Breaking

91 Reksadana Saham Kalahkan IHSG, Return Tertinggi Capai 25,38 persen

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 13 Agustus 2026
91 Reksadana Saham Kalahkan IHSG, Return Tertinggi Capai 25,38 persen
Ilustrasi reksadana saham mencatat return lebih tinggi dari IHSG hingga Juli 2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Sejumlah reksadana saham berhasil melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Juli 2026. Kondisi tersebut menunjukkan peluang bagi manajer investasi untuk mencetak kinerja positif di tengah dinamika pasar global dan domestik.

Berdasarkan data Infovesta, sebanyak 91 produk reksadana saham mencatat return lebih tinggi dibandingkan kenaikan IHSG secara bulanan hingga Juli 2026. Sebagai pembanding, IHSG menguat 10,51% secara bulanan pada periode tersebut.

Salah satu produk dengan kinerja tinggi adalah Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A. Produk yang dikelola Henan Putihrai Asset Management (HPAM) tersebut membukukan return sebesar 14,06% secara bulanan hingga Juli 2026.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan, mengatakan Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A dikelola dengan pendekatan aktif yang menggabungkan analisis fundamental dan disiplin manajemen risiko.

Dalam kondisi pasar yang masih dipengaruhi dinamika global dan domestik, HPAM berfokus pada pemilihan saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik.

Pengelolaan portofolio juga dilakukan secara fleksibel agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi pasar.

"Dengan pendekatan tersebut, HPAM berupaya mengoptimalkan potensi imbal hasil sekaligus menjaga kualitas portofolio dalam jangka panjang," ujar Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reza mengatakan Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A berinvestasi pada berbagai sektor yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan baik dan didukung fundamental kuat. Pemilihan sektor dan saham dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi, prospek industri, valuasi, dan potensi pertumbuhan setiap emiten.

Pendekatan tersebut membuat portofolio tetap terdiversifikasi dan adaptif terhadap perubahan siklus ekonomi maupun dinamika pasar. Seiring perubahan kondisi pasar, komposisi sektor dalam portofolio dapat disesuaikan untuk menangkap peluang investasi yang dinilai paling menarik.

Strategi HPAM
Terkait target return Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A, Reza mengatakan HPAM tidak menetapkan atau menjanjikan target return tertentu sebagai manajer investasi. Kinerja reksadana sangat dipengaruhi dinamika pasar dan berbagai faktor ekonomi yang terus berkembang.

“Fokus kami adalah mengelola portofolio secara disiplin agar mampu menghasilkan kinerja yang optimal dalam jangka panjang melalui pemilihan saham-saham berkualitas dan pengelolaan risiko yang terukur,” terang Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ke depan, HPAM melihat prospek pasar saham Indonesia masih positif jika didukung stabilitas makroekonomi, kebijakan moneter yang kondusif, dan berlanjutnya aliran dana ke pasar domestik.

Dalam kondisi tersebut, HPAM akan tetap selektif memilih emiten dengan fundamental kuat, valuasi menarik, dan potensi pertumbuhan laba berkelanjutan.

"Dengan pendekatan tersebut, kami berharap dapat menciptakan nilai tambah (alpha) bagi investor dalam jangka panjang, bukan sekadar mengikuti pergerakan pasar,” imbuh Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan Fund Fact Sheet Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A per 31 Juli 2026, portofolio saham terdiri atas sektor basic materials sebanyak 28,1%, financial sebesar 25,4%, industrial sebesar 14,7%, banking (time deposit) sebanyak 11,6%, dan sektor lainnya sebesar 18,6%.

Strategi Samuel
Selain Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A, reksadana saham SAM Dana Saham Nusantara Kelas S milik Samuel Aset Manajemen juga mencatat return tinggi sebesar 25,38% secara bulanan hingga Juli 2026.

Portfolio Manager Samuel Aset Manajemen, Hernandi Wisnu Wardhana, mengatakan tekanan jual investor asing sepanjang tahun ini sudah cukup dalam. Kondisi tersebut membuat eksposur investor global terhadap Indonesia relatif rendah.

Basis yang rendah membuat setiap perbaikan sentimen berpotensi memberikan dampak cukup besar terhadap indeks.

“Setelah koreksi pasar pada semester pertama tahun ini, valuasi pasar saham telah berada pada level yang secara historis terbilang atraktif,” ujar Hernandi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hernandi menjelaskan strategi pengelolaan SDN Kelas S secara garis besar memadukan dua pendekatan.

Pertama, strategi semi-equal weighting diterapkan untuk membatasi ketergantungan kinerja portofolio pada segelintir saham. Pendekatan tersebut membuka ruang kontribusi dari saham-saham likuid di luar kelompok big caps sekaligus mengendalikan risiko konsentrasi.

Kedua, pengelola memilih saham dengan sensitivitas relatif tinggi terhadap siklus pasar. Karakteristik tersebut memberikan potensi upside lebih besar ketika pasar menguat, dengan konsekuensi volatilitas yang juga lebih tinggi.

Karena itu, pengelolaan portofolio membutuhkan disiplin ketat melalui pembatasan bobot setiap saham, review dan rebalancing secara berkala, serta penerapan manajemen risiko.

“Bagi kami, disiplin pada sisi eksekusi sama pentingnya dengan pemilihan sahamnya sendiri,” tutur Hernandi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saat ini, bobot terbesar portofolio SDN Kelas S berada pada sektor Basic Materials dan Energy. Sisa portofolio tersebar di sektor lain untuk menjaga diversifikasi.

Dari sisi likuiditas, kedua sektor tersebut menyumbang porsi signifikan terhadap nilai transaksi harian bursa. Bagi produk reksadana, likuiditas aset dasar portofolio menjadi pertimbangan yang tidak dapat diabaikan.

Dari sisi fundamental, sebagian harga komoditas, khususnya logam, masih bertahan di level yang relatif tinggi dibandingkan dengan historis. Pelemahan rupiah juga memberikan dukungan tambahan terhadap pendapatan emiten berorientasi ekspor dalam denominasi dolar AS.

Kombinasi kedua faktor tersebut berpotensi tercermin pada profitabilitas emiten terkait.

“Alokasi sektoral ini bersifat dinamis, kami menyesuaikannya mengikuti perkembangan siklus komoditas dan valuasi, sehingga posisi hari ini tidak otomatis menjadi posisi kami hingga akhir tahun,” jelas Hernandi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Proyeksi SDN Kelas S
Terkait target return SDN Kelas S hingga akhir tahun, Hernandi mengatakan asumsi dasar Samuel Aset Manajemen untuk proyeksi level IHSG pada akhir tahun berada di 7000 – 7300.

Berdasarkan asumsi tersebut, potensi kenaikan IHSG dari level saat ini berada di kisaran 9% - 14%.

“Dengan beta portofolio SDN Kelas S sebesar 1,4-1,5 kali, maka SDN Kelas S berpotensi berkinerja lebih baik dari indeks acuan (IHSG) apabila pasar pulih sesuai dengan asumsi dan scenario. Terakhir sebagai catatan, kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan atas kinerja di masa mendatang,” pungkas Hernandi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

 

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua