Batam Berpeluang Jadi Poros Logistik Baru di Asia Tenggara

ILUSTRASI, Batam dipandang strategis sebagai poros logistik baru di Asia Tenggara.Pelabuhan Batam (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 09 Juli 2026 | 15:21:01 WIB

JAKARTA – Pergeseran geopolitik global, fragmentasi perdagangan dunia, serta transformasi rantai pasok internasional memberikan kesempatan historis bagi Indonesia untuk menjadi kekuatan logistik baru di kawasan Asia Tenggara. Dari segi letak geografis, Batam dianggap memiliki posisi yang paling strategis guna menjadi pintu gerbang utama Indonesia menuju ASEAN serta pasar internasional.

Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA) sekaligus Ketua Dewan Penasihat ASEAN Federation of Freight Forwarders Association (AFFA), Yukki Nugrahawan Hanafi, memaparkan bahwa keunggulan geografis yang dimiliki Batam sangat sulit ditandingi oleh daerah lain di Indonesia. 

Lokasinya berada di titik persilangan jalur pelayaran antara Samudra Hindia dan Pasifik, serta berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kedekatan geografis Batam dengan Singapura dan Malaysia semestinya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk membangun kolaborasi regional yang saling memperkuat daya saing ASEAN," kata Yukki dalam keterangan resmi, Kamis (9/7/2026).

Pentingnya posisi Batam ini terlihat jelas dari kepadatan lalu lintas maritim di Selat Malaka serta nilai strategis sektor logistik di kawasan ASEAN. 

Berdasarkan data dari UNCTAD, tercatat ada lebih dari 100 ribu kapal yang melintasi Selat Malaka di sepanjang tahun 2025, yang membawa sekitar 22–25 persen dari total perdagangan maritim dunia tiap tahunnya. 

Selain itu, riset dari Mordor Intelligence memproyeksikan pasar freight and logistics ASEAN akan tumbuh dari US$ 288,2 miliar pada tahun 2025 menjadi US$ 390 miliar pada tahun 2030. 

Pertumbuhan ini memiliki tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 6,23 persen, yang dipicu oleh ekspansi sektor manufaktur, perdagangan elektronik, serta investasi lintas negara di kawasan tersebut.

Yukki mengingatkan bahwa faktor keunggulan lokasi semata tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan logistik dan rantai pasok saat ini. 

Daya saing di masa depan bakal ditentukan oleh kapabilitas dalam membangun integrated logistics ecosystem yang menyatukan pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas, pergudangan modern, layanan kepabeanan, transportasi multimoda, hingga platform digital ke dalam satu sistem yang terpadu.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Modernisasi pelabuhan harus menjadi prioritas nasional. Transformasi pelabuhan bukan lagi sekadar soal kapasitas dermaga, tetapi mencakup digitalisasi proses bisnis, peningkatan produktivitas terminal peti kemas, hingga penerapan standar internasional yang meningkatkan kepercayaan pelaku usaha global," ujarnya.

Ia memandang Pelabuhan Batu Ampar punya potensi besar untuk bertransformasi menjadi regional container gateway yang melayani jalur perdagangan Indonesia bagian barat, sekaligus menyokong aktivitas transshipment, distribusi regional, serta konektivitas multimoda.

Di samping sektor pelabuhan, Yukki juga memberikan sorotan pada Bandara Internasional Hang Nadim sebagai aset strategis yang hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal. 

Memiliki landasan pacu sepanjang 4.025 meter yang menjadikannya salah satu yang terpanjang di Indonesia, serta didukung ketersediaan lahan yang luas, Hang Nadim dinilai berpotensi besar untuk berkembang menjadi ASEAN Air Cargo Hub.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Pengembangan kawasan Aerocity, pusat Maintenance, Repair and Overhaul, fasilitas cold chain, hingga layanan express cargo akan memperkuat posisi Batam sebagai simpul logistik udara yang terintegrasi dengan jaringan pelabuhan dan kawasan industri. Konsep sea-air logistics yang memadukan Pelabuhan Batam dan Bandara Hang Nadim ini memiliki keunggulan kompeitif sektor logistik, terutama dalam memangkas biaya dan waktu," tegas Yukki.

Ketahanan Rantai Pasok Jadi Isu Strategis Nasional

Menurut pandangan Yukki, situasi pandemi COVID-19 serta beragam konflik geopolitik yang terjadi telah membuktikan bahwa ketahanan rantai pasok bukan lagi sekadar persoalan operasional semata, melainkan sudah menjadi bagian dari strategi nasional guna mempertahankan daya saing ekonomi. 

Oleh karena itu, transformasi di bidang logistik wajib disokong oleh pemanfaatan teknologi modern seperti artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), blockchain, digital customs, predictive logistics, dan port community system, yang juga diperkuat oleh regulasi yang konsisten serta tata kelola yang baik.

Dalam situasi tersebut, Yukki menyebutkan bahwa berbagai kerja sama internasional seperti ASEAN Federation of Forwarders Associations (AFFA) dan International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA) terus mengupayakan harmonisasi regulasi serta konektivitas logistik di ASEAN. 

Hal ini dilakukan agar dapat tercipta rantai pasok yang lebih tangguh dan efisien. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Batam dapat menjadi laboratorium terbaik untuk mewujudkan visi tersebut melalui integrasi pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas, dan jaringan logistik nasional," ujar Yukki.

Yukki mengakhiri penjelasannya dengan menegaskan bahwa visi besar tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai, asalkan proses pembangunan dijalankan secara terintegrasi serta memperoleh dukungan berupa kepastian regulasi, percepatan investasi, penyederhanaan aspek perizinan, hingga kolaborasi yang solid antara pemerintah, BP Batam, operator bandara, dunia usaha, perguruan tinggi, dan asosiasi profesi.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Dari Batam, Indonesia dapat memimpin konektivitas ASEAN, memperkuat ketahanan rantai pasok, dan menegaskan posisinya sebagai poros maritim serta pusat logistik yang disegani di tingkat global. Artinya, keberhasilan Batam tidak hanya akan meningkatkan daya saing Kepulauan Riau, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan perdagangan internasional, memperluas peluang investasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Yukki.

Reporter: Gemilang Ramadhan