Breaking

Jelang IIMS 2026, Industri Otomotif Siap Jalan Tanpa Insentif

GE
Kamis, 29 Januari 2026
Jelang IIMS 2026, Industri Otomotif Siap Jalan Tanpa Insentif
Jelang IIMS 2026, Industri Otomotif Siap Jalan Tanpa Insentif

JAKARTA - Menjelang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, pelaku industri otomotif mulai memasuki babak baru yang menuntut adaptasi lebih cepat. Jika beberapa tahun terakhir insentif kendaraan listrik menjadi salah satu “pengungkit” utama pasar, kini kondisinya berubah. Pemerintah resmi menghentikan pemberian insentif kendaraan listrik pada awal 2026, setelah melakukan evaluasi kebijakan dan menilai pasar mulai bergerak menuju fase yang lebih matang.

Perubahan tersebut otomatis menimbulkan konsekuensi bagi industri, bukan hanya dari sisi harga kendaraan, tetapi juga strategi bisnis secara keseluruhan. Pabrikan, distributor, hingga penyelenggara pameran harus menyesuaikan pendekatan untuk menjaga daya tarik pasar. IIMS 2026 pun menjadi salah satu ajang penting untuk melihat seberapa kuat industri otomotif bertahan dan berkembang tanpa sokongan insentif fiskal.

Meski demikian, optimisme pelaku industri tidak serta-merta surut. Di tengah tantangan ini, para pemain otomotif menilai bahwa pasar Indonesia masih memiliki potensi besar, terutama dari segmen kendaraan roda empat yang masih mendominasi permintaan.

Insentif Dihentikan, Industri Dituntut Lebih Mandiri

Penghentian insentif kendaraan listrik di awal 2026 menandai perubahan arah kebijakan pemerintah. Langkah ini diambil seiring evaluasi program dan kondisi pasar yang dinilai mulai stabil. Bagi industri, situasi tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan tidak bisa lagi terlalu bergantung pada subsidi atau stimulus.

Penyesuaian yang harus dilakukan pun cukup luas. Bukan hanya soal menata ulang harga kendaraan listrik agar tetap kompetitif, tetapi juga merancang strategi pemasaran, pembiayaan, serta memperkuat kepercayaan konsumen. Dalam kondisi seperti ini, peran pameran otomotif semakin penting sebagai wadah untuk menjaga antusiasme pasar dan menciptakan transaksi.

Presiden Direktur Dyandra Promosindo sekaligus promotor IIMS, Daswar Marpaung, mengatakan bahwa industri pada dasarnya masih berharap adanya kelanjutan dukungan dari pemerintah. Namun, ia menegaskan bahwa bisnis tidak boleh bergantung sepenuhnya pada kebijakan fiskal.

Penyesuaian Harga Jadi Kunci, Daya Beli Dinilai Masih Aman

Dalam pandangan Daswar, hilangnya insentif bukan berarti pasar langsung kehilangan tenaga. Menurutnya, industri hanya perlu melakukan penyesuaian, khususnya pada harga. Selama kendaraan masih berada dalam batas keterjangkauan konsumen, maka peluang pertumbuhan tetap terbuka.

Hal ini menegaskan bahwa faktor utama dalam penjualan bukan hanya insentif, melainkan daya beli masyarakat dan kepercayaan terhadap produk. Dengan kata lain, industri harus lebih kreatif dan agresif dalam menawarkan nilai tambah, baik melalui fitur, layanan purnajual, maupun skema pembiayaan yang memudahkan konsumen.

Bagi pabrikan kendaraan listrik, kondisi ini menjadi ujian seberapa siap mereka membangun pasar secara mandiri. Jika sebelumnya insentif menjadi “penarik awal” bagi konsumen untuk mencoba teknologi baru, kini kendaraan listrik harus bersaing melalui kekuatan produk itu sendiri.

Roda Empat Tetap Tulang Punggung, Menguasai 80 Persen Pasar

Di tengah dinamika kendaraan listrik, Daswar menekankan bahwa segmen kendaraan roda empat masih menjadi penopang utama industri otomotif nasional. Hal tersebut tercermin dalam porsi pasar yang ditampilkan pada IIMS 2026, di mana segmen roda empat masih mendominasi sekitar 80 persen dari keseluruhan pasar yang disajikan.

Menurut Daswar, meskipun tren kendaraan listrik terus mengalami peningkatan, kendaraan berbahan bakar bensin masih memegang peran penting. Hal ini sekaligus menggambarkan karakter pasar otomotif Indonesia yang belum sepenuhnya bergeser, melainkan berjalan paralel antara teknologi baru dan kendaraan konvensional.

Dominasi roda empat juga menjadi alasan mengapa IIMS 2026 diprediksi tetap ramai, sebab kebutuhan kendaraan keluarga, kendaraan operasional, hingga kendaraan penunjang mobilitas harian masih tinggi. Bagi industri, segmen ini menjadi “jangkar” yang menjaga stabilitas bisnis di tengah perubahan kebijakan.

IIMS Tak Kaku Pisahkan Listrik dan Konvensional, Fokus Dongkrak SPK

Dalam penyelenggaraan IIMS 2026, Dyandra Promosindo memilih pendekatan yang fleksibel. Pameran tidak dibuat dengan pemisahan kaku antara kendaraan listrik dan kendaraan konvensional. Langkah ini diambil karena tujuan utama pameran adalah mendorong transaksi, khususnya melalui SPK (Surat Pemesanan Kendaraan).

Strategi ini dinilai tepat karena mencerminkan kondisi pasar yang masih campuran. Konsumen datang dengan kebutuhan dan preferensi yang berbeda-beda. Ada yang mencari kendaraan listrik karena efisiensi dan tren teknologi, namun ada pula yang tetap memilih kendaraan bensin karena infrastruktur dan kebiasaan.

Dengan tidak memisahkan secara ketat, IIMS memberi ruang bagi konsumen untuk membandingkan langsung berbagai pilihan. Hal ini juga membantu industri mempertahankan momentum penjualan meski insentif kendaraan listrik telah dihentikan.

Insentif Dinilai Hanya Stimulus Awal, Bukan Fondasi Industri

Bagi Daswar, insentif seharusnya dipahami sebagai dorongan awal agar pasar kendaraan listrik tumbuh. Namun, insentif tidak boleh menjadi fondasi utama yang membuat industri bergantung. Justru, berakhirnya insentif bisa menjadi tanda bahwa pasar otomotif Indonesia mulai memasuki fase yang lebih mandiri.

Ia menilai, daya beli dan kesiapan pasar kini menjadi faktor penentu utama keberlanjutan bisnis otomotif. Dalam konteks IIMS 2026, hal tersebut terlihat dari tetap tingginya minat industri untuk berpartisipasi. Dominasi kendaraan roda empat, luas area pameran, serta banyaknya merek yang hadir di berbagai hall menunjukkan bahwa aktivitas industri masih kuat.

Dengan demikian, IIMS 2026 tidak hanya menjadi pameran otomotif tahunan, tetapi juga menjadi gambaran bagaimana industri beradaptasi pada era baru tanpa insentif. Pelaku industri kini dituntut untuk memperkuat strategi jangka panjang, meningkatkan daya saing produk, serta membangun pasar yang lebih solid dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua