Setelah Hampir Dua Tahun, Sudan Kembali Layani Penerbangan Domestik Khartoum
JAKARTA – Setelah hampir dua tahun terhenti akibat konflik bersenjata, Sudan akhirnya kembali membuka layanan penerbangan penumpang domestik menuju Bandara Internasional Khartoum. Pembukaan ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang pada April 2023, aktivitas penerbangan domestik kembali menyentuh bandara utama negara tersebut.
Langkah ini sekaligus menandai sinyal pemulihan bertahap, terutama bagi sektor transportasi udara nasional yang selama ini lumpuh akibat perang antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Bagi warga sipil, kembalinya penerbangan domestik ke Khartoum tidak hanya menjadi kabar baik dari sisi mobilitas, tetapi juga memberi harapan bahwa kehidupan perlahan kembali berjalan di ibu kota.
Media pemerintah menyebut, sebuah pesawat milik Sudan Airways mendarat di Bandara Internasional Khartoum setelah melakukan penerbangan dari Port Sudan. Penerbangan tersebut membawa penumpang sipil dan menjadi penerbangan domestik pertama yang tiba di bandara itu sejak layanan dihentikan hampir dua tahun lalu.
Penerbangan Pertama Sejak Konflik April 2023
Pembukaan kembali penerbangan domestik ke Khartoum ini terjadi untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada April 2023. Konflik tersebut melibatkan militer Sudan dan kelompok paramiliter RSF, yang kemudian memicu gangguan besar pada infrastruktur dan layanan publik, termasuk sektor penerbangan.
Mengutip Anadolu Agency, Senin, 2 Februari 2026, kantor berita pemerintah SUNA melaporkan bahwa penerbangan Sudan Airways yang mendarat di Bandara Internasional Khartoum menjadi penanda berakhirnya penghentian layanan penerbangan domestik akibat konflik.
Selama hampir dua tahun terakhir, aktivitas penerbangan domestik praktis tidak berjalan normal. Hal ini berdampak pada akses masyarakat antarwilayah, distribusi logistik, serta keterhubungan ibu kota dengan kota-kota lain di Sudan.
Pesawat Sudan Airways Terbang dari Port Sudan ke Khartoum
Media pemerintah melaporkan, pesawat Sudan Airways yang mendarat tersebut melakukan penerbangan dari Port Sudan. Kehadiran penerbangan ini dianggap sebagai langkah nyata mengaktifkan kembali jalur udara domestik yang sebelumnya terputus akibat situasi keamanan.
SUNA menyebut penerbangan tersebut membawa penumpang sipil. Fakta ini menunjukkan bahwa penerbangan bukan sekadar misi simbolis atau penerbangan khusus pemerintah, melainkan sudah mengarah pada pemulihan layanan publik untuk masyarakat umum.
Pendaratan pesawat ini sekaligus menjadi bukti bahwa Bandara Internasional Khartoum mulai dapat dioperasikan kembali, meski masih dalam tahap pemulihan bertahap. Bagi banyak warga, pembukaan kembali penerbangan ini juga akan membantu meringankan kesulitan perjalanan yang selama ini mereka alami sejak konflik dimulai.
SUNA: Komitmen Sudan Airways Jalankan “Peran Nasionalnya”
Dalam laporannya, SUNA menyatakan penerbangan ini mencerminkan komitmen Sudan Airways terhadap “peran nasionalnya”. Maskapai tersebut dinilai berupaya kembali mendukung transportasi udara, menghubungkan kembali kota-kota di Sudan, serta meringankan kesulitan perjalanan yang dialami warga sejak konflik berlangsung.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pembukaan penerbangan domestik tidak hanya memiliki arti komersial, melainkan juga dimaknai sebagai bagian dari upaya pemulihan nasional. Konektivitas antarwilayah menjadi kebutuhan mendesak, terutama di negara yang tengah menghadapi dampak konflik berkepanjangan.
Dengan adanya penerbangan dari Port Sudan menuju Khartoum, jalur udara domestik yang sebelumnya terputus kini mulai tersambung kembali. Kondisi ini diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat, baik untuk kepentingan keluarga, pekerjaan, maupun akses layanan publik.
“Tonggak Penting” Pemulihan Bandara dan Stabilitas Relatif Ibu Kota
Kantor berita SUNA juga menggambarkan langkah pembukaan kembali penerbangan ini sebagai “tonggak penting” menuju pemulihan bertahap operasional penerbangan di Bandara Khartoum. Pembukaan kembali bandara ini dinilai sebagai indikasi dimulainya fase baru pemulihan, di mana stabilitas relatif mulai terbentuk dan aktivitas kehidupan perlahan kembali ke ibu kota Sudan.
Dalam konteks negara yang dilanda konflik, pengaktifan kembali bandara utama memiliki makna besar. Bandara bukan hanya titik keberangkatan dan kedatangan, tetapi juga simbol bahwa fungsi-fungsi dasar negara mulai kembali berjalan. Dengan demikian, penerbangan domestik pertama ini dipandang sebagai sinyal bahwa Khartoum perlahan bergerak menuju normalisasi.
Meski begitu, proses pemulihan tetap dinilai bertahap dan memerlukan penguatan keamanan. Pasalnya, bandara tersebut sebelumnya termasuk fasilitas strategis yang sempat menjadi titik rawan akibat konflik.
Rencana Pembukaan Pernah Diumumkan, Namun Bandara Jadi Sasaran Drone
Sebelumnya, pada Oktober 2025, Otoritas Penerbangan Sipil Sudan sempat mengumumkan rencana pembukaan kembali Bandara Internasional Khartoum. Namun, bandara tersebut beberapa kali menjadi sasaran serangan pesawat nirawak.
Militer Sudan saat itu menyatakan berhasil mencegat drone yang diluncurkan RSF ke arah bandara. Serangan-serangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa rencana pembukaan kembali bandara tidak bisa langsung direalisasikan sepenuhnya.
Fakta bahwa bandara pernah menjadi target drone menunjukkan tantangan besar yang dihadapi pemerintah Sudan dalam mengembalikan operasional penerbangan. Infrastruktur bandara harus dipastikan aman agar layanan penerbangan sipil bisa berlangsung tanpa risiko.
Meski demikian, pendaratan pesawat Sudan Airways kali ini menjadi tanda bahwa upaya pemulihan mulai membuahkan hasil, setidaknya pada tahap awal.
Penutupan Bandara Internasional Khartoum selama hampir dua tahun terakhir telah menyebabkan gangguan besar terhadap mobilitas udara nasional, mengingat posisi strategis dan kapasitas bandara tersebut sebagai pusat penerbangan utama Sudan. Kini, dengan dibukanya kembali penerbangan domestik, Sudan memasuki fase baru dalam membangun kembali konektivitas nasional yang sempat terputus akibat perang.