Breaking

Koreksi Harga Emas dan Perak Tak Hapus Tren Kenaikan Global

GE
Senin, 02 Februari 2026
Koreksi Harga Emas dan Perak Tak Hapus Tren Kenaikan Global
Koreksi Harga Emas dan Perak Tak Hapus Tren Kenaikan Global

JAKARTA – Harga emas dan perak mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir, menyusul reli ekstrem sepanjang Januari. Meski aksi jual terlihat mengejutkan, para analis menekankan bahwa pergerakan ini bukan akhir dari tren kenaikan jangka panjang logam mulia, melainkan koreksi normal dalam siklus pasar yang sangat volatil.

Reli Januari Memicu Volatilitas Ekstrem

Menurut data Kitco, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.595,46 per ons troi pada Kamis, 29 Januari 2026, dengan kenaikan bulanan mencapai 29,5%. Sementara itu, perak menyentuh rekor di atas US$ 121 per ons, melonjak 68,5% sepanjang Januari. Lonjakan ini membuat pasar logam mulia sangat panas secara teknikal, sehingga koreksi di awal Februari tidak terhindarkan.

Neil Welsh, Head of Metals Britannia Global Markets, menuturkan, “Kami melihat volatilitas yang luar biasa tinggi di pasar logam dalam beberapa hari terakhir. Koreksi saat ini sebenarnya sudah dapat diprediksi mengingat kecepatan dan besarnya reli Januari.”

Koreksi Bukan Akhir Tren

Saxo Bank melalui Head of Commodity Strategy, Ole Hansen, menilai pergerakan harga yang ekstrem masih termasuk wajar bila ditinjau dari perspektif mingguan. “Pergerakan hari ini memang terlihat ekstrem, tetapi jika ditarik ke rentang satu minggu, ini masih tergolong normal bagi pasar emas yang belakangan berubah sangat emosional, mirip perak,” kata Hansen.

Matthew Piggott, Director of Gold and Silver Metals Focus, menyebut koreksi ini sebagai “healthy correction” atau penyehatan pasar, menekankan bahwa reli Januari adalah bentuk irrational exuberance yang biasa terjadi di puncak siklus jangka pendek.

Fundamental Masih Kuat Mendukung Logam Mulia

Meski terjadi koreksi, mayoritas analis sepakat bahwa tren jangka panjang tetap solid. Neil Welsh menekankan faktor makro yang mendorong logam mulia, mulai dari utang negara-negara G7 yang terus membengkak, melemahnya daya tarik dolar AS, hingga ketidakpastian perdagangan dan geopolitik, masih relevan. “Ini lebih menyerupai koreksi posisi di tengah tren naik, bukan akhir dari siklus. Logam mulia berpeluang tetap solid hingga 2026, meski dengan rentang harga lebih lebar,” ujarnya.

Ole Hansen memproyeksikan emas berpeluang menembus US$ 6.000 per ons hingga akhir tahun, sementara Piggott menekankan sulitnya menemukan faktor yang memicu aksi jual berkelanjutan, mengingat ketidakpastian global masih membayangi pasar.

Teknis dan Dukungan Harga

Market Strategy Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, menyoroti bahwa potensi emas menguji area dukungan di kisaran US$ 4.600 per ons, namun setiap koreksi dapat dipandang sebagai peluang beli. Analis FxPro, Alex Kuptsikevich, menambahkan level dukungan awal emas berada di sekitar US$ 4.700 per ons, menunjukkan area potensial bagi investor untuk masuk kembali.

Tekanan teknikal ini diperkuat oleh tingginya posisi spekulatif, leverage, dan aktivitas opsi. Welsh menegaskan, “Emas dan perak sudah berada pada kondisi teknikal yang terlalu panas. Kenaikan mendekati 20% untuk emas dan lebih dari 40% untuk perak, ditambah aktivitas spekulatif, merupakan ciri khas puncak jangka pendek.”

Peran Kebijakan Moneter dan Geopolitik

Koreksi harga juga dipengaruhi ekspektasi terhadap ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga. Pengumuman Presiden AS, Donald Trump, mengenai calon ketua The Fed, Kevin Warsh, memunculkan spekulasi. Warsh dikenal cenderung hawkish terhadap inflasi, tetapi analis menilai kepemimpinannya berpotensi membawa stabilitas baru. Tekanan politik terhadap bank sentral tetap tinggi, yang pada akhirnya menopang harga emas.

Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga pertama baru akan terjadi pada Juni 2026, dengan hanya dua kali pemangkasan sepanjang tahun, sementara BNP Paribas memproyeksikan The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Data inflasi AS terbaru, seperti PPI naik 3,0% dan PPI inti 3,3%, menambah kompleksitas kebijakan moneter, namun tidak mengubah sentimen bullish jangka panjang.

Kesimpulan: Koreksi Sebagai Peluang Masuk

Secara keseluruhan, koreksi harga emas dan perak saat ini dipandang sebagai bagian normal dari siklus pasar setelah reli ekstrem. Tekanan jual bukan akhir dari tren kenaikan, melainkan kesempatan bagi investor untuk memperkuat posisi. Dengan dukungan faktor makro, ketidakpastian geopolitik, dan risiko ekonomi global, logam mulia diprediksi tetap menjadi aset lindung nilai yang menarik sepanjang 2026.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua