Breaking

Pilah Pilih Saham Tambang Emas Paling Potensial Pilihan Analis

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 25 Mei 2026
Pilah Pilih Saham Tambang Emas Paling Potensial Pilihan Analis
Ilustrasi emas (Foto: NET)

JAKARTA – Sejumlah emiten yang bergerak di bidang pertambangan emas membukukan kinerja keuangan yang beragam sepanjang triwulan pertama tahun 2026. Fluktuasi harga emas di pasar global, volume permintaan emas oleh bank sentral dunia, hingga arah kebijakan suku bunga acuan dari The Fed akan menjadi serangkaian faktor utama yang menentukan performa emiten sektor komoditas ini ke depan.

Perusahaan yang memiliki porsi penjualan ekspor emas dalam volume besar diperkirakan bakal mendulang keuntungan lebih. Menanggapi situasi tersebut, beberapa analis memberikan rekomendasi saham untuk emiten-emiten pengelola tambang emas. Perhatikan pembahasan lengkap mengenai rekomendasi saham tersebut di bawah ini.

1. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 
Manajemen MDKA mematok target volume produksi komoditas sampingan berupa perak di kisaran 800 sampai 900 kilo ounce (koz), di mana strategi ini diharapkan dapat menekan biaya tunai operasional pada tambang emas Tujuh Bukit (TB gold) secara keseluruhan.

Lebih lanjut, sektor bisnis Nickel Pig Iron (NPI) diperkirakan bisa menopang akselerasi pertumbuhan pendapatan MBMA melalui perolehan harga jual rata-rata (ASP) yang lebih kuat serta volume penjualan yang lebih besar, dengan target mencapai kisaran 80 kiloton (kt) nikel (Ni) pada tahun 2026.

Selanjutnya, volume produksi untuk produk high-grade nickel matte (HGNM) diproyeksikan dapat menyentuh angka 37,5 kiloton (kt) pada tahun 2026, sementara margin tunai diperkirakan merangkak naik karena MBMA memanfaatkan momentum penguatan harga nikel yang dibarengi dengan fleksibilitas biaya yang lebih optimal dari internal.

Pada sektor bijih limonit, kami mengantisipasi lonjakan yang berarti dalam aktivitas penjualan bijih limonit menjadi 21–22 juta wet metric ton (WMT) pada tahun 2026, ditopang oleh ekspansi proyek 

Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) besutan PT ESG New Energy Material (ESG) dan PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC), yang diproyeksikan mengerek total kapasitas gabungan ke level 75 – 80 kiloton per tahun (ktpa), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi: Buy

Target harga: Rp 4.000

Analis: Devi Harjoto, OCBC Sekuritas dalam risetnya pada 18 Mei 2026

2. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 
Bumi Resources Minerals (BRMS) meraup nilai pendapatan bersih mencapai US$ 69 juta pada triwulan I-2026, di mana realisasi ini mendorong pertumbuhan laba bersih (NPAT) sebesar 21% secara year on year (YoY), serta meningkat 45% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ) hingga berada di posisi US$ 18 juta.

Fasilitas pabrik carbon-in-leach (CIL) kepunyaan BRMS saat ini sedang dalam tahapan pengerjaan untuk peningkatan kapasitas operasional dari yang awalnya 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari, dan ditargetkan selesai sepenuhnya pada Oktober 2026.

Agenda ekspansi kapasitas operasional pabrik CIL tersebut berpotensi menggenjot total produksi komoditas emas hingga menyentuh kisaran 80.000 ons pada tahun ini (UBSe: 79.000 ons). 

Tempat penambangan bawah tanah yang baru juga sedang dalam fase pengerjaan konstruksi dan direncanakan mulai aktif beroperasi pada paruh kedua tahun 2027. 

Situasi ini memberikan peluang bagi BRMS untuk mengolah bijih emas berkualitas tinggi dengan kapasitas kadar 3,5–4,9 g/t. Berdasarkan pertimbangan program peningkatan produksi emas tersebut, prospek jangka menengah BRMS dipandang tetap kuat.

Rekomendasi: Netral

Target harga: Rp 1.200

Analis: Igor Putra, UBS Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 1 Mei 2026

3. PT United Tractors Tbk (UNTR) 
Perolehan pendapatan bersih UNTR dari sektor usaha ini menyusut sebesar 76% menjadi Rp 692 miliar pada triwulan I-2026, situasi ini terutama disebabkan oleh nihilnya aktivitas penjualan emas yang berasal dari sektor tambang emas Martabe.

Pada lini bisnis pertambangan emas, UNTR melalui anak perusahaannya yaitu PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatatkan volume penjualan setara emas sebesar 4.000 ons troi pada triwulan I-2026, di mana jumlah tersebut merosot 93% yoy jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Manajemen perusahaan mengarahkan volume produksi di lokasi tambang emas Martabe berada di level 60.000 ons untuk tahun 2026, dan kegiatan produksi bakal dijalankan kembali mulai bulan Juni mendatang. Proyeksi ini sebenarnya telah diperkirakan oleh para pelaku pasar.

Kabar negatif yang cukup mengejutkan pasar yaitu adanya indikasi awal terkait target volume produksi untuk tahun 2027 yang ditetapkan sebesar 70.000 ons, di mana angka ini jauh lebih rendah daripada prediksi kapasitas produksi penuh yang sebelumnya diharapkan bisa menyentuh 200.000 ons.

Manajemen memberikan penjelasan bahwa proyek pengerjaan fasilitas penyimpanan tailing kering (dry tailing storage facility/TSF) yang baru mendapatkan kendala akibat bencana banjir bandang awal di wilayah Sumatera Utara pada akhir tahun 2025, serta semakin terhambat lantaran adanya penghentian operasional sementara di Martabe sepanjang kuartal pertama tahun 2026.

Saat ini, UNTR tengah menunggu terbitnya dokumen izin dari pihak pemerintah untuk memulai pengerjaan konstruksi pembangunan TSF baru tersebut, yang diperkirakan mulai berjalan pada bulan Juni, dan ditargetkan rampung seutuhnya pada akhir tahun 2027.

Rekomendasi: Overweight

Target harga: Rp 42.000

Analis: Arnanto Januri, JP Morgan Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 30 April 2026

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua