Breaking

BPJS Kesehatan Kupang Gelar Prolanis Perdana 2026 untuk Peserta

GE
Senin, 02 Februari 2026
BPJS Kesehatan Kupang Gelar Prolanis Perdana 2026 untuk Peserta
BPJS Kesehatan Kupang Gelar Prolanis Perdana 2026 untuk Peserta

JAKARTA - BPJS Kesehatan Cabang Kupang mengawali tahun 2026 dengan menggelar kegiatan Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) pertama, yang berlangsung di Pelataran Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu 31 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi langkah awal penguatan layanan kesehatan promotif dan preventif, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan penyakit kronis secara teratur bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), khususnya mereka yang hidup dengan penyakit Diabetes Melitus (DM) dan Hipertensi (HT) atau tekanan darah tinggi.

Dengan suasana kebersamaan, kegiatan ini diisi senam sehat, edukasi kesehatan, serta skrining atau pemeriksaan kondisi tubuh bagi peserta Club Prolanis. Tidak hanya itu, momentum ini juga diperkuat dengan penandatanganan komitmen antara BPJS Kesehatan dan pihak Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) NTT sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan skrining dan tindak lanjut pemeriksaan peserta.

Prolanis Pertama 2026: Fokus Kelola Diabetes dan Hipertensi

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kupang, dr. Ario Trisaksono kepada RRI menyampaikan bahwa, saat ini yang dikelola dalam Prolanis adalah pasien-pasien dengan penyakit Diabetes Melitus dan Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi. Program ini mendapat respons baik, dengan partisipasi antusias dari 12 Puskesmas dan Klinik Pratama serta dokter praktek perorangan yang telah bekerja sama dengan BPJS kesehatan.

Ia menjelaskan bahwa setiap Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, masing-masing memiliki satu club Prolanis yang terdiri dari 30 orang baik itu pasien dengan penyakit DM maupun HT. Dengan sistem klub ini, peserta bisa dipantau secara lebih rutin, terarah, dan konsisten dalam menjalani perawatan serta perubahan pola hidup.

Prolanis sendiri bukan program sekali jalan, melainkan pendampingan berkelanjutan agar penyakit kronis tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat. Karena itu, kegiatan yang dilakukan di awal 2026 ini juga sekaligus mengingatkan peserta bahwa kontrol rutin adalah kunci menjaga kondisi tetap stabil.

Rangkaian Kegiatan: Edukasi, Senam Sehat, dan Pemeriksaan Berkala

dr. Ario menuturkan, kegiatan Prolanis sudah menjadi rutinitas yang diselenggarakan sebulan sekali di setiap FKTP. Rangkaian kegiatan Prolanis ini terdiri dari edukasi dokter/tenaga kesehatan yang ada di tingkat faskes, senam sehat bersama, serta pemeriksaan kesehatan.

Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya berolahraga bersama, namun juga mendapatkan pengetahuan langsung dari tenaga kesehatan tentang bagaimana mengelola penyakit kronis dengan benar. Edukasi ini penting, karena banyak pasien merasa sudah cukup dengan minum obat saja, padahal pola makan, olahraga, dan pemeriksaan rutin juga menjadi bagian besar dari keberhasilan pengendalian penyakit.

"Jadi Pasien yang menderita penyakit DM harus melakukan cek gula darah secara rutin maupun juga untuk penderita Hipertensi," ucap. Pernyataan ini menegaskan bahwa kontrol rutin bukan sekadar formalitas, melainkan upaya nyata untuk mencegah kondisi memburuk secara perlahan tanpa disadari.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kupang ini mengungkapkan bahwa dalam setahun, seluruh peserta Prolanis biasanya difasilitasi pemeriksaan kesehatan secara lengkap sebanyak dua kali yakni: kimia darah dan HbA1c. Pemeriksaan tersebut penting untuk memantau kondisi metabolik dan tingkat kontrol gula darah jangka panjang, terutama bagi pasien diabetes.

Skrining Riwayat Kesehatan dan Pemeriksaan Lanjutan di Labkesda NTT

Selain pemeriksaan rutin yang dilakukan dalam kegiatan Prolanis, dr. Ario juga menjabarkan bahwa para peserta Prolanis yang beresiko dari pelaksanaan skrining ini maka akan melakukan pemeriksaan sekunder di Labkesda NTT.

Dalam kesempatan tersebut peserta JKN telah berikan ruang untuk melakukan skrining riwayat kesehatan berupa pertanyaan-pertanyaan yang bisa diisi di mobile JKN/website/link BPJS Kesehatan. Melalui dasar tersebut, peserta Prolanis akan mengisi pertanyaan yang tersedia.

Hasil dari jawaban-jawaban yang ada, peserta bisa dikategorikan berpotensi dalam 14 resiko skrining atau tidak. Apabila peserta Prolanis ini ditemukan berpotensi terhadap 14 diagnosa itu, maka peserta tersebut akan dilakukan pemeriksaan tahap dua yang bisa dilakukan oleh laboratorium yang telah bekerja sama.

Lebih lanjut, apabila dari hasil pemeriksaan ini peserta terdiagnosa DM dan HT, maka peserta tersebut akan ikut menjadi peserta prolanis, yang setiap bulan dipantau kesehatannya. Dengan alur ini, Prolanis tidak hanya mengelola pasien yang sudah sakit, tetapi juga membuka pintu deteksi dini agar masyarakat yang berisiko dapat tertangani lebih cepat.

dr.Ario berharap, kegiatan Prolanis ini terus berjalan. Ia menegaskan kepada seluruh peserta JKN di NTT jika dalam skriningnya beresiko maka diperbolehkan untuk melanjutkan ke tahap dua atau jika berpotensi mengidap DM/Hipertensi pasien tersebut bisa rutin melaksanakan kegiatan Prolanis.

Ia menekankan bahwa dalam Prolanis akan diberikan banyak edukasi untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil (tidak bertambah parah) atau bisa menjadi baik sehingga penyakit yang dialami tidak mengarah kepada komplikasi. Ia menekankan bahwa jika penyakit tersebut tidak dideteksi sejak dini, kemungkinan besar akan menjadi pintu masuk untuk penyakit-penyakit kronis seperti: gagal ginjal, jantung, dan penyakit lainnya.

Penandatanganan Komitmen dan Arah Gubernur NTT

Selain kegiatan Prolanis, dilakukan juga Penandatanganan Komitmen antara Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah Bali, NTB, dan NTT, Mangisi Raja Simarmata dan Kepala UPTD Dinas Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi NTT Nur Azizah dalam upaya peningkatan layanan program promotif preventif.

Sementara itu, Gubenur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, yang hadir dalam kesempatan mengatakan, kegiatan Prolanis dan Penandatanganan Komitmen antara BJPS Kesehatan Wilayah Bali Nusra dan Labkesda NTT menjadi momentum penting dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis promotif dan preventif di Provinsi NTT.

"Kegiatan pada hari ini merupakan rangkaian dari upaya penguatan layanan promotif dan preventif, sekaligus bentuk komitmen bersama dalam mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan keluarga melalui pemanfaatan layanan skrining secara optimal," kata Gubernur Melkiades.

Menurutnya, kolaborasi yang terbangun antara BPJS Kesehatan, UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi NTT, dan seluruh mitra terkait merupakan bentuk komitmen bersama dalam menghadirkan layanan kesehatan yang terpadu, berkualitas, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

Gubernur NTT menegaskan pentingnya melakukan skrining riwayat kesehatan. Ia mengungkapkan skrining riwayat kesehatan merupakan program deteksi dini penyakit kronis melalui pemeriksaan kesehatan yang dilakukan melalui mobile JKN maupun website/link BPJS Kesehatan. Jika hasil dari pemeriksaan tersebut “berisiko” maka bisa dilakukan pemeriksaan skrining lanjutan oleh laboratorium, sehingga penyakit tersebut tidak bertambah parah.

"Dari proses skrining Riwayat Kesehatan ini kita dapat mendeteksi apakah peserta JKN beresiko atas penyakit kronis diantaranya diabetes melitus, hipertensi, gangguan fungsi ginjal, kolesterol, serta kondisi kesehatan lainnya yang sering berkembang tanpa gejala ataukah tidak," ucap Gubernur Melki.

Ia menuturkan, pelaksanaan skrining ini juga merupakan bentuk optimalisasi pemanfaatan Program Jaminan Kesehatan Nasional, khususnya melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan, sehingga pelayanan yang diberikan dapat berlangsung secara terstandar, terjamin pembiayaannya, serta dapat diakses secara luas oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Terkait dengan kegiatan tersebut, Gubernur Melki juga mengharapkan seluruh masyarakat untuk: melakukan skrining kesehatan secara rutin guna menemukan faktor risiko dan penyakit sejak dini; memastikan kepesertaan JKN dalam kondisi aktif; melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin setiap bulan di FKTP terdaftar; serta menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga teratur serta konsumsi makanan bergizi dan seimbang.

Lebih lanjut Melki menegaskan bahwa kesehatan merupakan modal utama dalam mewujudkan manusia yang produktif, profesional, dan berdaya saing, termasuk pula para ASN, pensiunan maupun seluruh masyarakat NTT. Ia mengemukakan masyarakat yang sehat akan mampu memberikan pelayanan publik secara optimal, berkelanjutan, dan berkualitas. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan tidak cukup jika hanya dilakukan ketika sakit, namun harus dimulai sejak dini melalui pencegahan dan deteksi dini penyakit.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kadis Kesehatan Provinsi NTT drg. Iien Adriany, dan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Atambua dr. Sarwika Meuseke.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua