Menjelang Rilis Data AS Rupiah Hari Ini Diprediksi Tertekan

ILUSTRASI, Rupiah diperkirakan terus tertekan menjelang rilis data ekonomi AS hari ini. (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 02 Juli 2026 | 13:02:52 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini, Kamis (2/7/2026), diproyeksikan masih akan terus berada di bawah tekanan. Kondisi ini terjadi lantaran para pelaku pasar memilih untuk bersikap wait and see seraya menunggu perilisan beberapa data ekonomi Amerika Serikat (AS) serta pidato dari petinggi bank sentral AS, The Federal Reserve.

Pada sesi penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026) kemarin, mata uang rupiah tergelincir ke level Rp17.950 per dolar AS. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan yang dialami oleh sebagian besar mata uang di wilayah Asia akibat reli penguatan yang dialami dolar AS.

Merujuk pada data RTI Infokom, yuan China ditutup melemah sebesar 0,16%, dolar Hong Kong terpangkas 0,01%, yen Jepang menyusut 0,07%, won Korea Selatan merosot 0,19%, dolar Singapura turun 0,21%, baht Thailand melempem 0,21%, dan dolar Taiwan mengalami koreksi sebesar 0,15%.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa melemahnya rupiah beserta mayoritas mata uang di Asia dipicu oleh laporan data ketenagakerjaan AS yang mencatatkan hasil lebih kuat dari perkiraan. 

ondisi tersebut memicu spekulasi pasar bahwa otoritas The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat (hawkish).

Sementara dari faktor domestik, Lukman menyebutkan bahwa kinerja perdagangan internasional Indonesia yang kurang memuaskan turut memberikan dampak negatif terhadap pergerakan rupiah. 

Penurunan nilai ekspor serta munculnya defisit pada neraca perdagangan untuk pertama kalinya sejak April 2020 menjadi beban tambahan bagi mata uang Garuda.

Terkait aktivitas pasar hari ini, Lukman memperkirakan atensi para investor akan tertuju pada pidato pejabat The Fed, Christopher Warsh, serta perilisan data kinerja sektor manufaktur AS (ISM Manufacturing).

Di samping itu, pelaku pasar masih terus mencermati perkembangan negosiasi perdamaian antara AS dan Iran yang kini tengah berjalan di Qatar. 

Para investor juga diprediksi akan membatasi kepemilikan aset mereka di pasar negara berkembang (emerging markets) menjelang rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP), yang menjadi indikator vital bagi penentuan kebijakan suku bunga The Fed.

"Laju rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di lokasi berbeda, pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa rupiah masih memiliki kecenderungan untuk bergerak melemah pada perdagangan hari ini dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.010 per dolar AS.

Melalui hasil analisisnya, Ibrahim memaparkan bahwa faktor utama yang membebani rupiah datang dari ketidakpastian seputar kelanjutan dialog damai antara AS dan Iran. 

Hal ini menyebabkan premi risiko geopolitik di pasar keuangan tetap tinggi, walaupun volume produksi minyak mentah di AS telah mencetak rekor tertinggi yang berpotensi mempertebal pasokan global.

Di sisi lain, para pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi rilis rangkaian data ketenagakerjaan AS untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga pasar.

Laporan JOLTS menunjukkan bahwa jumlah lowongan kerja mengalami kenaikan menjadi 7,594 juta pada bulan Mei, angka yang melampaui ekspektasi pasar di level 7,3 juta.

Adapun fokus utama perhatian para investor pada transaksi hari ini akan beralih pada laporan perubahan tenaga kerja versi ADP serta data Nonfarm Payrolls (NFP) yang dirilis lebih awal karena pekan perdagangan di AS lebih pendek menjelang hari libur nasional.

Data ketenagakerjaan tersebut diperkirakan akan menjadi katalis utama yang menentukan arah pergerakan dolar AS maupun rupiah dalam jangka pendek.

Reporter: Gemilang Ramadhan