Resmi Stock Split, Saham RAJA Justru Melemah di Awal Perdagangan
JAKARTA - Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mengalami pelemahan pada awal perdagangan Kamis (16/7), bersamaan dengan efektifnya pelaksanaan pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:5, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Merujuk pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan saham RAJA merosot 2,72 persen menuju level Rp895 per unit sampai pukul 09.21 WIB. Nilai transaksi yang dibukukan menyentuh Rp87,93 miliar dengan volume perdagangan mencapai 97,05 juta saham.
Penurunan ini berlangsung setelah BEI secara resmi melakukan penyesuaian terhadap harga teoritis saham RAJA akibat dari adanya stock split.
Berdasarkan pengumuman resmi BEI pada 15 Juli 2026, harga penutupan RAJA saat akhir perdagangan cum date di pasar reguler berada di posisi Rp4.600 per saham, di mana nilai nominal lama tercatat sebesar Rp25 per saham.
Lantaran nilai nominal telah berubah menjadi Rp5 per saham, BEI menetapkan harga teoritis untuk saham RAJA pada perdagangan 16 Juli 2026 sebesar Rp920 per saham.
Proses penyesuaian ini pun diimplementasikan pada jumlah saham pasca-stock split sekaligus parameter perdagangan dalam sistem JATS.
Oleh karena itu, harga pembukaan pada aktivitas perdagangan setelah dilakukannya stock split berkiblat pada harga teoritis Rp920 per saham.
Koreksi yang terjadi pada saham RAJA pagi ini tampaknya memperlihatkan adanya aksi ambil untung (profit taking) investor setelah sempat mengalami reli yang cukup signifikan.
Terhitung sejak awal Juli sampai penutupan perdagangan hari Rabu (15/7), saham RAJA sudah mencatatkan penguatan kisaran 29 persen, sehingga sejumlah pelaku pasar menggunakan momentum efektifnya stock split ini untuk mencairkan keuntungan mereka.
Perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha Happy Hapsoro ini sebelumnya juga menyampaikan berita positif bagi para investor lewat keputusan pembagian dividen tunai.
Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 23 Juni 2026, perseroan memberikan persetujuan untuk membagikan dividen tunai senilai Rp274,17 billion yang diambil dari laba bersih tahun buku 2025 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD27,24 juta.
Akumulasi dividen yang disalurkan tersebut setara dengan Rp65 per saham. Jumlah ini mencakup dividen interim sebesar Rp25 per saham atau senilai Rp105,68 miliar yang sudah ditransfer pada 29 Januari 2026, beserta dividen final senilai Rp40 per saham atau setara Rp168,49 miliar yang bakal diserahkan kepada pemegang saham berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.
Bukan hanya itu, para pemegang saham turut menyepakati alokasi dana cadangan senilai Rp100 juta sesuai amanat Pasal 70 ayat (1) Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT).
Adapun sisa dari perolehan laba bersih akan dicatat sebagai laba ditahan demi memperkokoh struktur permodalan yang dimiliki oleh perseroan.