IPO Prodia Diagnostic Line Incar Dana hingga 62,75 Miliar Rupiah
JAKARTA – PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL), yang merupakan anak usaha dari grup Prodia yang beroperasi dalam penyediaan peralatan kesehatan untuk diagnosis medis, tengah bersiap untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat mekanisme penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada bulan Juli 2026 mendatang.
Merujuk pada dokumen prospektus awal, Prodia Diagnostic Line bakal melepas sebanyak-banyaknya 522,9 juta lembar saham baru, atau setara dengan porsi 30% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah proses IPO bergulir.
Pihak perseroan pun telah menetapkan rentang harga penawaran di angka Rp100-Rp120 per lembar saham.
Berbekal kisaran harga tersebut, perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan ini berpeluang untuk menghimpun tambahan dana segar hingga mencapai Rp62,75 miliar melalui aksi korporasi tersebut.
Proses penawaran awal atau bookbuilding bakal dilangsungkan mulai tanggal 18 hingga 23 Juni 2026. Setelah itu, perusahaan menargetkan untuk mendapatkan surat pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 29 Juni 2026.
Sementara itu, untuk periode penawaran umum diperkirakan berjalan pada tanggal 1-7 Juli 2026, yang diikuti dengan tanggal penjatahan pada 7 Juli 2026.
Proses distribusi saham secara elektronik akan dilaksanakan pada 8 Juli 2026, sesaat sebelum saham dengan kode PRDL ini secara resmi tercatat dan mulai diperjualbelikan di lantai BEI pada tanggal 9 Juli 2026.
Di dalam perhelatan IPO ini, PRDL memercayakan posisi penjamin pelaksana emisi efek kepada PT Sucor Sekuritas.
Di samping menawarkan lembar sahamnya kepada masyarakat luas, perseroan juga mengadakan program penjatahan saham bagi para pegawainya atau Employee Stock Allocation (ESA) dengan jumlah sebanyak-banyaknya 36,6 juta lembar saham, yang mana nilai tersebut setara dengan 7% dari keseluruhan jumlah saham yang dilepas dalam momentum IPO.
Nilai nominal pelaksanaan untuk program ESA ini dipastikan bakal sama dengan nominal harga penawaran saham perdana.
Penggunaan Dana IPO
Pihak manajemen PRDL memaparkan bahwa porsi terbesar dari dana yang didapatkan dari hasil IPO ini bakal dimanfaatkan demi memperkokoh struktur permodalan perusahaan sekaligus menyokong langkah ekspansi operasional mereka.
Sebesar Rp35,67 miliar bakal dialokasikan khusus guna menuntaskan pembayaran pokok fasilitas kredit yang dimiliki perusahaan pada PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.
Berikutnya, kisaran 28,92% dana yang diperoleh dari IPO akan dipergunakan bagi keperluan belanja modal (capital expenditure/capex), yang mencakup antara lain pengadaan mesin serta alat-alat kalibrasi, penyediaan kendaraan operasional, pembelian sistem perangkat lunak (software), penataan ulang (relayout) pada area produksi, hingga pengadaan Air Handling Unit (AHU) untuk kebutuhan Laboratorium Biomolekuler.
Di sisi lain, kurang lebih sekitar 8,51% dana segar yang didapat dari aksi penawaran umum perdana saham tersebut bakal dipakai untuk menyokong modal kerja perusahaan. Aliran dana ini nantinya dialokasikan demi mendanai pasokan bahan baku, menyelenggarakan kegiatan riset serta pengembangan produk (product development), hingga membiayai agenda pemasaran serta penjualan.
Lewat langkah go public ini, PRDL menaruh harapan besar agar mampu memperkuat kedudukannya sebagai produsen peralatan kesehatan diagnostik di dalam negeri, sekaligus mendongkrak volume produksi serta pengembangan variasi produk demi menangkap peluang dari pertumbuhan permintaan terhadap layanan kesehatan di wilayah Indonesia.