Rekomendasi Saham Grup Merdeka, Pilih MDKA, MBMA, atau EMAS persen

ILUSTRASI, Pendapatan MDKA melonjak 24% pada kuartal I-2026 didorong oleh harga emas yang menguat. (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 02 Juli 2026 | 13:02:53 WIB

JAKARTA – Capaian finansial jajaran emiten yang bernaung di bawah Grup Merdeka menunjukkan akselerasi positif sepanjang kuartal I-2026. Tren ini berjalan beriringan dengan mulainya fase operasional dari sejumlah proyek raksasa serta sokongan dari meroketnya harga komoditas di pasar.

Merujuk pada data berkala, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berhasil membukukan total pendapatan konsolidasi sebesar US$ 620,3 juta pada triwulan I-2026, atau mengalami eskalasi sebesar 24% secara tahunan (year on year/YoY). 

Sementara itu, EBITDA MDKA ikut melonjak tajam hingga 182% yoy ke level US$ 249,9 juta pada periode tiga bulan pertama tahun ini.

Berkat rapor hijau tersebut, MDKA mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 57,5 juta pada triwulan I-2026. Realisasi ini berhasil membalikkan keadaan finansial perseroan yang sempat menderita rugi bersih US$ 3,7 juta pada triwulan I-2025.

Sektor logam mulia emas tercatat menjadi motor penggerak utama EBITDA MDKA pada triwulan I-2026 dengan sumbangsih mencapai US$ 89 juta.

Di posisi berikutnya, Nickel Pig Iron (NPI) menyumbang US$ 67 juta, diikuti limonit sebesar US$ 48 juta, High-Grade Nickel Matte (HGNM) senilai US$ 25 juta, serta komoditas tembaga yang bertengger di angka US$ 19 juta.

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold Albert Saputro menjabarkan bahwa performa solid korporasi pada pembuka tahun 2026 dipicu oleh apresiasi harga jual emas di pasar global, lonjakan volume penjualan limonit, menebalnya margin komoditas nikel, serta kontribusi perdana dari aktivitas komersial Tambang Emas Pani.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kinerja ini menunjukkan ketahanan portofolio perusahaan yang terdiversifikasi dan mencerminkan fokus kami yang berkelanjutan pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan platform pertumbuhan utama di sektor emas, nikel, dan tembaga,” ujar dia dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).

Di lini bisnis nikel, anak usaha MDKA yaitu PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga mengukir pertumbuhan penjualan sebesar 24% yoy menjadi US$ 455,1 juta pada triwulan I-2026. 

Laju pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan volume pasokan bijih nikel, harga jual yang makin kompetitif, serta penguatan margin pada segmen Nickel Pig Iron (NPI). 

MBMA pun sukses membalikkan posisi dari rugi bersih entitas induk senilai US$ 3,5 juta pada triwulan I-2025 menjadi raihan laba US$ 29,9 juta pada triwulan I-2026.

Anak usaha MDKA lainnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), membukukan pendapatan US$ 2,6 juta pada triwulan I-2026 sejalan dengan transisi proyek Tambang Emas Pani dari praproduksi menuju tahapan operasional komersial. Namun, EMAS masih mencatatkan rugi bersih setelah kepentingan minoritas sebesar US$ 10,9 juta.

Kondisi finansial ini dianggap lumrah bagi area tambang yang baru beroperasi, mengingat porsi penjualan baru terekam sebagian pada kuartal berjalan dan adanya beban bunga dari fasilitas revolving credit perusahaan.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menjelaskan bahwa lonjakan rapor keuangan MDKA sangat dipengaruhi oleh harga emas yang kokoh di level tinggi, pasokan awal Tambang Emas Pani, serta kinerja positif dari MBMA. 

Untuk MBMA, pemulihan didorong oleh kenaikan output bijih nikel, NPI, serta margin yang lebih sehat. Sementara untuk EMAS, kerugian dinilai wajar karena proyek Pani baru memulai produksinya dengan skala pasar terbatas, di tengah biaya operasional dan finansial yang sudah berjalan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Ke depannya, Pani justru bisa menjadi katalis utama apabila ramp-up produksi berjalan sesuai target,” kata dia, Rabu (1/7/2026).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memaparkan bahwa prospek keuangan emiten Grup Merdeka di paruh kedua tahun 2026 akan dipengaruhi oleh dua faktor, yakni nilai emas yang masih akomodatif meski terkoreksi dari level tertinggi, serta harga nikel yang dibayangi tekanan kelebihan pasokan (oversupply).

Dalam situasi ini, MDKA lebih diuntungkan karena memiliki diversifikasi portofolio pada emas, tembaga, dan nikel. Sebaliknya, MBMA cenderung rentan terhadap fluktuasi karena eksposur bisnisnya didominasi oleh komoditas nikel.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Sentimen positif emiten-emiten ini antara lain progres ramp-up kapasitas Pani dan potensi harga emas yang masih tinggi, sedangkan sentimen negatifnya adalah oversupply nikel dan EMAS yang masih butuh waktu untuk mencapai breakeven,” ungkap dia, Rabu (1/7).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memberikan catatan bahwa emiten Grup Merdeka tengah agresif melakukan ekspansi proyek strategis pada tiap entitas. 

Oleh karena itu, risiko kenaikan beban bunga akibat naiknya suku bunga acuan perlu diantisipasi mengingat kebutuhan modal yang besar. Langkah efisiensi biaya, ketepatan waktu pengerjaan proyek, dan manajemen pengetatan utang sangat diperlukan untuk memperkuat ekuitas.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Proyek strategis Grup Merdeka mesti selesai tepat waktu agar segera berkontribusi terhadap pendapatan,” tutur dia.

Dari sisi investasi, Ekky melihat saham Grup Merdeka tetap memiliki daya tarik. Saham MDKA direkomendasikan buy on weakness dengan target jangka menengah Rp 3.100—Rp 3.250 per saham dan jangka panjang Rp 3.950—Rp 4.000 per saham, didorong prospek jangka panjang Proyek Tembaga Tujuh Bukit untuk kebutuhan elektrifikasi dan pusat data (data center).

Saham MBMA mendapat rekomendasi trading buy dengan target swing Rp 575 per saham dan target utama Rp 670—Rp 700 per saham. 

Sementara saham EMAS direkomendasikan sebagai watchlist atau speculative buy karena ruang kenaikan (upside) yang besar jika ramp-up Pani sukses, walau risikonya relatif tinggi.

Di sisi lain, Wafi menilai saham MDKA dan MBMA sangat potensial dicermati oleh pelaku pasar dengan estimasi target harga masing-masing di level Rp 3.000 per saham dan Rp 600 per saham.

Reporter: Gemilang Ramadhan