikro sehingga konsentrasi utama tetap pada DPK rupiah," ujar Head of Liquidity and Funding Management Group BRI, Teguh Sulistyono sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan pandangan Teguh, situasi pelemahan nilai tukar rupiah saat ini nyatanya belum memberikan dampak yang masif pada perilaku para nasabah ritel di BRI untuk mengalihkan dana simpanan mereka ke instrumen mata uang asing.

"Sampai sekarang belum ada tanda-tanda pelemahan rupiah yang berdampak terhadap pertumbuhan DPK valas. Transaksi tukar valas ritel juga tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan," kata Teguh sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia kembali menegaskan bahwa pergerakan positif DPK valas di BRI lebih didasari oleh pemenuhan kebutuhan fungsi intermediasi perbankan dan bukan karena motif spekulasi pasar.

"Basis penyaluran kredit kami mayoritas dalam rupiah sehingga kebutuhan penghimpunan dana juga mengikuti struktur kredit tersebut," pungkas Teguh sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan