Buyback Saham Belum Efektif Angkat Kinerja Emiten Perbankan
JAKARTA – Sejumlah perusahaan perbankan mengambil keputusan untuk melakukan pembelian kembali saham di tengah tekanan harga yang terus membayangi sektor tersebut. Upaya ini dinilai belum efektif mengangkat harga secara signifikan, namun setidaknya membantu menahan penurunan agar tidak terlalu dalam.
Aksi terbaru dilakukan oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) dengan nilai maksimal Rp 200 miliar hingga 1 September 2026. Manajemen menyatakan langkah ini bertujuan menjaga stabilitas harga agar mencerminkan fundamental perseroan, "Sekaligus menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan dalam usaha Perseroan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meskipun demikian, harga saham BBHI tetap tertekan dan berada di level Rp 930 pada perdagangan Kamis (2/7/2026), atau turun 37,58 persen secara year to date.
Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga telah menjalankan program pembelian kembali dengan nilai lebih besar, yakni masing-masing Rp 5 triliun dan Rp 1,17 triliun.
Program tersebut belum mampu mengembalikan harga saham kedua bank raksasa itu ke zona positif hingga penutupan perdagangan Kamis. Saham BBCA tercatat di level Rp 5.800 (turun 28,17 persen year to date), sementara BMRI ditutup di harga Rp 3.900 (melemah 23,53 persen year to date).
Kepala Riset KISI, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa pembelian kembali bukan instrumen yang secara langsung dapat mendongkrak harga saat tekanan jual pasar masih tinggi.
Menurutnya, nilai aksi korporasi tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan arus keluar dana asing, "Fungsinya lebih untuk memperlambat penurunan daripada mendorong reli," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Wafi menambahkan, langkah tersebut tetap memberikan sentimen positif karena menunjukkan keyakinan manajemen terhadap valuasi saham serta berpotensi meningkatkan laba per saham.
Namun, ia menekankan bahwa emiten tidak cukup hanya mengandalkan pembelian kembali untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Emiten perlu menunjukkan prospek pertumbuhan laba yang jelas, menjaga konsistensi pembagian dividen, serta meningkatkan transparansi kualitas aset dan kredit.
Peluang pemulihan sektor perbankan pada semester II 2026 dinilai masih terbuka, meskipun investor tetap harus selektif memilih bank dengan dana murah yang kuat dan fundamental solid.