Breaking

POPSI: Petani Sawit Panik Harga TBS Turun Ke Rp1.500 per Kg

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 25 Mei 2026
POPSI: Petani Sawit Panik Harga TBS Turun Ke Rp1.500 per Kg
ILUSTRASI, petani sawit (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - Ketua Umum Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto memaparkan bahwa gejolak mulai timbul di kalangan petani sawit pasca-pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai rencana ekspor sawit lewat pintu negara atau PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Menurut Mansuetus Darto, keadaan di lapangan menimbulkan kepanikan pada kalangan petani sawit swadaya serta pelaku usaha sawit di daerah lantaran belum pastinya mekanisme perdagangan sawit nasional ke depannya.

“Harga tandan buah segar (TBS) sawit anjlok drastis. Sebelum pidato Presiden, harga TBS masih di kisaran Rp 3.000–Rp 3.700 per kilogram. Setelah deklarasi tersebut turun menjadi sekitar Rp 1.500–Rp 2.500 per kilogram,” ujarnya, Minggu (24/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mansuetus Darto menyampaikan bahwa rata-rata kemerosotan harga TBS sawit menyentuh angka sekitar Rp 1.500 per kilogram hanya dalam waktu beberapa hari belakangan. Situasi ini diperparah oleh langkah banyak ramp atau tempat pengumpulan sawit yang lebih memilih untuk menyetop operasional mereka untuk sementara waktu.

Dampak dari situasi tersebut, para tengkulak dikabarkan tidak berani membeli sawit dari para petani. Bukan hanya itu, truk pengangkut pun menyetop operasionalnya, distribusi TBS menjadi terhambat, sampai buah sawit mulai menumpuk serta membusuk di wilayah perkebunan.

Menurut Mansuetus Darto, petani swadaya merupakan pihak yang paling terpukul karena amat bergantung terhadap hasil penjualan harian demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka.

Ia pun menganggap banyak pelaku usaha sawit memilih untuk menahan transaksi akibat khawatir terhadap pergeseran mekanisme perdagangan sekaligus potensi tambahan margin andai DSI masuk ke dalam rantai perdagangan sawit nasional.

“Kondisi ini membuat pelaku usaha menekan harga beli TBS di tingkat petani agar risiko mereka lebih kecil,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping masalah harga, para pelaku industri sawit di daerah pun mempertanyakan kesiapan DSI dalam mengelola perdagangan sawit global.

Beberapa poin yang menjadi sorotan di antaranya adalah jaringan pasar internasional, kesiapan infrastruktur perdagangan, sistem pembayaran, sampai kemampuan dalam menjaga stabilitas harga sawit di tingkat petani.

Mansuetus Darto juga memperingatkan bahwa ratusan pabrik kelapa sawit yang tidak mempunyai kebun sendiri berpotensi menemui hambatan dalam menjual crude palm oil (CPO) ke refinery di tengah tidak jelasnya kondisi pasar.

Apabila situasi ini terus berjalan, pabrik kelapa sawit dikhawatirkan bakal mengurangi pembelian TBS atau bahkan menyetop operasional untuk sementara. Keadaan tersebut berpotensi memicu petani sawit swadaya kehilangan akses untuk menjual hasil panen mereka.

POPSI mengumumkan bahwa produksi rata-rata petani swadaya mencapai kisaran 1.000 kilogram TBS per hektare per bulan, dengan total luas kebun swadaya nasional menyentuh angka sekitar 6,4 juta hektare.

Lewat asumsi tersebut, tiap penurunan harga senilai Rp 100 per kilogram diproyeksikan bisa memotong pendapatan petani swadaya sampai Rp 640 miliar per bulan.

Di sisi lain, kemerosotan harga TBS sawit di lapangan sejak tanggal 20 Mei hingga 23 Mei 2026 diinformasikan telah menyentuh kisaran Rp 1.500 per kilogram.

“Kami berharap kebijakan besar yang dibuat di pusat juga mempertimbangkan dampak nyata bagi petani kecil di daerah yang menjadi tulang punggung produksi sawit Indonesia,” ujar Darto, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua