Rabu, 07 Januari 2026

Sekolah Darurat Dibangun untuk Dukung Siswa Terdampak Banjir Aceh

Sekolah Darurat Dibangun untuk Dukung Siswa Terdampak Banjir Aceh
Sekolah Darurat Dibangun untuk Dukung Siswa Terdampak Banjir Aceh

JAKARTA - Di tengah proses pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Aceh, perhatian terhadap dunia pendidikan menjadi salah satu prioritas utama pemerintah. Bukan hanya infrastruktur yang perlu dipulihkan, namun juga keberlanjutan proses belajar agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan mereka. Karena itu, kehadiran sekolah darurat menjadi solusi sementara agar kegiatan belajar tetap berjalan, meski dalam kondisi yang terbatas.

Kondisi ini tergambar saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti meninjau langsung situasi pendidikan di wilayah terdampak. Kunjungan tersebut sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan tidak ada anak yang terhenti pendidikannya akibat bencana.

Sekolah Darurat sebagai Solusi Sementara

Baca Juga

Pemerintah dan Pemprov Jambi Dorong Pelestarian Sembilan Budaya Lokal Menjadi Warisan Takbenda

Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa saat ini ada 18 sekolah di Aceh yang terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda. Hal ini terjadi karena sejumlah fasilitas pendidikan mengalami kerusakan cukup parah akibat banjir dan longsor.

"Kita akan terus berupaya untuk menghadirkan sekolah darurat bagi siswa yang belajar di tenda. Pembangunannya akan dilaksanakan secepatnya," kata Abdul Mu'ti di Kabupaten Aceh Tamiang, Senin.

Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela ia menjadi pembina upacara pada hari pertama masuk sekolah pascabencana di SMA 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Kehadiran Mendikdasmen memberi semangat tambahan bagi para siswa dan guru yang tetap bertahan melanjutkan proses belajar meski dalam situasi tidak ideal.

Aceh Tercatat sebagai Wilayah Paling Terdampak

Dalam penjelasannya, Abdul Mu'ti memaparkan bahwa Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan dampak terbesar terhadap fasilitas satuan pendidikan. Banjir dan longsor yang melanda beberapa waktu lalu meninggalkan kerusakan luas, terutama di Kabupaten Aceh Tamiang.

Ia menyebutkan bahwa bencana tersebut berdampak pada 2.756 sekolah atau satuan pendidikan yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Sebagian sekolah mengalami kerusakan ringan, namun tidak sedikit pula yang harus berhenti beroperasi sementara karena kondisi bangunan tidak memungkinkan.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa sebanyak 90 persen sekolah di Provinsi Aceh, atau sekitar 2.468 sekolah, sudah kembali beroperasi. Namun, masih ada 18 sekolah yang harus menggunakan tenda sebagai ruang belajar, sementara 288 sekolah lainnya masih dalam proses pembersihan akibat lumpur dan material sisa banjir.

Kondisi ini menggambarkan betapa besar tantangan yang dihadapi, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, dalam memulihkan sarana pendidikan secara menyeluruh.

Bantuan Logistik dan Dukungan Psikososial

Selain memastikan kelangsungan proses belajar, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung kebutuhan siswa dan sekolah. Dalam kesempatan tersebut, Mendikdasmen menyerahkan 2.000 school kit secara simbolis, dari total 15.500 paket yang disiapkan untuk anak-anak terdampak.

Bantuan lainnya meliputi tenda sebanyak 78 buah, ruang kelas darurat sebanyak 100 unit, serta buku pelajaran mencapai 90.000 eksemplar. Tidak hanya bantuan fisik, pemerintah juga memberikan dukungan psikososial senilai Rp300 juta untuk membantu anak-anak memulihkan kondisi mental setelah mengalami bencana.

Selain itu, disalurkan pula Dana Operasional Pendidikan Darurat sebesar Rp11,29 miliar khusus untuk Aceh. Dana ini diharapkan dapat mempercepat penanganan kebutuhan mendesak sekolah, mulai dari operasional, perbaikan sementara, hingga mendukung kelancaran proses belajar mengajar.

Kunjungan Lapangan untuk Memastikan Pemulihan

Dalam rangka memastikan program pemulihan berjalan efektif, Mendikdasmen juga meninjau langsung sejumlah sekolah yang terdampak. Ia didampingi Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, untuk melihat perkembangan revitalisasi di beberapa lokasi.

Di Aceh Tamiang dan Langsa, ia meninjau proses penataan kembali sekolah yang rusak. Di Kota Langsa, Mendikdasmen mengunjungi SDN 4 Langsa dan SDIT Muhammadiyah Langsa, dengan kehadiran Wali Kota Langsa Jeffry Sentana. Kunjungan ini menjadi ajang evaluasi lapangan sekaligus memastikan dukungan pemerintah benar-benar sampai pada sasaran.

Melalui kunjungan tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa pembangunan sekolah darurat tidak hanya sebatas solusi cepat, tetapi juga menjadi bagian dari langkah pemulihan menyeluruh. Tujuannya agar siswa dapat kembali belajar dengan aman, nyaman, dan termotivasi.

Pada akhirnya, pengalaman belajar di tenda bukan hanya cerita tentang keterbatasan, tetapi juga tentang ketangguhan. Di tengah keterbatasan sarana, semangat guru, siswa, dan masyarakat tetap terjaga. Pemerintah pun berupaya mempercepat penyediaan fasilitas yang lebih layak, agar proses pendidikan di Aceh kembali pulih seperti sediakala.

Celo

Celo

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

10 Hp vivo Harga 1 Jutaan Terbaik di Januari 2026

10 Hp vivo Harga 1 Jutaan Terbaik di Januari 2026

Pemerintah dan Pemprov Jambi Dorong Pelestarian Sembilan Budaya Lokal Menjadi Warisan Takbenda

Pemerintah dan Pemprov Jambi Dorong Pelestarian Sembilan Budaya Lokal Menjadi Warisan Takbenda

Proyek Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi Baru Siap Digunakan 2027

Proyek Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi Baru Siap Digunakan 2027

Baznas Hadir dengan Layanan Kesehatan Cepat Tanggap Bagi Korban Banjir Sumatera

Baznas Hadir dengan Layanan Kesehatan Cepat Tanggap Bagi Korban Banjir Sumatera

Pemerintah Didesak Perkuat Pencegahan Superflu dengan Masker dan Imunisasi

Pemerintah Didesak Perkuat Pencegahan Superflu dengan Masker dan Imunisasi