JAKARTA - Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, pasar minyak dunia kembali menaruh perhatian pada langkah OPEC+ yang memilih mempertahankan tingkat produksi di tengah ketidakpastian global.
Keputusan tersebut muncul bukan hanya karena faktor harga, tetapi juga karena pertimbangan stabilitas pasar energi yang saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor politik dibanding murni penawaran dan permintaan.
Di saat sejumlah negara anggota menghadapi tekanan internal maupun eksternal, OPEC+ berusaha menegaskan bahwa konsistensi kebijakan tetap menjadi prioritas.
Baca JugaPemerintah Pastikan Tarif Listrik Triwulan I 2026 Tidak Naik Sama Sekali
Keputusan ini diambil ketika pasar global masih menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan, sementara situasi geopolitik seperti ketegangan regional dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menciptakan gelombang kekhawatiran baru.
Namun, alih-alih melakukan perubahan besar, OPEC+ memilih menjaga ritme kebijakan yang sudah ada.
Pertemuan Singkat Di Tengah Tekanan Harga Global
Organisasi negara-negara produsen minyak dan mitranya, OPEC+, mempertahankan tingkat produksi minyak tidak berubah dalam pertemuan singkat yang digelar pada 04 Januari 2026.
Pertemuan tersebut menghindari pembahasan krisis politik yang tengah memengaruhi sejumlah anggota kelompok produsen minyak dunia itu.
Pertemuan delapan negara anggota OPEC+, yang secara kolektif memproduksi sekitar setengah dari total produksi minyak global, berlangsung di tengah tekanan harga minyak dunia.
Sepanjang 2025, harga minyak dunia tercatat turun lebih dari 18 persen, penurunan terdalam sejak 2020 dan mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan.
Di saat yang sama, dinamika geopolitik antarnegara produsen turut memperlebar ketidakpastian. Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait situasi di Yaman menjadi salah satu isu yang ikut membayangi.
Pengaruh Geopolitik Dan Kebijakan OPEC+
Situasi global semakin memanas setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali Venezuela demi transisi menuju pemerintahan baru, meski mekanisme pelaksanaannya belum dijelaskan secara rinci.
“ Saat ini, pasar minyak kurang didorong oleh fundamental penawaran dan permintaan, dan lebih didorong oleh ketidakpastian politik,” kata Jorge Leon, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy sekaligus mantan pejabat OPEC.
“Dan OPEC+ jelas memprioritaskan stabilitas daripada tindakan," imbuhnya.
Delapan negara yang tergabung dalam pertemuan ini — Arab Saudi, Rusia, UEA, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman — sepanjang 2025 sempat menaikkan target produksi sekitar 2,9 juta barrel per hari.
Namun pada November, mereka sepakat menunda kenaikan produksi hingga Maret 2026 karena permintaan minyak yang cenderung melemah selama musim dingin.
Pertemuan daring terbaru kembali menegaskan kebijakan penundaan tersebut, tanpa membahas secara khusus kondisi Venezuela.
Tantangan Internal Di Tengah Upaya Menjaga Pasar
Secara historis, OPEC dikenal mampu mengelola perbedaan pandangan internal, termasuk saat terjadi konflik besar seperti Perang Iran–Irak.
Namun, tekanan saat ini datang dari berbagai arah sekaligus: sanksi terhadap Rusia, ketegangan domestik di Iran, hingga pelemahan produksi berkepanjangan di Venezuela.
Produksi minyak Venezuela selama beberapa tahun terakhir merosot karena salah urus sektor energi dan dampak sanksi internasional. Meski memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, pemulihan produksi dianggap membutuhkan waktu lama.
Sejumlah analis menilai bahwa bahkan jika perusahaan minyak besar AS berinvestasi besar-besaran, peningkatan signifikan tetap sulit terjadi dalam waktu dekat.
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar menilai risiko geopolitik Venezuela sudah lama diperhitungkan sehingga tidak serta-merta memicu lonjakan harga minyak.
Prospek Harga Minyak Dan Respons Pasar
Penangkapan Maduro memang menambah ketidakpastian politik, tetapi pasar tetap melihat kondisi kelebihan pasokan sebagai faktor dominan. Para analis menilai dampaknya terhadap harga minyak relatif terbatas.
“Meskipun skala serangan AS tidak terduga, pasar telah memperhitungkan konflik dengan Venezuela yang akan mengganggu ekspor minyak,” kata Arne Lohmann Rasmussen.
Ia memperkirakan kenaikan harga Brent hanya sekitar 1 hingga 2 dollar AS per barrel, atau bahkan lebih kecil.
“Meskipun ini merupakan peristiwa geopolitik besar yang biasanya diharapkan akan positif atau mendorong harga minyak naik, intinya adalah masih terlalu banyak minyak di pasar, dan itulah mengapa harga minyak tidak akan melonjak,” tuturnya.
Dengan berbagai tekanan tersebut, pilihan OPEC+ untuk mempertahankan produksi mencerminkan strategi menunggu sambil menjaga stabilitas. Ketika pasar masih didominasi ketidakpastian, langkah hati-hati dipandang lebih aman daripada perubahan drastis yang berpotensi memicu gejolak baru.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Baznas Hadir dengan Layanan Kesehatan Cepat Tanggap Bagi Korban Banjir Sumatera
- Rabu, 07 Januari 2026
Pemerintah Didesak Perkuat Pencegahan Superflu dengan Masker dan Imunisasi
- Rabu, 07 Januari 2026
Pemerintah Dorong Sekolah Terdampak Bencana Terapkan Pembelajaran Adaptif
- Rabu, 07 Januari 2026
Berita Lainnya
Baznas Hadir dengan Layanan Kesehatan Cepat Tanggap Bagi Korban Banjir Sumatera
- Rabu, 07 Januari 2026
Pemerintah Didesak Perkuat Pencegahan Superflu dengan Masker dan Imunisasi
- Rabu, 07 Januari 2026









