Rabu, 07 Januari 2026

Menaker: AI Ubah Dunia Kerja, Kampus Dituntut Siap Beradaptasi Cepat

Menaker: AI Ubah Dunia Kerja, Kampus Dituntut Siap Beradaptasi Cepat
Menaker: AI Ubah Dunia Kerja, Kampus Dituntut Siap Beradaptasi Cepat

JAKARTA - Di tengah perubahan cepat industri dan teknologi, pemerintah menilai dunia pendidikan tinggi harus bergerak lebih lincah. 

Pergeseran besar di pasar kerja kini tidak hanya dipicu transformasi ekonomi, tetapi juga kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengubah cara perusahaan bekerja, merekrut, dan menilai kompetensi tenaga kerja. 

Karena itu, pemerintah menegaskan perlunya strategi bersama agar lulusan perguruan tinggi tidak tertinggal dan mampu menjawab kebutuhan industri.

Baca Juga

Pemerintah Pastikan Tarif Listrik Triwulan I 2026 Tidak Naik Sama Sekali

Hal ini disampaikan Menteri Tenaga Kerja Yassierli saat menghadiri Dies Natalis Universitas Brawijaya. Ia menegaskan, perubahan lanskap ketenagakerjaan sudah nyata terasa dan tidak bisa dihindari. 

Perguruan tinggi, menurutnya, harus menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha agar persoalan ketidaksesuaian keterampilan dan pekerjaan tidak terus berulang.

Transformasi Dunia Kerja

Menurut Yassierli, penggunaan AI menjadi salah satu pemicu utama pergeseran pola kerja baik di Indonesia maupun global. Teknologi ini menghadirkan efisiensi, otomatisasi, sekaligus tantangan baru. 

“Tantangan yang saat ini dihadapi di dunia kerja saat ini yakni pergeseran landskap ketenagakerjaan di Indonesia dan global yang dipicu penggunaan AI sehingga perlu disiapkan oleh perguruan tinggi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ancaman terbesar bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan ketidaksiapan sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah mendorong adanya pembenahan kurikulum, pola pembelajaran, hingga penguatan kemitraan antara kampus dan industri.

Peran Perguruan Tinggi

Dalam pandangan Menaker, perguruan tinggi memegang peran strategis sebagai penghasil talenta masa depan. Lulusan tidak cukup hanya dibekali teori, tetapi juga pemahaman praktis tentang dunia kerja. 

“Menteri Tenaga Kerja (Menaker), Yassierli mengingatkan perguruan tinggi untuk terus berbenah agar menghasilkan lulusan yang siap bekerja di industri untuk mengatasi miss match antara skill yang dimiliki dengan kebutuhan yang ada di Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, upaya membangun ekosistem tenaga kerja tidak bisa dilakukan oleh satu kementerian saja. 

“Tentu tidak hanya Kemnaker sendiri, kalau berbicara penyerapan bagaimana industri kami, kami punya Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Komdigi, dan seterusnya,” tuturnya.

Sinergi antarsektor menjadi kunci agar informasi kebutuhan tenaga kerja tersampaikan dengan baik dan bisa diterjemahkan menjadi kebijakan pendidikan yang tepat.

Peluang dan Risiko AI

Meski AI membawa disrupsi, Yassierli menilai teknologi ini tidak sepenuhnya menggantikan peran manusia. Banyak pekerjaan akan bertransformasi, namun di sisi lain muncul jenis pekerjaan baru. 

“Terkait AI, dia menegaskan, adalah suatu hal yang pasti akan bergerak signifikan memberikan disrupsi, namun tidak semua hal akan tergantikan oleh AI.”

Perkembangan ini, menurutnya, justru membuka peluang lahirnya talenta digital, khususnya di bidang AI. Kampus diharapkan mampu merespons kebutuhan tersebut dengan program studi, pelatihan, maupun riset yang lebih aplikatif.

Di saat bersamaan, pemerintah juga memperkenalkan program magang bagi lulusan perguruan tinggi. Program ini digagas sebagai upaya memperkuat kesiapan kerja melalui pengalaman langsung di industri. Peserta mendapatkan paparan dunia kerja selama beberapa bulan sehingga memahami budaya, proses, dan kebutuhan perusahaan. 

“Antusiasme luar biasa dan program ini insya Allah akan terus 2026,” ucapnya.

Arah Kebijakan Ketenagakerjaan

Yassierli turut menyinggung soal target penyerapan tenaga kerja nasional. Berdasarkan data Kementerian Investasi, terdapat jutaan tenaga kerja baru yang terserap dari berbagai proyek investasi. 

Pemerintah kemudian mengompilasi data tersebut dengan survei ketenagakerjaan nasional untuk memantau tren pengangguran.

“Kami sifatnya mencoba mengkolaborasikan informasi tersebut dan dampaknya kita bisa lihat di data survei sakernas yang terakhir di situ terlihat tingkat pengangguran turun, basisnya year on year itu kami jadikan patokan,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui angka pengangguran masih cukup signifikan. Artinya, kesempatan kerja yang tersedia—baik formal maupun informal belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan seluruh pencari kerja. 

Karena itu, program peningkatan kompetensi, penguatan kemitraan dengan industri, serta pengembangan talenta digital terus didorong.

Pada akhirnya, pesan utama pemerintah adalah kesiapan menghadapi perubahan. AI mungkin mengubah cara bekerja, namun manusia tetap memegang kendali pada kreativitas, etika, dan pengambilan keputusan. 

Jika kampus, pemerintah, dan industri bergerak bersama, peluang menciptakan tenaga kerja yang adaptif dan kompetitif akan semakin besar.

Celo

Celo

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

10 Hp vivo Harga 1 Jutaan Terbaik di Januari 2026

10 Hp vivo Harga 1 Jutaan Terbaik di Januari 2026

Pemerintah dan Pemprov Jambi Dorong Pelestarian Sembilan Budaya Lokal Menjadi Warisan Takbenda

Pemerintah dan Pemprov Jambi Dorong Pelestarian Sembilan Budaya Lokal Menjadi Warisan Takbenda

Proyek Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi Baru Siap Digunakan 2027

Proyek Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi Baru Siap Digunakan 2027

Baznas Hadir dengan Layanan Kesehatan Cepat Tanggap Bagi Korban Banjir Sumatera

Baznas Hadir dengan Layanan Kesehatan Cepat Tanggap Bagi Korban Banjir Sumatera

Pemerintah Didesak Perkuat Pencegahan Superflu dengan Masker dan Imunisasi

Pemerintah Didesak Perkuat Pencegahan Superflu dengan Masker dan Imunisasi