Breaking

Ekspansi Bisnis Energi, TMAS Bangun Pabrik LNG Kapasitas 5 Juta MMSCFD

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 03 Juni 2026
Ekspansi Bisnis Energi, TMAS Bangun Pabrik LNG Kapasitas 5 Juta MMSCFD
ILUSTRASI, TMAS (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Temas Tbk. (TMAS) tengah melebarkan sayap bisnisnya ke sektor energi melalui pembangunan fasilitas liquefied natural gas (LNG) atau gas alam cair. Fasilitas baru ini diproyeksikan akan mulai berjalan pada paruh kedua tahun 2026.

Direktur Business Development TMAS, Ganny Zheng, mengungkapkan bahwa ekspansi ke ranah LNG ini merupakan bagian dari taktik jangka panjang emiten demi memperkokoh ketahanan energi sekaligus menghadirkan keran pendapatan baru di luar pilar bisnis pelayaran dan logistik, sebagaimana dilansir dari berita sumber “Perseroan juga tengah mempersiapkan operasional pabrik LNG yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II/2026,” ujar Ganny dalam paparan publik, Selasa (2/6/2026).

Ganny menambahkan bahwa infrastruktur LNG ini nantinya dipersiapkan guna mencukupi kebutuhan bahan bakar bagi armada kapal TMAS sendiri, yang kini mulai beralih menggunakan LNG sebagai opsi bahan bakar yang lebih bersih ketimbang bahan bakar fosil konvensional.

Melalui anak usahanya, TMAS sekarang sedang membangun sarana liquefaction plant di wilayah Surabaya dengan volume produksi menyentuh angka 5 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Dalam mengeksekusi proyek strategis ini, emiten pelayaran tersebut menggelontorkan dana investasi atau belanja modal (capex) mencapai kisaran Rp1 triliun. 

Pabrik ini sengaja dirancang bukan cuma untuk memasok bahan bakar armada TMAS semata, melainkan juga diposisikan sebagai motor bisnis energi baru yang siap melayani kebutuhan pasar eksternal, sebagaimana dilansir dari berita sumber “Ini memberikan kemungkinan pengembangan bisnis energi bagi perseroan. Fasilitas LNG tersebut dapat memasok kebutuhan kapal-kapal TEMAS dan juga mendukung pengembangan bisnis lainnya,” katanya.

Ganny memaparkan bahwa langkah masuk ke bisnis LNG merupakan bagian dari cetak biru penciptaan nilai jangka panjang (long-term value creation) yang berorientasi pada aspek ketahanan energi. Ia menilai, melimpahnya cadangan gas di Indonesia memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi sumber energi domestik yang bernilai kompetitif bagi industri maritim. 

Manajemen memprediksi pemanfaatan LNG untuk bahan bakar kapal bakal terus melonjak seiring dengan tuntutan efisiensi operasional serta gerakan pemangkasan emisi karbon pada sektor pelayaran.

Di samping menyokong aktivitas operasional internal, TMAS memandang sektor LNG ini sebagai lini pendapatan baru yang menjanjikan untuk menopang tren pertumbuhan perusahaan selama beberapa tahun ke depan. 

Guyuran pendapatan perdana dari proyek ini diestimasi mulai masuk pada semester II/2026 dan akan memberikan kontribusi optimal pada tahun 2027, sebagaimana dilansir dari berita sumber “Kami melihat ini sebagai salah satu peluang penambahan pendapatan. Dengan pengembangan bisnis LNG, kami berharap ada kontribusi baru terhadap pertumbuhan pendapatan perseroan,” ujar Ganny.

Lebih lanjut, manuver ini dinilai berpeluang memperkuat rekam jejak TMAS sebagai pionir yang mengadopsi LNG pada industri maritim tanah air. 

Ganny menyebut bahwa ceruk pasar LNG bagi kebutuhan bahan bakar kapal masih terbuka sangat lebar di tengah meningkatnya urgensi akan energi yang ramah lingkungan, sebagaimana dilansir dari berita sumber “Kami melihat ini sebagai industri baru di sektor maritim, khususnya untuk penyediaan bahan bakar kapal. Indonesia memiliki sumber daya gas yang besar sehingga dapat menjadi basis pengembangan bisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang,” katanya.

Selain fokus menggarap bisnis LNG, TMAS tetap konsisten memperkuat bisnis utamanya melalui perluasan cakupan layanan logistik terintegrasi serta mendongkrak kapasitas pelabuhan. 

Berkolaborasi dengan PT Pelindo Terminal Petikemas, perseroan tengah merampungkan pengerjaan perluasan area dermaga di Tanjung Priok dari yang semula sepanjang 340 meter menjadi 485 meter. 

Langkah ini diambil demi menyokong lonjakan volume bongkar muat serta memperlancar kegiatan logistik dalam jangka panjang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua