Breaking

Pertamina Gandeng Boeing Garap Bahan Bakar Pesawat dari Limbah

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 09 Juli 2026
Pertamina Gandeng Boeing Garap Bahan Bakar Pesawat dari Limbah
ILUSTRASI, Pengembangan SAF diharapkan menekan emisi karbon sektor penerbangan dan memperkuat industri aviasi Indonesia. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) bersama produsen pesawat global, Boeing, secara resmi telah menyepakati Nota Kesepahaman (MoU) guna menggarap pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau yang dikenal sebagai bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Proses penandatanganan kesepakatan strategis tersebut dilakukan secara langsung oleh Direktur Utama dan CEO Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, bersama Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, di tengah berlangsungnya acara Indonesia Aero Summit (IAS) 2026.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kemenhub, Shokib Al Rokhman, yang hadir mewakili Direktur Jenderal Perhubungan Udara, mengungkapkan bahwa proses transformasi pada sektor penerbangan domestik memerlukan pijakan yang kokoh melalui investasi jangka panjang serta pemanfaatan teknologi terkini.

Langkah kolaborasi dalam memproduksi SAF ini dinilai selaras dengan target pemerintah demi memosisikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan industri aviasi terdepan di wilayah Asia Pasifik.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Shokib dalam pidato pembukaan IAS 2026 di Jakarta pada Rabu (8/7/2026) menyatakan, "Indonesia memiliki peluang besar, namun keberhasilan kami ditentukan oleh kemampuan membangun ekosistem penerbangan yang modern melalui kolaborasi kuat. Penyusunan master plan aviasi akan menjadi dasar agar kami mampu menjawab tantangan masa depan dan memperkuat daya saing global."

Upaya pengembangan SAF ini diproyeksikan mampu menekan angka emisi karbon secara masif di sektor penerbangan dalam negeri. 

Bukan hanya itu, program ini juga dipasarkan untuk menjaring minat para investor global agar ikut serta memperkokoh ekosistem dirgantara Indonesia, mulai dari sektor penyedia energi, industri perawatan pesawat (MRO), hingga sektor penciptaan sumber daya manusia.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyambut positif kerja sama yang terjalin dengan pihak Boeing dalam merintis bahan bakar pesawat yang bersumber dari bahan nabati ini.

Melalui kehadiran SAF, diharapkan tercipta diversifikasi baru dalam pola konsumsi bahan bakar sehingga tidak lagi bertumpu pada energi fosil.

Ia berpendapat bahwa di masa mendatang, SAF tidak boleh hanya dipandang sebagai alat pereduksi emisi semata, melainkan wajib dijadikan instrumen krusial dalam memperkuat cadangan bahan bakar, memvariasikan sumber pasokan, serta mendongkrak ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Simon menegaskan, "SAF (Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan) bukan lagi sekadar cerita tentang iklim; ini telah menjadi cerita tentang ketahanan energi."

Di lokasi yang sama, Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, menerangkan bahwa kemitraan yang dibangun bersama Pertamina turut mencakup kegiatan riset dalam memetakan potensi bahan baku lokal untuk memproduksi SAF, seperti penggunaan minyak jelantah, limbah cair kelapa sawit (POME), limbah padi, hingga limbah kelapa.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Indra menuturkan, "Kami percaya bahwa semua upaya ini akan membantu memperkuat kapabilitas teknis Indonesia, kesiapan pasar, dan kepemimpinan jangka panjang dalam penerbangan berkelanjutan tidak hanya di sini secara regional, tetapi saya ingin kami memiliki ambisi untuk memimpin pasar secara global."

Pihak Boeing sendiri tengah menggulirkan program BUILD (Boeing University Innovation Leadership Development) yang dijalankan lewat kolaborasi bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) serta PT Pertamina guna merumuskan formula pengumpulan limbah minyak yang diproyeksikan menjadi bahan dasar SAF.

Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA), Denon Prawiraatmadja, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi Pertamina dan Boeing tersebut.

Ia menilai, di kala industri aviasi tengah dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik dunia yang berat, inovasi teknologi berupa penerapan bahan bakar ramah lingkungan menjadi aspek yang sangat vital demi menjaga kelangsungan jalur konektivitas udara.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Denon memaparkan, "Dalam Indonesia Aero Summit 2026 ini, kami mendorong semua pihak untuk tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar, tetapi juga tempat untuk berinvestasi, khususnya di bidang teknologi yang terus berkembang. Melalui ekosistem yang kuat, kami bisa memastikan operasional penerbangan tetap berjalan meski menghadapi tekanan global."

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua