Breaking

Reli Emas Sehari Tambah Nilai Setara Market Cap Bitcoin, Crypto Tertinggal?

GE
Senin, 02 Februari 2026
Reli Emas Sehari Tambah Nilai Setara Market Cap Bitcoin, Crypto Tertinggal?
Reli Emas Sehari Tambah Nilai Setara Market Cap Bitcoin, Crypto Tertinggal?

JAKARTA - Pasar keuangan global kembali menyorot satu hal yang jarang terjadi: emas melesat begitu agresif hingga kenaikan nilainya dalam sehari hampir menyamai seluruh kapitalisasi pasar Bitcoin. Di saat logam mulia menembus rekor baru, pasar crypto dan cryptocurrency justru tampak tertahan, bahkan cenderung melemah. Kontras ini langsung memantik diskusi lama yang kembali relevan—apakah Bitcoin masih layak disebut aset lindung nilai (safe haven) seperti emas?

Lonjakan emas terjadi dalam momentum ketika ketidakpastian ekonomi, tekanan inflasi, dan risiko geopolitik kembali menghantui pasar global. Dalam situasi seperti ini, investor umumnya mencari instrumen yang dianggap paling “aman” untuk menyimpan nilai. Emas pun kembali membuktikan daya tariknya sebagai pelabuhan utama. Sementara itu, Bitcoin yang selama beberapa tahun terakhir sering disandingkan sebagai “emas digital”, justru belum menunjukkan reaksi sekuat yang diharapkan.

Perbedaan arah ini bukan hanya soal angka harian, melainkan juga menyangkut psikologi pasar. Ketika investor ramai-ramai masuk ke emas, sentimen di crypto justru memasuki fase ketakutan. Dan saat narasi “debasement trade” sempat menjadi alasan utama mengapa Bitcoin diprediksi bakal melesat bersama emas, data terbaru menunjukkan cerita di lapangan tidak sesederhana itu.

Emas Meledak 4,4% dalam 24 Jam, Kapitalisasi Naik Rp25.195 Triliun

Harga emas melonjak sekitar 4,4 persen dalam 24 jam dan menembus level 5.500 dolar AS per troy ounce atau setara sekitar Rp92,38 juta. Lonjakan harga ini mendorong kapitalisasi pasar emas naik sekitar 1,5 triliun dolar AS dalam satu hari. Jika dikonversi, kenaikan tersebut setara sekitar Rp25.195 triliun. Secara total, nilai pasar emas kini mendekati 34 triliun dolar AS atau sekitar Rp571.098 triliun.

Kenaikan harian sebesar itu bukan sekadar reli biasa. Dalam satu hari perdagangan, emas berhasil “menambah” nilai pasar dalam skala yang biasanya hanya terjadi pada aset berkapitalisasi raksasa. Ini sekaligus mempertegas bahwa emas masih menjadi aset global yang likuid, dipercaya, dan paling cepat menjadi tujuan arus modal ketika pasar sedang gelisah.

Tak mengherankan bila reli ini langsung menjadi pembanding bagi aset lain, terutama Bitcoin yang sering dianggap sebagai alternatif modern dari emas.

Tambahan Nilai Emas Hampir Menyamai Total Kapitalisasi Bitcoin

Kenaikan harian tersebut hampir menyamai total kapitalisasi pasar Bitcoin yang berada di kisaran 1,75 triliun dolar AS atau sekitar Rp29.395 triliun. 

Perbandingan ini menyoroti skala dominasi emas di pasar global. Dalam satu hari perdagangan, emas mampu menambahkan nilai yang hampir setara dengan seluruh nilai Bitcoin. Fenomena ini memperkuat persepsi bahwa emas masih menjadi aset utama dalam menghadapi tekanan inflasi dan risiko geopolitik.

Perbandingan ini terasa “menampar” bagi narasi bahwa Bitcoin telah menjadi tandingan emas. Pasalnya, emas bukan hanya naik, tetapi naik dengan skala yang membuat nilai tambahnya setara market cap Bitcoin secara keseluruhan.

Dari perspektif investor tradisional, ini bisa memperkuat argumen lama: ketika dunia menghadapi ketidakpastian, emas tetap jadi pilihan pertama. Sementara aset digital, meski menjanjikan, masih dianggap lebih berisiko dan volatil.

Bitcoin Tertahan, Pasar Crypto Masih Terbayang Crash Oktober

Di tengah reli emas, Bitcoin justru mengalami tekanan dan diperdagangkan melemah. Sejak awal Oktober, pergerakan harga Bitcoin relatif stagnan setelah pasar crypto diguncang crash besar. Kejatuhan tersebut memicu likuidasi posisi senilai lebih dari 19 miliar dolar AS atau sekitar Rp319,14 triliun. Sejak saat itu, momentum kenaikan BTC belum sepenuhnya pulih.

Sebelum koreksi Oktober, banyak investor percaya Bitcoin dan emas akan sama-sama diuntungkan dari apa yang disebut sebagai debasement trade. Narasi ini berangkat dari kekhawatiran terhadap ekspansi moneter dan ketidakdisiplinan fiskal global.

Namun, data lima tahun terakhir menunjukkan emas justru mengungguli Bitcoin. Dalam periode tersebut, emas naik sekitar 185,3 persen, sementara Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 164 persen.

Fakta bahwa Bitcoin belum pulih sepenuhnya pasca crash memperlihatkan satu hal penting: kepercayaan pasar crypto sangat dipengaruhi sentimen dan peristiwa likuidasi besar. Ketika tekanan muncul, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset yang dianggap berisiko.

Sementara emas, meski tetap fluktuatif, punya reputasi panjang sebagai penyimpan nilai lintas generasi. Ini membuat emas lebih cepat mendapatkan aliran dana saat pasar global mulai defensif.

Optimisme Institusi Tetap Tinggi Meski Sentimen Pasar Crypto Ketakutan

Meski performa jangka pendek Bitcoin tertinggal, investor institusional tetap menunjukkan optimisme. Survei Coinbase mengungkapkan bahwa 71 persen institusi menilai Bitcoin masih undervalued di kisaran harga 85.000 hingga 95.000 dolar AS. Sekitar 80 persen responden bahkan menyatakan akan menahan atau menambah posisi jika pasar crypto turun 10 persen lagi. Sikap ini mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap cryptocurrency sebagai kelas aset.

Perbedaan pandangan investor juga tercermin dari indikator sentimen pasar. Crypto Fear & Greed Index saat ini berada di level 26 dari 100, yang menandakan zona ketakutan. Sebaliknya, indeks Fear & Greed untuk emas mencatat skor 99 dari 100, masuk kategori extreme greed. Kontras ini menggambarkan bagaimana kepercayaan investor saat ini lebih condong ke logam mulia dibanding aset digital.

Kontras ini menunjukkan adanya dua dunia dalam satu waktu: di permukaan, pasar crypto terlihat lesu dan diliputi ketakutan, tetapi institusi justru melihat peluang. Kondisi seperti ini sering menjadi penanda bahwa pasar sedang memasuki fase konsolidasi—di mana investor ritel cenderung waswas, sementara pemain besar mulai menghitung posisi jangka panjang.

Namun, tetap saja, data sentimen memperlihatkan bahwa arus kepercayaan terbesar saat ini sedang mengalir ke emas.

Safe Haven Lama Menang Cepat, Safe Haven Baru Masih Diuji

Lonjakan emas yang mampu menambah nilai hampir setara market cap Bitcoin dalam sehari menjadi simbol kuat: dalam situasi penuh ketidakpastian, pasar masih menempatkan emas sebagai safe haven utama. Sementara Bitcoin—meski punya pendukung kuat dan optimisme institusional—masih menghadapi ujian besar untuk membuktikan diri sebagai lindung nilai yang stabil.

Di tengah dinamika tersebut, investor pun kembali dihadapkan pada pertanyaan inti: apakah crypto benar-benar siap menjadi pelabuhan aman, atau justru masih lebih cocok diposisikan sebagai aset pertumbuhan dengan risiko tinggi? Untuk saat ini, reli emas seolah memberi jawaban sementara—pasar global masih memilih yang paling klasik ketika tekanan datang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua