Dampak Rupiah Tertekan, Simak Prospek Saham KLBF Menurut Analis
JAKARTA - Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tetap menjadi hambatan bagi perusahaan farmasi, tidak terkecuali PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Walau begitu, proyeksi emiten dengan kode saham KLBF ini dianggap masih lumayan positif sampai akhir 2026 lantaran ditopang oleh model bisnis yang bervariasi serta efisiensi operasional yang kokoh.
Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memaparkan bahwa depresiasi rupiah memang berisiko menaikkan ongkos impor bahan baku aktif farmasi atau active pharmaceutical ingredients (API), sebab mayoritas ketersediaannya masih bersandar pada impor.
Akan tetapi, menurut Nafan, efek dari pelemahan rupiah terhadap KLBF terhitung lebih minim jika disandingkan dengan emiten farmasi lainnya.
"Hal ini mengingat KLBF memiliki model bisnis yang sangat terdiversifikasi, tidak hanya berasal dari obat resep, tetapi juga produk kesehatan konsumen (consumer health), nutrisi, serta distribusi dan logistik yang memberikan kontribusi pendapatan cukup besar," sebagaimana dilansir dari berita sumber ujar Nafan, Kamis (9/7/2026).
Dia memaparkan, diversifikasi itu menjadikan beban pada satu bidang bisnis bisa ditutupi oleh capaian divisi lainnya.
Di samping itu, skala ekonomi yang masif, efisiensi operasional, beserta kecakapan perseroan dalam mengoreksi harga secara bertahap ikut menyokong stabilitas profitabilitas.
Oleh sebab itu, Nafan memperkirakan margin keuntungan KLBF memang berisiko menghadapi tekanan jika penurunan rupiah terjadi dalam jangka waktu lama. Kendati demikian, penyusutan margin diproyeksikan tidak bakal terlalu dalam asalkan depresiasi rupiah masih berada pada angka yang bisa dikendalikan.
"Prospek KLBF hingga akhir tahun masih cenderung positif dengan potensi pertumbuhan pendapatan dan laba yang tetap terjaga, meskipun laju pertumbuhannya berpotensi lebih moderat apabila tekanan nilai tukar semakin besar," sebagaimana dilansir dari berita sumber katanya.
Nafan menyertakan, masih terdapat beberapa pendorong yang berpeluang memperkuat kinerja KLBF. Pertama, kebutuhan akan produk kesehatan, nutrisi, dan vitamin diproyeksi bertahan kuat sejalan dengan peningkatan kesadaran publik pada kesehatan.
Kedua, langkah ekspansi produk anyar serta inovasi di segmen consumer health dan nutrisi yang mempunyai margin lebih tebal berpeluang menyokong pertumbuhan performa.
Ketiga, jalur distribusi KLBF yang pekat dianggap sanggup mempertahankan pangsa pasar di bermacam daerah Indonesia.
Bukan hanya itu, celah pemangkasan suku bunga dalam negeri pun dapat mendongkrak daya beli publik sehingga memicu konsumsi produk kesehatan.
Dari faktor internal, tindakan digitalisasi serta optimalisasi jaringan pasokan diharapkan mampu memacu efisiensi operasional dan membentengi margin perusahaan.
Walau demikian, Nafan mengingatkan terdapat beberapa risiko yang wajib diperhatikan. Pelemasan nilai mata uang rupiah yang lama dapat mendongkrak biaya impor bahan baku, sedangkan lonjakan harga bahan baku global beserta biaya logistik juga berisiko menggerus margin.
Kompetisi bisnis farmasi yang kian ketat dianggap bisa membatasi celah korporasi demi menaikkan harga jual.
Di samping itu, kebijakan dari pemerintah mengenai harga obat, pengadaan lewat sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), ataupun aturan sektor farmasi juga berpeluang memengaruhi profitabilitas perusahaan.
Pada sektor makro, perlambatan ekspansi ekonomi turut menjadi risiko yang dapat menekan daya konsumsi masyarakat, terutama pada produk kesehatan non-esensial.
Lewat kalkulasi bermacam aspek tersebut, Nafan memberikan rekomendasi add untuk saham KLBF lewat target harga Rp 885 per saham.