Breaking

Giso Perajin Sepatu Malang Bangkit, Kini Tembus Pasar Mancanegara

GE
Kamis, 29 Januari 2026
Giso Perajin Sepatu Malang Bangkit, Kini Tembus Pasar Mancanegara
Giso Perajin Sepatu Malang Bangkit, Kini Tembus Pasar Mancanegara

JAKARTA - Tak semua kisah sukses lahir dari pabrik besar atau modal berlimpah. Di Kelurahan Gadang, Kota Malang, sebuah bengkel sepatu sederhana di gang sempit justru menyimpan cerita panjang tentang kegigihan. Di sanalah Giso—perajin sepatu handmade—menjalani perjalanan usaha yang penuh pasang surut sejak pulang merantau dari Bali pada 1993.

Bagi Giso, sepatu bukan sekadar barang jualan. Ia memandang sepatu sebagai karya yang harus nyaman dipakai dan konsisten kualitasnya. Prinsip ini terbentuk dari pengalaman bekerja di industri sepatu Bali yang banyak melayani konsumen luar negeri. Meski idealisme kualitas membuat usahanya sempat berulang kali jatuh, Giso memilih bertahan. Hingga akhirnya, era media sosial membuka jalan baru yang mengubah arah hidupnya: pesanan mengalir, bengkel kembali ramai, dan produknya menembus pasar luar negeri lewat jaringan reseller.

Bekal dari Bali: Sepatu Bagus Harus Nyaman Dipakai

Di balik gemerlap industri fesyen, ada kisah ketekunan yang lahir dari gang sempit di Kelurahan Gadang, Kota Malang. Palu kecil dan lem sepatu menjadi saksi perjalanan panjang Giso, perajin sepatu handmade yang memilih bertahan pada kualitas di tengah pasang surut usaha sejak kembali merantau dari Bali pada 1993.

Dengan berbekal pengalaman bekerja di industri sepatu Bali yang banyak melayani konsumen mancanegara, Giso pulang ke Malang dengan satu keyakinan, sepatu yang baik bukan hanya soal bentuk, tetapi kenyamanan pemakai. Prinsip itulah yang terus ia pegang hingga kini.

Dari sinilah fondasi usaha Giso terbentuk. Ia tidak mengejar produksi massal cepat, tetapi fokus pada kualitas, detail, dan kenyamanan. Bagi Giso, sepatu handmade harus punya nilai lebih—bukan sekadar tampilan, tetapi juga rasa saat dipakai.

Jatuh Bangun Usaha: Berkali-kali Bangkrut dan Tutup Toko

Idealisme kualitas tak selalu berbanding lurus dengan pasar. Di tahun-tahun awal, usaha sepatu Giso berkali-kali terhenti. Produk yang ia buat memiliki kualitas tinggi, namun sulit terserap pasar karena harga dan kondisi pasar yang belum siap.

Kondisi ini sempat membuatnya terpukul, apalagi modal yang dikeluarkan tidak sedikit. Namun yang membedakan Giso dengan banyak orang adalah keteguhannya: ia tidak meninggalkan keahlian yang sudah ia bangun sejak lama. Meski berkali-kali gagal, ia tetap memilih bertahan sebagai perajin sepatu.

Titik Balik Era 2000-an: Facebook Bawa Pesanan Berdatangan

Memasuki era 2000-an titik balik mulai terasa ketika media sosial, khususnya Facebook, membuka ruang baru pemasaran. Dari unggahan sederhana, pesanan mulai berdatangan—sebagian besar melalui reseller. Perlahan, bengkel sepatu Giso yang sempat sepi kembali hidup.

Kini aktivitas produksi berjalan lebih stabil. Hampir setiap harinya, belasan pekerja membantu memenuhi pesanan. Jenis sepatu yang dibuat pun beragam, mulai dari sepatu kasual hingga sepatu custom ekstrem dengan tinggi mencapai 50 sentimeter.

Untuk pelanggannya tak hanya dari Malang saja, tetapi juga luar daerah hingga luar negeri melalui jaringan reseller.

Pesanan custom menjadi kekuatan utama Giso. Namun meski mengikuti desain permintaan konsumen, ia tetap menjaga standar pengerjaan. Ia ingin setiap sepatu yang keluar dari bengkelnya membawa identitas: kuat, rapi, dan nyaman.

Produksi Naik, Tenaga Kerja Selektif dan Masalah Limbah Muncul

Dengan adanya permintaan yang terus meningkat, Giso memilih selektif menambah tenaga kerja. Menurutnya, setiap pembuat sepatu memiliki gaya dan standar berbeda, sehingga tidak bisa asal merekrut.

Di balik geliat produksi, ada tantangan lain yang ikut membesar: limbah kulit dan karet. Setiap hari, minimal satu karung besar sisa produksi dihasilkan. Karena keterbatasan akses pembuangan, limbah sempat menumpuk hingga terpaksa dikubur di lahan kosong belakang rumah.

Masalah ini menjadi catatan penting bagi pengembangan UMKM kreatif, terutama dalam aspek dukungan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Sebab ketika usaha berkembang, tantangan lingkungan pun ikut meningkat dan butuh solusi yang lebih terstruktur.

Wariskan Keahlian: Sepatu Handmade Bukan Sekadar Bisnis

Bagi Giso, sepatu bukan sekadar produk ekonomi, melainkan warisan keterampilan. Ia bertekad menurunkan keahliannya kepada anak-anaknya agar tradisi sepatu handmade tetap hidup.

Melalui ketekunan, konsistensi, dan keberanian bertahan di tengah kegagalan, Giso membuktikan bahwa kerja tangan lokal mampu bersaing di pasar global. Dari gang kecil di Kota Malang, lahir sepatu-sepatu yang membawa nama kualitas Indonesia ke mancanegara.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua