Breaking

Jalur Nonaktif Kalisat–Bondowoso Berpeluang Hidup Kembali Tahun Ini

GE
Senin, 02 Februari 2026
Jalur Nonaktif Kalisat–Bondowoso Berpeluang Hidup Kembali Tahun Ini
Jalur Nonaktif Kalisat–Bondowoso Berpeluang Hidup Kembali Tahun Ini

JAKARTA - Harapan warga Jember dan Bondowoso untuk kembali menikmati layanan kereta api kian menemukan titik terang. Tingginya minat masyarakat terhadap moda transportasi massal ini membuat upaya reaktivasi jalur kereta api nonaktif di Jawa Timur mulai digarap lebih serius. Salah satu langkah penting yang kini telah dilakukan adalah pemetaan kondisi jalur lama secara detail, sebagai bekal awal sebelum jalur tersebut benar-benar bisa dioperasikan kembali.

Keseriusan ini ditandai dengan rampungnya kegiatan Survei Identifikasi Desain (SID) yang dilakukan Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya. Survei tersebut menjadi tahapan awal untuk membaca kondisi riil di lapangan, termasuk mendeteksi hambatan yang bisa muncul ketika jalur lama dihidupkan kembali.

Survei SID Jadi Tahap Awal Persiapan Reaktivasi Jalur

Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya telah menyelesaikan kegiatan Survei Identifikasi Desain (SID) sebagai langkah awal untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting jalur nonaktif lintas Kalisat–Bondowoso. Survei ini dilaksanakan pada Selasa (27/1/2026) dan berlangsung selama satu pekan.

Kegiatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi jalur nonaktif Kalisat–Bondowoso–Panarukan, yang mencakup banyak aspek penting mulai dari trase rel hingga kondisi lahan. Dengan survei ini, tim teknis bisa melihat secara langsung bagian-bagian jalur mana yang masih memungkinkan digunakan, dan titik mana yang perlu penanganan khusus.

Survei SID juga menjadi sinyal bahwa reaktivasi bukan sekadar wacana, melainkan mulai memasuki tahap persiapan yang lebih terstruktur dan berbasis data.

Pemetaan Kondisi Jalur: Rel, Jembatan, Stasiun, hingga Lahan

Dalam survei tersebut, tim melakukan identifikasi terhadap berbagai komponen jalur kereta. Mulai dari trase rel, jembatan, stasiun, hingga kondisi lahan di sepanjang lintasan, semuanya masuk dalam daftar pemeriksaan.

Tidak hanya itu, survei juga memetakan titik-titik yang mengalami kerusakan maupun lokasi yang mengalami perubahan fungsi. Hal ini penting karena jalur yang sudah lama tidak beroperasi umumnya menghadapi tantangan besar, seperti rel yang tertutup bangunan atau stasiun yang tidak lagi digunakan sebagai fasilitas perkeretaapian.

Selain pemeriksaan visual, survei turut mengumpulkan data teknis dasar yang nantinya menjadi rujukan awal untuk perencanaan lanjutan. Data itu meliputi panjang jalur, kondisi struktur prasarana, dan potensi kendala teknis jika jalur kembali diaktifkan.

Pengambilan Data Pakai GPS Agar Jalur Terpetakan Akurat

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, menyampaikan bahwa SID menjadi pondasi penting sebelum masuk pada survei lanjutan yang lebih mendalam.

Pemetaan berbasis GPS ini menjadi langkah strategis untuk memastikan hasil survei tidak hanya bersifat deskriptif, namun juga memiliki data spasial yang kuat. Dengan begitu, jalur mana yang steril, jalur mana yang terganggu, serta titik mana yang membutuhkan rekayasa teknis, dapat ditentukan dengan lebih presisi.

Hambatan Reaktivasi Mulai Teridentifikasi: Stasiun Beralih Fungsi hingga Jembatan

Menurut Denny, kegiatan SID ini sekaligus membantu mengidentifikasi berbagai hambatan yang akan muncul jika jalur kembali dioperasikan.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa tantangan reaktivasi bukan hanya soal menghidupkan rel yang lama mati, tetapi juga memastikan seluruh fasilitas pendukungnya aman dan sesuai standar. Jembatan misalnya, meskipun tampak masih berdiri baik, tetap harus diuji kekuatannya agar tidak menimbulkan risiko ketika dilalui kereta.

Selain itu, perubahan fungsi stasiun menjadi persoalan tersendiri, karena akan membutuhkan penertiban, pengembalian fungsi, atau bahkan pembangunan fasilitas baru bila bangunan lama sudah tidak bisa digunakan.

Jalur Dekat Permukiman dan Tak Lagi Steril, Perlu Koordinasi Lintas Pihak

Lebih lanjut, Denny menyebut bahwa kendala pembukaan kembali jalur Kalisat–Bondowoso kini sudah mulai terpetakan. Secara umum, trase jalur masih bisa dikenali, namun tantangan terbesar ada pada kondisi lingkungan sekitar.

Meski jalur relatif mudah dikenali, tetap dibutuhkan koordinasi lanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan. Sebab, sejumlah titik jalur berada dekat permukiman dan sudah tidak lagi steril.

Artinya, reaktivasi jalur kereta juga menyangkut kepentingan sosial masyarakat sekitar. Jika selama ini jembatan kereta dipakai sebagai akses warga, maka perlu solusi agar mobilitas masyarakat tidak terganggu saat jalur kembali aktif.

Jejak Sejarah Jalur Kalisat–Bondowoso–Panarukan Sejak 1897

Sebagai informasi, jalur kereta api lintas Surabaya Kota–Kalisat–Bondowoso–Panarukan merupakan jalur bersejarah yang dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1897.

Namun, segmen Kalisat–Bondowoso–Panarukan akhirnya berhenti beroperasi pada tahun 2004. Kini, setelah lebih dari dua dekade, jalur tersebut kembali dipertimbangkan untuk dihidupkan demi menjawab kebutuhan transportasi masyarakat dan mendorong konektivitas wilayah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua