Breaking

Tekanan Rendah Australia Picu Potensi Hujan Merata di NTB

GE
Kamis, 29 Januari 2026
Tekanan Rendah Australia Picu Potensi Hujan Merata di NTB
Tekanan Rendah Australia Picu Potensi Hujan Merata di NTB

JAKARTA - Perubahan cuaca yang datang tiba-tiba masih menjadi tantangan bagi warga Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama di masa peralihan kondisi atmosfer yang dinamis. Dalam beberapa hari ke depan, peluang hujan kembali meningkat dan dapat terjadi merata di sejumlah wilayah. Masyarakat yang memiliki aktivitas harian di luar ruangan, termasuk pelaku pertanian, nelayan, hingga pelayaran, diminta lebih waspada karena cuaca berpotensi berubah dalam waktu singkat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa potensi hujan di NTB tidak muncul tanpa sebab. Salah satu pemicunya berasal dari sistem atmosfer di luar wilayah Indonesia, yakni tekanan rendah yang berkembang di wilayah utara Australia. Meski pusatnya relatif jauh, dampaknya dapat merambat hingga ke selatan Indonesia dan memicu pembentukan awan hujan.

BMKG menilai kondisi ini penting untuk diperhatikan karena tidak hanya memengaruhi peluang hujan, tetapi juga dapat memicu daerah pertemuan angin dan perlambatan angin. Kombinasi faktor tersebut dikenal sebagai kondisi yang mendukung pertumbuhan awan konvektif, yang sering kali menimbulkan hujan dalam durasi cepat namun intensitas bisa bervariasi.

BMKG Soroti Dinamika Atmosfer di Utara Australia

BMKG peringatkan potensi hujan di NTB dalam beberapa hari ke depan seiring munculnya pengaruh tekanan rendah di wilayah utara Australia. Kondisi tersebut berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara merata di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid BMKG NTB, Ari Wibianto, menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer terkini, terdapat indikasi tekanan rendah yang berkembang di Australia bagian utara.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa BMKG tidak hanya melihat kondisi cuaca harian di wilayah NTB, tetapi juga memantau faktor regional yang memengaruhi pola angin dan pembentukan awan. Sistem tekanan rendah sering kali menjadi pemicu terbentuknya gangguan atmosfer yang dapat berdampak luas, termasuk pada wilayah yang cukup jauh dari pusatnya.

Pertemuan Angin dan Perlambatan Jadi Pemicu Awan Hujan

Ari menuturkan, keberadaan sistem tekanan rendah tersebut dapat membentuk daerah pertemuan angin sekaligus perlambatan kecepatan angin di wilayah selatan Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama terbentuknya awan-awan hujan.

Dalam konteks meteorologi, pertemuan angin dan perlambatan angin dapat mendorong penumpukan massa udara di suatu wilayah. Ketika udara terkumpul dan terdorong naik, maka peluang terbentuknya awan meningkat, termasuk awan hujan. Inilah mengapa walaupun tekanan rendah berada di luar Indonesia, wilayah NTB tetap bisa merasakan dampaknya.

BMKG mencatat, awan hujan yang dipicu oleh sistem tersebut berpeluang tumbuh secara luas, terutama pada periode siang hingga malam hari. Oleh karena itu, masyarakat diminta mewaspadai perubahan cuaca yang bisa terjadi dalam waktu singkat.

Potensi hujan yang dominan terjadi pada siang hingga malam ini juga perlu menjadi perhatian karena jam tersebut umumnya bertepatan dengan aktivitas masyarakat, mulai dari bekerja di luar ruangan, kegiatan belajar mengajar, hingga perjalanan antarkota. Perubahan cuaca yang cepat bisa memicu risiko tambahan seperti jalan licin, genangan, serta hambatan jarak pandang di beberapa titik.

Prakiraan 29 Januari–4 Februari: Hujan Ringan hingga Sedang

Untuk periode 29 Januari hingga 4 Februari 2026, BMKG memprakirakan cuaca di wilayah NTB umumnya cerah berawan hingga hujan dengan intensitas ringan sampai sedang. Curah hujan diperkirakan berada pada kisaran 20 hingga 50 milimeter per hari.

Gambaran prakiraan ini menunjukkan bahwa hujan yang terjadi kemungkinan bersifat bervariasi antardaerah. Ada wilayah yang masih bisa mengalami cuaca cerah berawan, namun pada waktu tertentu berpotensi turun hujan. Intensitas ringan hingga sedang menjadi kategori yang tetap perlu diwaspadai, sebab dalam kondisi tertentu dapat berkembang lebih intens, khususnya ketika awan hujan tumbuh cepat.

BMKG juga mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sektor pelayaran, pertanian, dan perikanan agar terus memantau informasi cuaca terbaru serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.

Imbauan tersebut penting mengingat sektor-sektor ini sangat bergantung pada kondisi cuaca. Nelayan dan pelaku pelayaran misalnya, perlu memastikan keselamatan karena perubahan angin dapat memengaruhi gelombang. Sementara petani dan pelaku pertanian harus menyesuaikan kegiatan lapangan agar tidak terganggu hujan yang turun tiba-tiba.

Dampak Tetap Terasa Meski Pusat Tekanan Rendah Jauh

Ari menambahkan, meskipun pusat tekanan rendah berada di luar wilayah Indonesia dan relatif jauh dari NTB, dampaknya tetap bisa dirasakan. Hal ini terlihat dari pembentukan awan hujan yang berlangsung cepat serta perubahan pola angin di permukaan.

Kondisi ini menandakan bahwa sistem atmosfer regional dapat memberikan efek berantai. Ketika pola angin di permukaan berubah, pembentukan awan dapat terjadi lebih cepat dan lebih luas. Masyarakat yang sebelumnya mengira cuaca akan stabil, bisa mendadak menghadapi hujan, terutama pada sore hingga malam hari.

Oleh sebab itu, kewaspadaan menjadi langkah paling realistis. Selain memantau perkembangan cuaca, masyarakat juga dapat menyiapkan langkah antisipasi sederhana, seperti membawa perlengkapan hujan, memperhatikan kondisi lingkungan sekitar rumah, serta memastikan saluran air tidak tersumbat.

BMKG Pantau Bibit Siklon Tropis 98S di Samudera Hindia

Selain itu, BMKG turut memantau kemunculan Bibit Siklon Tropis 98S di Samudera Hindia, tepatnya di sebelah selatan Yogyakarta. Sistem siklonik tersebut saat ini bergerak ke arah selatan hingga tenggara dan menjauhi wilayah Indonesia.

Meski peluang berkembangnya bibit siklon tersebut rendah, pemantauan tetap dilakukan sebagai bagian dari sistem peringatan dini. Perubahan kecil dalam dinamika atmosfer dapat mengubah kondisi cuaca dalam skala lebih luas, sehingga informasi terkini menjadi kunci.

BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi cuaca dan mengajak masyarakat untuk mengakses kanal resmi BMKG guna memperoleh data yang akurat dan terkini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua